
"Om Aga..." ucap Zeline dengan manja lalu mengulurkan kedua tangannya pada Aga. Aga pun segera mengambil alih tubuh Zeline untuk menggendongnya.
"Kenapa menangis, hem?" Aga mengusap-usap kepala Zeline.
"Olang nangis semua itu..." adu Zeline disela tangisannya.
"Orang-orang menangis bahagia karena Mama dan Papa Zel akhirnya menikah." Tutur Aga.
Zeline mengangkat wajahnya untuk dapat melihat wajah Aga. "Om napa inda nangis?" Zeline mengusap pipi Aga. Wajahnya nampak bingung memperhatikan wajah Aga yang tidak basah.
"Karena Om tidak bisa mengekspresikan kebahagiaan Om dengan menangis." Terang Aga.
Zeline mengalihkan pandangannya pada Ayah dan Pamannya. "Kakek inda nangis juga itu." Menunjuk wajah Ayah yang tengah tersenyum pada keluarga Daniel.
Aga hanya tersenyum. Ayah Arif memang sudah tidak menangis lagi setelah bersalaman dengan Naina dan Daniel. Di tengah interaksi Aga dan Zeline, Amara terlihat tengah menahan jantungnya agar tidak keluar kerena sejak tadi berdegub begitu kencang karena dekat dengan Aga. Terlebih Amara dapat melihat dengan jelas setiap pahatan yang hampir sempurna di wajah Aga yang selalu membuatnya terpesona.
__ADS_1
Kak Aga... kau sungguh tampan. Amara tak henti mengagumi rupa Aga dalam hati.
*
"Mamah... Papah..." Zeline berlari ke arah Daniel dan Naina yang kini tengah tersenyum ke arahnya.
Daniel sontak berjongkok lalu merentangkan kedua tangannya saat Zeline sudah berada di dekatnya. "Putri Papah cantik sekali..." Daniel menanamkan ciuman bertubi-tubi di pipi Zeline. Daniel pun kembali berdiri sambil menggendong Zeline. "Kau ingin mencium putri kita?" Tawar Daniel.
Naina dengan cepat mengangguk. "Putri Mamah..." Naina turut memberikan ciuman bertubi-tubi di pipi Zeline hingga membuat Zeline tertawa kegelian.
"Zel seneng ini nanti malam sudah bisa bobo sama Papah dan Mamah." Ucap Zeline dengan tersenyum lebar hingga menampilkan deretan giginya.
"Naina, Daniel, ayo keluar untuk menyambut tamu yang sudah datang." Ucap Ibu dari arah belakang.
"Baik, Bu." Balas Naina dan Daniel hampir bersamaan. Daniel dan Naina pun keluar dari dalam rumah untuk menghampiri keluarga dan teman-teman mereka yang sedang menunggu di luar rumah.
__ADS_1
"Aku masih tidak menyangka jika Tuan Daniel adalah Ayah dari putri Naina." Thoriq menggelengkan kepalanya menatap pada Daniel dan Naina yang sedang bersalaman dengan keluarga Naina yang baru datang dari desa.
Sasa mengangguk membenarkan. "Pantas saja warna mata Zeline dan Tuan Daniel begitu mirip. Ternyata karena mereka adalah ayah dan anak." Tambah Sasa.
"Kau benar. Aku sempat berpikiran dulu jika Zeline bukanlah adik Naina. Dan ternyata dugaanku benar." Timpal Dimas.
Sasa mengalihkan tatapannya pada Dimas. "Apa kau tidak memikirkan perasaan Aga saat ini?" Tanya Sasa.
"Tentu saja aku memikirkannya. Namun aku tahu Aga adalah pria yang bijaksana. Dia pasti sudah memikirkan keputusannya sebelum meminta Naina menikah dengan ayah dari anaknya. Terlebih Aga begitu sangat menyayangi Tuan Daniel sejak kecil walau mereka hanya sepupu." Terang Dimas.
Pandangan mereka pun kini tertuju pada Aga yang terlihat tengah berbincang dengan Amara di depan rumah.
"Kau lihatlah betapa besarnya hati Aga. Dia dengan besar hati datang di acara pernikahan Naina yang notabenenya adalah mantan kekasihnya. Bahkan dia tidak menunjukkan ekspresi tidak suka sedikit pun di acara ini." Sasa berdecak kagum melihat kebesaran hati seorang Aga.
***
__ADS_1
Siapa ya jodoh Kak Aga?
Lanjut? Ayuk berikan dukungannya dengan cara like, komen dan votenyağŸ«