
"Tak... Ini daket Tak Aga ndak bawa?" Tanya Zeline menghampiri Naina yang sedang memakai sepatu kerjanya di teras rumah sambil menenteng paper bag berisi jaket Aga.
"Ya ampun... Kakak hampir saja melupakannya!" Ucap Naina menepuk jidatnya.
"Nih, Tak!" Ucap Zeline sambil menyerahkan paper bag pada Naina.
"Terimakasih ya, Dek." Ucap Naina lalu mengecup pipi bulat putrinya.
"Ya, Tak. Ni loh belum." Ucapnya menunjuk pipi kanannya yang belum dicium.
Naina tersenyum. "Sini." Ucapnya lalu membenamkan ciuman bertubi-tubi di pipi putrinya.
"Ahahaha.... Ahahaha...." Zeline tertawa-tawa karena merasakan geli akibat ciuman dari Naina.
"Nai... Kau belum berangkat juga?" Tanya Ibu yang sudah nampak rapi dengan atasan tunik yang dikenakannya.
"Ini mau berangkat, Bu." Balas Naina lalu melepaskan tubuh putrinya. "Kakak berangkat dulu ya, Dek." Ucapnya kembali mencium pipi putrinya.
Kepala Zel mengangguk. "Tepet pulang ya, Tak." Ucapnya tersenyum lucu.
"Iya, iya." Balas Naina.
"Berangkat dulu, Bu. Nai titip Zel ya, Bu." Ucap Naina sedikit pelan pada Ibunya.
"Iya... Hari ini Ibu bawa Zek ke toko Ayah lagi. Nungguin Ayah lagi siap-siap di kamar dulu."
Setelah berpamitan pada Ibunya, Naina pun segera berangkat mengendarai motor maticnya menuju perusahaan Alexander. Karena pagi itu Naina cukup datang lebih awal, akhirnya ia pun bertemu dengan Aga yang baru saja memarkirkan motornya di parkiran.
__ADS_1
"Pagi Kak Aga." Sapa Naina lalu membuka helm di kepalanya.
Aga mengangguk tanpa menjawab. Lalu turun dari motor besarnya.
"Tunggu dulu, Kak!" Ucap Naina menahan pergelangan tangan Aga.
Aga terhenti. Menatap pada tangan mungil Naina yang kini memegang lengan kekarnya. "Ada apa lagi?" Tanyanya dengan menunduk karena tubuh Naina jauh lebih pendek darinya.
"Ini, Kak..." Naina mengambil paper bag dari gantungan motornya. "Terimakasih jaketnya ya, Kak." Ucap Naina tersenyum manis.
Tanpa sadar Aga pun ikut tersenyum melihat senyuman manis Naina.
"Sama-sama." Ucapnya dan tanpa sadar kembali melakukan hal di luar dugaannya.
"Kak Aga..." Lirih Naina merasa kaget saat pria itu mengelus puncak kepalanya.
"Tadi Kak Aga?" Naina menggelengkan kepalanya. Tidak percaya akan perbuatan kecil Aga kepadanya.
*
Suasana di dalam ruangan divisi Humas pagi itu sedikit canggung akibat perlakuan tiba-tiba Aga tadi pagi. Naina yang duduk di kursi paling belakang nampak sesekali menatap pada punggung kokoh Aga yang nampak fokus mengerjakan pekerjaannya di layar komputer.
"Nai... Apa kau ingat besok hari apa?" Tanya Sasa dengan pelan karena saat ini mereka sudah masuk pada jam kerja.
Naina menatap pada Sasa. "Besok hari sabtu." Balas Naina apa adanya.
"Bukan begitu maksudku." Sasa nampak menggerutu pelan.
__ADS_1
"Jadi?" Sebelah alis Naina nampak terangkat.
"Besok adalah hari weekend." Tekan Sasa.
"Iya, lalu?" Naina masih tidak mengerti.
"Bagaimana kalau besok kita lari pagi di taman kota? Dua bulan sekali di divisi ini biasanya melakukan perkumpulan dalam sehari bersama untuk meningkatkan kekompakan di antara kita." Ucap Sasa. "Dan bagaimana jika perkumpulan itu kita lakukan besok? Satu hari bersama tim divisi Humas?" Tawar Sasa.
Naina terdiam dan berpikir.
"Bagaimana Nai?" Tanya Sasa karena Naina masih terdiam.
"Boleh... Aku akan ikut besok pagi." Balas Naina tersenyum.
Mendengar jawaban Naina membuat Sasa mengembangkan senyumannya.
Tapi... Bagaimana jika Zeline minta ikut? Batin Naina merasa bingung.
***
Selamat membaca☺
lanjut??
Mohon beri dukungan untuk karya author dengan cara memberikan like, komen dan votenya☺
Semakin banyak dukungannya... Maka author juga makin semangat upnya, hihi☺☺
__ADS_1
Buat mengetahui jadwal update, kalian bisa bergabung di grup chat author, ya☺