Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Pembicaraan sepasang mantan kekasih


__ADS_3

Naina menganggukkan kepalanya. Menarik kursi yang berhadapan dengan Daniel lalu menjatuhkan bokongnya di sana. Suasana hening mulai menyelimuti dua orang insan mantan kekasih yang kini sedang saling menatap satu sama lain.


Kedatangan seorang pelayan membawa buku menu makanan memutuskan tatapan di antara mereka.


"Kau ingin minum atau makan apa?" Tanya Daniel saat buku telah berada di tangannya.


"Orange juice saja." Balas Naina.


"Kau tidak memesan makanan?" Tanya Daniel lagi.


Naina menggelengkan kepalanya. "Aku sudah makan." Balasnya.


Daniel mengangguk paham. Setelah memesan makanan yang ia inginkan, pelayan pun pergi meninggalkan meja mereka.


Naina menatap wajah Daniel dalam diam. Detak jantungnya semakin bekerja lebih cepat saat mata mereka kini bersitatap. Daniel menarik tipis kedua sudut bibirnya saat menangkap kegugupan Naina saat ini. Tak berbeda jauh dengan dirinya. Hanya saja ia terlalu pandai menyembunyikan apa yang ia rasakan saat ini.


"Apa kau ingin kita memesan ruangan khusus untuk berbicara?" Tawar Daniel. Pandangannya pun terarah pada sebuah ruangan yang berada tak jauh dari mereka.


Naina menggelengkan kepalanya. Berada di dekat Daniel seperti saat ini saja sudah membuat detak jantungnya berdetak begitu cepat. Apa lagi jika mereka duduk di sebuah ruangan hanya berdua saja dan jauh dari orang-orang. Mungkin saja jantung Naina akan melompat keluar tanpa ia duga nantinya.

__ADS_1


Daniel mengangguk paham. Dalam pemikirannya mungkin saja Naina masih merasa tidak nyaman berada di dekatnya seperti saat ini.


Melihat ekspresi Daniel yang nampak tenang dan tidak arogan seperti biasanya membuat detak jantung Naina semakin berdetak dengan cepat. Pandangannya pun jatuh pada kedua pipi Daniel yang masih nampak lebam dan bengkak. Naina berusaha tak memperdulikannya dan lebih memilih mengungkapkan tujuan mereka bertemu saat ini.


"Ada hal penting yang ingin aku bicarakan kepadamu." Ucap Naina saat melihat Daniel tengah menunggu ia untuk berbicara.


"Bicaralah." Balas Daniel dengan wajah tenang.


"Apa tujuanmu datang ke rumahku tadi pagi?" Tanya Naina.


Daniel menyatukan kesepuluh jemarinya. Menatap wajah Naina yang nampak cantik malam ini walau hanya dengan polesan make up tipis di wajahnya.


"Hanya itu?" Tanya Naina.


Daniel menggangguk. "Hanya itu untuk kedua orang tuamu." Jelasnya.


"Untuk apa kau melakukannya?" Tanya Naina. Tatapannya kini sudah berubah tidak ramah pada Daniel.


"Karena aku menginginkannya." Balas Daniel dengan singkat.

__ADS_1


Naina tersenyum miring. "Apa kau pikir permintaan maafmu itu dapat menghapus luka di hati kedua orang tuaku selama ini?" Tanya Naina.


Daniel menggeleng. "Aku tahu aku tidak akan pernah bisa menghapus luka di hati orang tuamu karena perbuatanku dan mengubah takdir yang telah terjadi. Begitu pula dengan luka di hatimu. Namun aku memilih untuk tetap melakukannya walau pun sudah sangat terlambat." Balas Daniel.


"Aku tidak menyangka seorang pria seperti dirimu mau menjatuhkan harga dirimu hanya untuk mendapatkan maaf dari kedua orang tua dari wanita cupu dan bodoh seperti diriku." Naina berucap tenang. Namun Daniel sangat paham arti ucapan wanita itu.


"Harga diriku tidak akan jatuh hanya karena satu permintaan maaf kepada kedua orang tuamu."


"Kau terlalu pandai bersandiwara, Daniel." Naina masih merasa tak percaya atas apa yang Daniel katakan.


***


Yuk berikan dukungan untuk Naina dan Daniel dengan cara vote, komen dan likenya. Teman-teman juga bisa memberikan dukungan dalam bentuk gift loh🤗


Sambil menunggu cerita Naina dan Daniel update, teman-teman silahkan mampir di karya aku yang lainnya ya.


- Bukan Sekedar Menikahi (On Going)


- Hanya Sekedar Menikahi (End)

__ADS_1


- Oh My Introvert Husband (End)


__ADS_2