
"Pria siapa maksudmu Amara?" Tanya Naina.
"Agh tidak, Kak. Mara hanya sembarangan bicara." Balas Amara.
Naina menghela nafasnya. "Sudahlah... mungkin esok hari kira sudah menemukan jawabannya siapa orang baik hati itu." Ucap Naina yang diangguki oleh Amara.
"Tak Nai..." suara Zeline yang terdengar manja memanggil namanya membuat Naina mengalihkan pandangan ke arah ranjang dimana putrinya kini tengah duduk dengan wajah cemberut.
"Apa apa Dek?" Tanya Naina.
"Pulang sekalang Ja, Tak. Zel pusing ini di sini telus. Nda enak sini... Lindu ibu sama ayah juga." Ucapnya.
"Sabar ya... besok juga kita akan pulang." Balas Naina mengelus rambut putrinya.
"Yah..." Zeline nampak tak bersemangat.
"Cuma menunggu esok hari bukan satu minggu lagi." Timpal Amara mencubit gemas pipi Zeline.
"Aw... sakit ini..." rutuk Zeline menatap sebal pada Amara.
Amara tertawa.
"Sudahlah Amara jangan mengganggunya lagi." Ucap Naina dengan tegas yang diangguki Amara dengan senyuman kaku.
__ADS_1
*
"Daniel... tadi Kakak bertemu dengan Aga di ruangan rawat pasien Kakak." Ucap Mara sambil menatap pada wajah Daniel yang kini fokus mengemudi.
"Lalu?" Balas Daniel dengan datar.
"Bukankah waktu itu kau ikut bersama Mama ke rumah Paman Andrew?" Tanya dara.
Daniel mengangguk.
"Berarti kau sudah melihat wajah kekasih Aga bukan?"
"Tentu saja. Lalu ada apa?" Tanya Daniel.
"Dari yang aku dengar sepertinya begitu." Balas Daniel.
Amara dibuat terdiam mendengar jawaban Daniel. Jadi aga menjalin hubungan dengan Naina? Apa Aga sudah tahu jika anak yang dianggap adik oleh Naina itu sebenarnya anak kandungnya? Batin Dara bertanya-tanya.
Suasana di dalam mobil pun kembali hening karena baik Dara maupun Daniel larut dalam pemikirannya masing-masing.
*
Seorang gadis kecil yang baru saja sembuh dari sakitnya itu nampak meloncat-loncat di atas ranjang rumah sakit dengan begitu riangnya.
__ADS_1
"Asik... pulang ke lumah... jumpa ayah dan ibu..." ucapnya sambil menggoyangkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan.
"Senang kan? Ayo goyang lagi..." Amara yang beridiri di depan Zeline pun turut bergoyang membuat Zeline kembali mengikuti goyangannya.
"Goyang kanan... goyang kili... kanan-kanan... kili-kili..." Zeline semakin bersemangat bergoyang mengikuti Amara.
Ceklek
Suara pintu ruangan yang terbuka dan menampilkan wajah Naina di sana membuat Amara dan Zeline menghentikan goyangan mereka.
"Amara... Zeline... apa yang kalian lalukan?" Kedua bola mata Naina nyaris keluar dari dalam wadahanya saat melihat putrinya kini sedang berdiri di atas ranjang.
"Joget ini Tak..." Zeline pun kembali bergoyang ke kiri dan ke kanan. "Ayo Tak Mala..." ajaknya pada Amara yang tidak kembali bergoyang dan kini menatap Naina dengan takut.
Naina yang menyadari siapakah dalang yang membuat Zeline seperti itu pun hanya bisa menghela nafas panjang. "Zelie ayo turun." Naina mengulurkan tangannya pada Zeline untuk menurunkan putrinya.
"Yah... masih joget ini Tak..." keluhnya tapi tetap menurut.
"Zel baru saja sembuh dan sudah terlalu banyak bergerak. Bagaimana nanti jika sakitnya yang sudah pergi kembali, hem?" Ucap Naina mengelus kepala putrinya.
"Zel nda mau sakit lagi, Tak.." balasnya lalu menjatuhkan kepalanya di bahu Naina. "Joget ja kok ndak bikin sakit. Senang itu... ya kan Tak?" Zeline menatap Amara meminta pembenaran. Sedangkan yang ditatap kini menatap Zeline dengan melotot karena takut akan kemarahan Naina telah mengajarkan Zeline yang tidak-tidak.
***
__ADS_1
Berikan dukungan dengan cara like, komen dan votenya dulu yuk baru lanjut😉