Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Dia memang seperti itu


__ADS_3

"Daniel... Apa kau tidak ingin berpamitan pada Naina?" Tanya Bibi Hasna karena sejak tadi Daniel hanya diam namun tatapan matanya menatap tak ramah pada Naina.


"Aku rasa tidak." Balas Daniel dengan dinginnya.


Mendengar jawaban putranya membuat Bibi Hasna merasa tak enak pada Naina dan Aga.


Daniel pun mendekat pada Aga. "Aku pulang dulu, Kak. Selamat atas hubungan barumu." Ucap Daniel pada Aga yang dibalas Aga dengan senyuman tipis. Walau merasa tidak suka dengan sikap Daniel, namun Aga cukup paham dengan sikap Daniel yang memang sudah menjaga jarak dengan wanita lain semenjak ia menjalin hubungan dengan Queen.


Setelah mendapatkan balasan dari Aga, Daniel pun berpamitan pada Papa Andrew dan Agatha lalu berjalan keluar meninggalkan Bibi Hasna yang masih bercerita sejenak dengan Agatha.


"Maafkan sikap Daniel ya, Naina. Daniel memang seperti itu pada orang yang baru dikenalnya." Ucap Bibi Hasna merasa sungkan.


"Tidak masalah, Bibi." Naina mengelus punggung tangan Bibi Hasna. Namun perkataan Bibi salah. Karena aku dan Daniel bahkan telah lama saling mengenal. Ucap Batin Naina.


"Sekali lagi Bibi minta maaf, kalau begitu Bibi pamit pulang dulu." Ucap Bibi Hasna yang diangguki oleh Naina.


"Bibi... Sampaikan salamku pada Kak Dara dan suaminya, ya." Ucap Agatha sebelum Bibi Hasna berbalik.


"Baiklah... Bibi akan menyampaikannya." Balas Bibi Hasna.


Aga, Naina, Agatha dan Papa Andrew pun mengantarkan kepulangan Bibi Hasna sampai di depan di rumah.


"Apa kau sudah ingin pulang?" Tanya Aga pada Naina setelah mobil yang dikendarai Daniel lenyap dari pandangan mereka.

__ADS_1


Naina mengangguk mengiyakan.


"Papa... Agatha... Aku akan mengantarkan Naina pulang dulu." Ucap Aga pada ayah dan adiknya.


"Apa Kakak akan menginap di sini malam ini?" Tanya Agatha penuh harap.


Aga mengangguk. "Setelah mengantarkan Naina, Kakak akan kembali lagi ke rumah." Ucap Aga yang membuat Agatha begitu senang mendengarnya. "Ayo!" Ajak Aga pada Naina.


Naina mengangguk lalu berpamitan pada Papa Andrew dan Agatha.


"Kapan-kapan main lagi ke sini ya, Kak." Pinta Agatha pada Naina sebelum Naina masuk ke dalam mobil.


"Baiklah. Jika ada kesempatan Kakak akan kembali lagi." Balasnya tersenyum lalu masuk ke dalam mobil.


*


Naina mengangguk. "Nai baru saja sampai, Bu." Balasnya.


"Ayo duduk dulu, Nai. Ada yang ingin Ibu bicarakan denganmu." Ucap Ibu membawa Naina duduk di sofa ruang tamu.


Di ruang tamu, Amara yang tadi membukakan pintu untuk Naina nampak duduk sambil memainkan ponselnya.


"Ada apa, Bu?" Tanya Naina menangkap jika Ibunya ingin membicarakan sesuatu. Pertanyaan Naina pun membuat Amara menghentikan aktivitasnya lalu menatap pada ibunya.

__ADS_1


"Naina... Kau masih ingat bukan jika dua hari lagi Ibu dan ayah akan pergi ke kampung ayahmu untuk menghadiri acara pernikahan anak Bibi Ajeng?" Tanya Ibu.


Naina mengangguk.


"Lalu bagaimana dengan Zeline? Apa kau tidak masalah jika Ibu membawanya ikut bersama Ibu dan Ayah?" Tanya Ibu.


Naina terdiam sesaat. "Nai tidak bisa berjauhan dengan Zeline terlalu lama, Bu." Ucap Naina dengan sendu.


"Lalu bagaimana dengan Zeline jika tidak ikut dengan Ibu, Nai? Kau akan sibuk bekerja dan Amara juga masih ada urusan pergi ke kampusnya." Terang Ibu.


"Biarkan Zeline tetap tinggal, Bu. Amara akan menjaga Zel saat Kakak bekerja. Amara sudah tidak ada ke kampus lagi, Bu. Lagi pula Amara tidak yakin jika Zel mau pergi tanpa Kakak, Bu." Timpal Amara.


***


Lanjut lagi?


Vote


Komen


Like😌


***

__ADS_1


__ADS_2