Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Dingin-dingin perhatian


__ADS_3

"Kak Aga... Sedang apa Kakak di sini?" Tanya Naina merasa heran saat pria itu sudah berada di dekatnya.


"Ayo masuk!" Perintah Aga dengan nada dinginnya sambil memayungkan tubuh Naina dan Zeline.


"Masuk?" Naina nampak bingung. Begitu pula dengan Zeline yang kini menatap intens teman pria kakaknya.


"Apa kau masih mau berteduh di sini hingga larut malam? Atau kau lebih memilih untuk masuk ke dalam mobilku dan aku akan mengantarkanmu dan adikmu pulang." Terang Aga.


"Tapi bagaimana dengan motorku?" Naina nampak bingung.


Duar


Suara petir yang terdengar cukup kuat membuat Zeline terkejut hingga kembali menangis.


"Hua... Tak..." Zeline semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Naina.


"Ayo masuk!" Titah Aga saat melihat Naina masih meragu.


"Tapi motorku—"


"Orang suruhanku nanti akan membawanya pulang ke rumahmu!" Ucap Aga menangkan pemikiran Naina.

__ADS_1


Naina menghela nafasnya. Meskipun ragu, Naina tetap menuruti perintah Aga karena tak tega mendengar putrinya menangis tersedu-sedu.


"Bluang, Tak." Seru Zeline saat Naina hendak menutup pintu mobilnya. "Ambil dulu itu Tak." Pinta Zeline tak terima jika bonekanya ditinggal begitu saja.


"Agh, Iya." Naina hendak kembali turun dari dalam mobil. Namun suara Aga berhasil menghentikan niatnya.


"Biar aku saja!" Ucap Aga lalu kembali keluar dari dalam mobil.


Mobil pun mulai melaju menembus derasnya hujan malam itu. Di dalam mobil hanya terdengar suara Zeline yang bergumam kedinginan karena baju gadis kecil itu sedikit basah terkena air hujan.


"Pakaikanlah jaket ini untuk adikmu." Titah Aga menyerahkan jaket yang ia ambil di kursi sampingnya kepada Naina yang duduk di belakangnya.


"Tapi..." Naina nampak bingung.


Naina terdiam. Namun sedetik kemudian menuruti perintah Aga memakaikan jaket pria itu ke tubuh putrinya.


"Halum na, Tak..." Ucap Zeline memeluk erat jaket Aga yang sudah melekat di tubuhnya. "Maci lo Om Danteng!" Ucap Zeline menatap wajah Aga dari kaca spion dengan wajah polosnya.


"Om Danteng?" Naina mengulang ucapan Zeline lalu melipat bibirnya.


Di depan kemudinya, Aga nampak mengeram kesal karena bocah kecil itu memanggilnya dengan sebutan Om sedangkan pada Naina memanggilnya dengan sebutan Kakak.

__ADS_1


"Om... Maci lo..." Ucap Zeline lagi saat Aga tak menggubris ucapannya.


"Iya. Sama-sama." Balas Aga dengan datar.


*


"Naina... Zeline..." Ibu nampak berjalan tergesa-gesa menuju pintu rumah saat mendengarkan salam dari anaknya. "Kalian tidak apa-apa?" Tanya Ibu begitu cemas pada anak dan cucunya.


"Nai dan Zeline tidak apa-apa, Bu. Kami hanya terjebak hujan saat perjalanan pulang." Jelas Naina.


"Syukurlah... Lalu dimana motormu, Nai? Dan... Siapa pria ini?" Ibu menatap Aga yang sedang menggendong Zeline yang sedang tertidur dari atas sampai bawah.


"Motor Nai masih berada di ruko tempat kami berteduh, Bu... Dan pria ini adalah Kak Aga, rekan kerja Naina di perusahaan." Jelas Naina.


Ibu mengangguk paham. "Ayo masuk dulu." Ajak Ibu mempersilahkan mereka untuk masuk.


"Ayo masuk Kak." Ajak Naina pada Aga yang masih berdiam sambil menggendong Zeline yang tertidur.


Aga mengangguk. Lalu mengikuti langkah Naina masuk ke dalam rumahnya.


"Naina... Kau tidak apa-apa, Nak?" Ayah yang baru saja keluar dari dalam kamarnya nampak terlihat cemas saat melihat baju putrinya yang basah dan Zeline yang tertidur di gendongan Aga.

__ADS_1


***


Komen, like dan vote dulu manyak-manyak yuk... Nanti aku lanjut lagišŸ˜


__ADS_2