
"Inda dali mana-mana. Zel tadi sana itu liat baju untuk Zel." Ucapnya menunjuk pada toko baju anak yang tadi ia datangi. "Tak Mala dan Ibu lama sekali. Zel jadi main sana tadi." Lanjutnya lagi.
"Daniel..." Ibu yang berdiri di belakang Amara nampak terkejut melihat sosok Daniel ada di depan matanya. Begitu pula dengan Amara yang merasa tak asing dengan pria di depannya.
"Bibi..." Balas Daniel tersenyum pada Ibu. "Perkenalkan ini Mama saya." Ucap Daniel pada Ibu Fatma.
Ibu Fatma pun tersenyum pada Mama Hasna.
"Hasna." Ucap Mama Hasna sambil mengangguk karena tangannya masih menahan tubuh Zeline di gendongannya.
"Fatma. Saya Ibu dari Zeline." Ucap Ibu Fatma yang diangguki paham oleh Mama Hasna.
"Kenapa Zeline bisa bersamamu?" Tanya Ibu Fatma memasang wajah waspada pada Daniel. Entah mengapa Ibu juga turut merasa takut jika Daniel memgambil cucunya tanpa seizinnya walau pun itu tidak mungkin melihat Daniel yang begitu menyayangi anaknya.
"Maaf Bibi. Saat sedang berjalan bersama Mama saya, tiba-tiba saja Zel datang menghampiri saya." Balas Daniel tak ingin Bu Fatma salah paham.
__ADS_1
"Zeline ayo turun. Kasihan Bibinya keberatan menggendongmu." Ucap Amara lalu mengambil tubuh Zeline dari gendongan Mama Hasna.
"Tadi Zel liat Tak Niel jalan di sana, Bu. Jadi Zel sampelin itu." Ucap Zeline setelah berdiri di samping Ibu.
Ibu mengangguk paham lalu menatap pada Daniel dan Mama Hasna bergantian. "Terimakasih sudah menjaga Zeline. Kalau begitu kami pamit kembali ke dalam dulu." ucap Ibu.
Daniel dan Mama Hasna mengangguk.
"Ayo Zeline." Ucap Amara lalu menggandeng tangan mungil Zeline.
"Daniel..." Mama Hasna menepuk pundak putranya yang masih terdiam menatap kepergian Zeline.
"Iya, Ma." Balas Daniel setelah memutuskan pandangannya dari Zeline.
"Ayo jalan. Nanti Dara terlalu lama menunggu kita di dalam mobil." Ucap Mama Hasna yang diangguki oleh Daniel.
__ADS_1
*
Aku baru ingat jika pria itu adalah teman pria Kak Naina. Dan pria itu juga yang aku temui di taman bermain bersama Zeline waktu itu. Batin Amara sambil menatap punggung Daniel yang mulai menjauh dari pandangannya. Kenapa postur tubuhnya sangat asing sekali? Amara kembali membatin lalu mengingat-ingat.
"Bukankah dia?" Amara pun segera mengejar langkah Ibunya yang sudah berjalan menuju deretan baju yang tadi di pilihnya.
"Ibu... Apa Ibu juga pernah bertemu dengan pria tadi? Kenapa Ibu bisa tahu dengan namanya?" Tanya Amara saat sudah berada di dekat ibunya.
"Ibu pernah sekali bertemu dengannya saat sedang membeli martabak satu minggu yang lalu. Ada apa Amara?" Tanya Ibu merasa heran melihat wajah bingung Amara.
"Mara baru mengingat jika postur tubuhnya sangat mirip dengan tubuh pria yang sempat mengintip di ruang rawat Zeline waktu itu." Amara pun menceritakan apa yang ia lihat pada ibunya saat Zeline dirawat. "Entah mengapa Mara merasa jika pria itu adalah pria yang membayar biaya rumah sakit Zeline." Ucap Amara.
"Apa kau tidak salah lihat? Mungkin saja bukan dia. Banyak pria yang memiliki postur tubuh sepertinya Amara." Balas Ibu tak ingin Amara berpikir macam-macam. Walau pun setelah medengarkan ucapan Amara Ibu pun turut yakin jika Daniel lah yang membayar biaya rumah sakit cucunya.
*
__ADS_1
Lanjut?