Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Membengkak seperti gajah


__ADS_3

"Tak... Kaki sakit..." Adu Zeline menunjuk kakinya yang membengkak.


"Astaga... Kenapa ini, Dek?" Tanya Naina begitu cemas melihat kaki putrinya yang nampak bengkak dan memerah.


"Itu tadi Zeline digigit serangga saat bermain di taman." Jelas Amara.


"Kata Tak Mala kaki Zel akan semakin membengkak sepelti kaki Gajah... Hua..." Zeline semakin menangis kencang. Wajah gadis kecil itu terlihat benar-benar takut.


"Amara..." Tekan Naina menatap sebal pasa adiknya itu. "Kau selalu saja menakutinya." Lanjut Naina lalu mendengus.


Amara menahan tawanya. "Mara kan cuma bercanda, Kak. Lagi pula Zeline itu terlalu percaya sekali." Kilah Amara tak ingin disalahkan.


"Loh... Tadi Amara juga bilang jika Kak Naina akan menginap di rumah temannya kan? Makanya Zel semakin menangis." Timpal Ibu.


"Ibu..." Amuk Amara karena telah membocorkan rahasianya.


"Amara... Kau ini..." Dengus Naina lagi menggelengkan kepalanya. Adiknya itu memang hobi sekali melihat anaknya menangis.


"Tak nda jadi nginap tempat teman kan?" Tanya Zeline disela tangisannya.


Naina menggeleng. "Tentu saja tidak. Kakak akan selalu menemani Zel tidur..." Ucap Naina menenangkan putrinya.


"Nji, ya..." Ucapnya sedikit tidak jelas.

__ADS_1


"Iya... Kakak janji..." Balas Naina tersenyum.


Tangisan Zeline pun mulai menyurut.


"Ayo duduk dulu, Nai..." Ajak Ibu karena sejak tadi Naina masih saja berdiri sambil menggendong Zeline.


Naina mengangguk. Lalu mendudukkan tubuh Zeline di sampingnya. Sedangkan Amara, ia sudah pergi ke dapur mengambilkan minum untuk Kakaknya.


"Bagaimana pekerjaanmu hari ini, Nai?" Tanya Ibu.


"Pekerjaan Nai hari ini berjalan lancar, Bu... Di perusahaan Nai juga mendapatkan rekan kerja yang baik dan saling menghargai satu sama lain." Jelas Naina mengingat ke empat teman barunya. Dan tentu saja Naina tidak menjelaskan tentang wajah dingin Aga yang acap kali membuat tubuhnya membeku.


"Syukurlah kalau begitu..." Ibu nampak tersenyum lega mendengar ucapan putrinya.


"Apa Tatak besok akan telus bekelja?" Tanya Zeline menatap wajah Naina dengan wajah yang masih basah oleh air mata.


"Yah..." Wajah Zeline nampak kembali bersedih.


"Kalau Kakak libur kita bisa jalan-jalan kemana saja Zeline mau." Ucap Naina tak ingin putrinya bersedih.


"Yeee... Nji ya, Tak!" Serunya kembali ceria.


"Iya... Kakak janji..." Balas Naina meyakinkan.

__ADS_1


*


"Hua... Hua..." Suara tangisan Zeline terdengar menggema di kamar Naina yang tertutup rapat.


"Bobo, ya..." Ucap Naina mengelus punggung putrinya yang masih saja menangis.


"Nda mahu..." Ucapnya dengan terus menangis.


Naina menghela nafas panjang. Jika Zeline sudah terlalu lelah seharian bermain, maka putrinya itu akan sulit untuk ditidurkan seperti saat ini. Hingga beberapa menit berlalu, Zeline tetap saja masih terus menangis. Naina pun dengan sabar menidurkan putrinya dengan terus mengelus punggung putri kecilnya itu hingga terlelap.


"Akhirnya tidur juga..." Ucap Naina menghela nafas lega. Tangannya pun terulur menghapus air mata yang masih tersisa di pelupuk mata Zeline.


"Maafkan Mama yang belum bisa membahagiakanmu hingga saat ini. Bahkan di umur Zel yang masih kecil Mama harus meninggalkan Zel untuk bekerja." Lirih Naina menatap sendu wajah putrinya.


Ting


Satu notifikasi masuk ke dalam ponsel Naina yang berada di atas nakas membuat lamunan Naina terhenti.


"Sasa?" Gumam Naina saat melihat pesan masuk dari Sasa.


Naina... Besok pagi kau harus datang lebih pagi dari tadi pagi, ya... Karena besok pagi Presdir akan datang ke perusahaan dan Presdir tidak suka dengan karyawannya yang datang terlambat.


***

__ADS_1


Siapa ya presdirnya?


Oh iyaa... Buat mengetahui jadwal update, kalian bisa bergabung di grup chat author, ya☺


__ADS_2