
Sore harinya Naina pulang dari perusahaan menuju rumahnya dengan wajah tak bersemangat. Bagaimana tidak, seharian ini ia berada di ruangan kerjanya dengan perasaan bersalah yang teramat pada Aga yang telah mengorbankan hubungan mereka demi kebahagiaan putri kecilnya. Walau pun Aga memasang wajah biasa saja kepadanya, namun Naina dapat merasakan kesedihan yang dirasakan mantan kekasihnya itu.
Setelah melewati perjalanan yang cukup lama karena kemacetan padat di pusat kota, akhirnya motor Naina pun di depan rumah.
"Bukannya ini mobil Daniel?" Naina menatap sebuah mobil yang terparkir di depan rumahnya. Setelah memasukkan motornya di garasi, Naina buru-buru melangkah masuk ke dalam rumahnya.
"Mamah... Mamah dah pulang?" Zeline nampak berlari dari ruang tengah ke arah Naina yang baru saja masuk ke dalam rumahnya.
Naina pun berjongkok lalu menangkap tubuh putrinya. "Zeline... putri Mama sudah cantik sekali." Naina mengecup kedua pipi putrinya secara bergantian.
"Ehe..." Zeline tertawa geli saat Naina mencium lehernya. "Zel tantik gini Ma?" Tanyanya sambil menggoyangkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan.
Naina tersenyum. "Putri Mama cantik sekali." Puji Naina.
"Nty Mala ini Ma yang pakaiin baju." Balas Zeline.
"Ooh..." Kepala Naina mengangguk. Naina pun teringat dengan mobil Daniel yang terparkir di depan rumahnya. "Apa Papa ada di sini?" Tanya Naina sambil mengelus rambut putrinya.
Kepala Zeline mengangguk. "Ada Mah. Papah itu kamal mandi."
"Ada apa Papa datang ke sini?" Tanya Naina kemudian. Naina pun membawa tubuh Zeline untuk duduk di atas sofa.
__ADS_1
"Mamah... Papah itu malam nanti mau ajak main sama Om danteng." Adu Zeline dengan wajah malu-malu.
"Om danteng?" Tanya Naina dengan kening mengkerut.
"Ya Ma."
"Apa Om Aga?" Tanya Naina lagi.
Kepala Zeline menggeleng. "Inda Ma. Om danteng teman Papah itu." Adu Zeline.
"Teman Papa? Siapa?"
"Om danteng Mavel.... Danteng Vin... danteng Dio." Ucap Zeline mengabsen satu persatu teman-teman Daniel.
"Mamah mau ya Mah ikut. Papah ajak Zel dan Mamah ini pelginya." Zeline memasang wajah penuh harapnya pada Naina.
"Tapi Mama..." Naina merasa tak setuju dengan ajakan putrinya.
"Mamah..." Zeline memasang wajah sendunya melihat Naina yang ingin menolak ajakannya. "Mama napa inda mau pelgi sama Papah dan Zel. Sama Om Aga mau telus itu." Zeline hendak menangis tapi Naina menahannya dengan mengusap kepala putrinya.
"Mama mau pergi kok." Putus Naina akhirnya. Dari pada melihat putrinya bersedih, lebih baik ia mengorbankan perasaannya.
__ADS_1
"Naina, kau sudah pulang?" Tanya Daniel yang sedang berjalan ke arah mereka.
Naina mengalihkan pandangannya pada Daniel lalu mengangguk. "Apa kau mengajak Zeline untuk pergi bersama teman-temanmu?" Tanya Naina memastikan ucapan putrinya.
Daniel mengangguk. "Bersama dirimu juga. Apa kau keberatan?" Tanya Daniel.
Naina menghela nafas sejenak lalu menatap wajah putrinya yang hendak menangis kembali. "Aku tidak keberatan. Aku akan ikut." Balas Naina.
Setelah mendapat persetujuan dari Naina, akhirnya malam itu mereka pun pergi ke Cafe yang menjadi tempat pertemuan mereka malam ini. Setelah menempuh perjalanan dua puluh menit, akhirnya mobil pun telah sampai di sebuah Cafe yang ternyata milik Dio.
Naina menatap nama Cafe di depannya. "Apa Cafe ini milik Dio?" Tanya Naina.
Daniel mengangguk membenarkan. "Ini adalah Cafe baru milik Dio." Jelasnya kemudian. Daniel pun segera turun dari dalam mobil lalu membantu Naina dan Zeline keluar dari dalam mobilnya.
"Papah, Zel dah tantik inda ini?" Zeline memutar tubuhnya saat sudah turun dari dalam mobil.
***
Jangan lupa berikan dukungan untuk Naina dan Daniel dengan cara like, komen, vote dan giftnya. Semakin banyak dukungannya, SHy semakin semangat menulisnya ini🌹
Sambil menunggu DABA update, silahkan mampir di karya SHy yang lainnya, ya. Hanya Sekedar Menikahi (End), Serpihan Cinta Nauvara (End), Oh My Introvert Husband (End), Bukan Sekedar Menikahi (On Going).
__ADS_1
Terimakasih☺️