
Setelah seharian menghabiskan waktu bersama divisi Humas, akhirnya sore harinya Naina dan Zeline pun pulang ke rumah mereka dengan diantarkan kembali oleh Sasa.
"Udah pulang, Nai?" Tanya Ibu saat berpapasan dengan Naina di depan pintu kamar Ibu.
"Iya, Bu." Balas Naina lalu menyalimi ibunya.
"Zeline mana?" Tanya Ibu saat tak melihat keberadaan cucunya.
"Dibawa pergi sama Amara ke warung, Bu." Jelas Naina yang diangguki paham oleh Ibu.
"Oh iya, Nai. Ada yang ingin Ibu bicarakan padamu." Ucap Ibu saat merasa suasana cukup aman untuk berbicara dengan Naina.
"Apa itu Bu?" Tanya Naina merasa penasaran.
"Lebih baik kita bicara di kamar Ibu saja." Ajak Ibu.
"Tunggu sebentar, Bu. Nai mau meletakkan baju kotor dulu di kamar mandi."
Ibu mengangguk sebagai jawaban.
__ADS_1
"Jadi apa yang ingin Ibu bicarakan?" Tanya Naina saat sudah masuk ke dalam kamar Ibunya.
"Apakah kau masih ingin menyembunyikan status asli anakmu saat ini, Nai?" Tanya Ibu.
Naina terdiam. Kedua tangannya mulai bertaut dengan erat.
"Ibu tidak masalah jika kau masih menginginkan keadaan masih sama seperti dulu. Namun putrimu juga membutuhkan sebuah kejujuran atas asal usulnya, Nai. Sampai kapan kau akan membawa putrimu hidup dalam kebohongan? Zel sudah semakin beranjak besar. Dan suatu saat, bukan tidak mungkin Zel akan marah kepadamu jika mengetahui fakta yang sebenarnya." Jelas Ibu tak ingin Naina salah paham akan ucapannya.
Naina meneteskan air matanya. "Nai masih sangat berat untuk mengungkapkan kebenaran yang sebenarnya, Bu." Balas Naina sambil tertunduk.
Ibu menghela nafasnya. "Cobalah untuk belajar keluar dari masa lalumu, Nai... Umurmu sudah semakin lanjut... Sudah saatnya kau membina rumah tangga untuk Zeline putrimu." Ucap Ibu sambil mengelus pundak Naina yang mulai bergetar.
"Nai akan mengusahakannya, Bu." Balas Naina walau pun berat.
"Apa saat ini sudah ada pria yang mulai menarik perhatianmu?" Tanya Ibu dengan lembut.
Naina menggeleng. "Hati Nai masih tertutup rapat setelah kepergian ayah Zeline, Bu. Namun mulai saat ini Nai akan belajar menerima sosok baru di hidup Nai untuk Zeline." Ucap Naina tak ingin ibunya bersedih.
Ibu tersenyum melihat kemauan putrinya. "Kau tidak perlu memikirkan pendapat orang lain saat mengetahui fakta yang sebenarnya tentang siapa Zeline. Yang harus kau ingat, kau memiliki Ibu, Ayah dan Amara yang akan selaku melindungimu dari banyaknya orang yang berniat buruk padamu."
__ADS_1
"Ibu... Terimakasih..." Naina menghambur memeluk Ibunya. Kedua wanita berbeda generasi itu pun menangis bersamaan.
"Ibu lihat nak Aga adalah pria yang baik. Apa nak Aga adalah pria yang dekat denganmu saat ini?" Tanya Ibu menggoda putrinya yang terlihat masih bersedih.
Naina dengan cepat menggeleng. "Ibu bicara apa? Kak Aga hanya rekan kerja Nai di perusahaan, Bu. Tidak ada hubungan yang spesial diantara kami." Balas Naina.
"Tapi Ibu lihat dia memiliki ketertarikan padamu, Nai." Ucap Ibu bersungguh-sungguh mengingat saat pertama kali memperhatikan tingkah Aga datang mengantarkan Naina dan Zeline ke rumahnya.
***
Selamat membaca☺
lanjut??
Mohon beri dukungan untuk karya author dengan cara memberikan like, komen dan votenya☺
Semakin banyak dukungannya... Maka author juga makin semangat upnya, hihi☺☺
Buat mengetahui jadwal update, kalian bisa bergabung di grup chat author, ya☺
__ADS_1