Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Siapa yang melunasinya?


__ADS_3

"Aku ingin menghampiri Kakak karena aku sudah terlalu lama menunggu di dalam mobil." Ucap Daniel dengan datar. Keinginannnya yang ingin melihat keadaan putrinya pun harus ia urungkan sebab Dara sudah keluar dari ruangan Zeline.


"Oh ya ampun... kakak harus memeriksa keadaan Zel lebih dulu sebelum pulang." Ucap Dara yang diangguki paham oleh Daniel. "Kalau begitu ayo. Kakak akan mengambil tas Kakak dulu di dalam ruangan." Ucap Dara yang diangguki oleh Daniel.


Dara pun berjalan lebih dulu meninggalkan Daniel yang masih terdiam di tempatnya sambil menatap kembali pintu ruangan Zeline.


"Untuk saat ini aku biarkan kau bermain-main dalam drama yang kau buat. Namun tidak dengan hari-hari berikutnya." Gumam Daniel lalu berlalu dari sana.


Saat berjalan mengikuti langkah Dokter Dara, Daniel pun berpapasan dengan Amara yang baru saja kembali dari pertemuannya dengan teman-temannya.


Melihat Daniel yang melewatinya begitu saja, Amara pun menoleh ke belakang menatap dengan intens bentuk tubuh Daniel.


"Bukankah itu pria yang kemarin mengintip diam-diam di depan ruangan Zeline? Bentuk tubuh dan rambutnya sangat mirip." Gumam Amara bertanya-tanya. Karena lagi-lagi ia tak dapat melihat wajah Daniel dengan jelas karena Daniel kembali menggunakan masker dan kaca mata hitamnya. "Tapi... dia menggunakan jas? Agh, sepertinya tidak mungkin." Merasa tak yakin dengan pemikirannya, Amara pun memilih untuk kembali berjalan menuju ruang rawat Zeline.


Saat hendak menjangkau ganggang pintu, Amara dibuat terkejut sebab pintu yang sudah lebih dulu terbuka dari dalam dan menampilkan wajah Aga dan Sasa di sana.


"Kak Aga... Kak Sasa..." Ucap Amara menyapa dua orang yang kini berada di depannya. Tak lama Dimas dan Thoriq pun turut keluar dari dalam ruangan.

__ADS_1


"Hai Amara..." balas Sasa dengan tersenyum. Sedangkan Aga hanya diam sambil tersenyum tipis menatap pada Amara.


"Apa Kakak dan yang lainnya sudah ingin pulang?" Tanya Amara yang diangguki oleh Sasa.


"Ooh..." balas Amara tersenyum.


"Kalau begitu kami pamit pulang dulu ya, Amara." Ucap Sasa yang diangguki oleh Amara.


Dimas, Thoriq dan Aga pun turut berpamitan pada Amara lalu berlalu dari sana.


"Mereka bertiga sungguh tampan." Gumam Amara sambil tersenyum kecil lalu segera masuk ke dalam ruangan rawat Zeline.


*


"Silahkan, Dokter..." Ucap Naina memberi ruang agar Dokter Dara segera memeriksa putrinya.


"Keadaan Zeline sudah semakin membaik. Dan siang hari ini Zeline sudah bisa pulang." Ucap dokter Dara yang membuat Naina dan Amara tersenyum lega.

__ADS_1


"Asik... Zel dah boleh pulang ini." Zeline bertepuk tangan dengan wajah riang.


Naina, Amara dan Dokter Dara tersenyum melihat tingkah Zeline.


"Kalau begitu saya pamit keluar dulu." Pamit Dokter Dara.


"Terimakasih Dokter." Balas Naina yang diangguki oleh Dokter Dara.


"Apa Kakak sudah mengetahui siapa yang membayarkan biaya rumah sakit Zeline?" Tanya Amara setelah Dokter Dara hilang dari balik pintu.


Naina menggeleng. "Kakak tidak tahu. Kemarin Kakak sempat bertanya dengan Kak Aga dan Kak Aga bilang bukan dia yang melunasi biaya pengobatan Zeline." Balas Naina merasa bingung.


"Jika bukan Kak Aga, lalu siapa yang melunasinya, Kak?" Amara turut dibuat bingung. Namun tiba-tiba saja pemikirannya melayang pada pria yang membuatnya curiga belakangan ini. "Apa jangan-jangan pria itu?" Gumam Amara dengan pelan namun masih dapat di dengar oleh Naina.


***


Mohon berikan dukungan dengan cara vote, komen dan likenya dulu yuk.

__ADS_1


Nanti lanjut lagi kalau dukungannya banyak ya😉


*


__ADS_2