
"Bibi..." Naina pun berucap lirih lalu membalas pelukan Bibi Hasna.
"Maafkan putra Bibi..." Ucap Mama Hasna lagi karena Naina belum membalas ucapannya.
"Bibi jangan seperti ini..." Balas Naina karena suara Mama Hasna terdengar parau.
"Putra Bibi sangat berdosa padamu..." Mama Hasna pun menangis.
Naina melerai pelukan mereka. "Bibi jangan menangis..." kedua bola mata Naina pun berkaca-kaca. "Daniel tidak sepenuhnya bersalah. Nai juga bersalah dalam hal ini." Ucap Naina yang sudah paham arah pembicaraan Bibi Hasna.
"Bibi sungguh tidak menyangka jika putra Bibi berani merusak wanita yang belum menjadi istrinya. Bibi benar-benar merasa menjadi Ibu yang gagal." Mama Hasna semakin menangis dengan kencang.
"Bibi tenanglah..." Naina memeluk tubuh Mama Hasna kembali untuk menenangkannya.
"Selama ini Bibi selalu mengajarkan Daniel menjadi pria yang bertanggung jawab dan menjaga harga diri seorang wanita. Tapi Daniel tidak melakukan apa yang Bibi ajarkan hingga sampai dia menelantarkan anak kandungnya sendiri sampai empat tahun lamanya."
Naina menghela nafas panjang. Mengingat putrinya yang selama hidup tanpa kasih sayang seorang ayah benar-benar membuat dadanya sesak.
__ADS_1
"Daniel tidak bersalah, Bibi. Dia melakukannya karena Nai tidak memberitahukan kepadanya jika putri kami ada di dunia ini. Nai tidak memberikan kesempatan padanya untuk bertanggung jawab pada Zeline putri kami." Naina merendah. Ia tidak ingin menyalahkan Daniel yang bisa membuat Mama Hasna semakin menyalahkan dirinya sendiri.
"Kau tidak bersalah, Naina. Daniel lah yang bersalah karena dia tidak mau mencaritahu kebenarannya." Mama Hasna masih menyalahkan putranya.
"Nai juga bersalah Bibi. Semua ini terjadi karena adanya peran Nai juga yang tidak bisa menjaga kehormatan Nai dengan baik. Nai terlalu terbuai akan kata cinta hingga melupakan masa depan Nai yang akan hancur setelah melakukannya."
"Naina..." Mama Hasna kembali memeluk erat tubuh Naina. "Kau sungguh berhati mulia untuk putra Bibi yang berengsek."
"Bibi tidak boleh berkata seperti itu... Bagaimana pun juga Daniel tetaplah putra Bibi." Walau pun turut menyetujui jika Daniel adalah pria berengsek, namun Naina tidak ingin Mama Hasna sampai mengucapkan kalimat itu pada putra kandungnya.
"Kau tidak perlu membelanya karena Bibi tahu kau pasti membencinya karena sikap buruknya." Balas Mama Hasna.
"Ayo duduk dulu." Ucap Mama Hasna setelah melerai pelukannya lalu menuntun Naina menuju sofa.
"Naina, kau ingin minum apa?" Tanya Mama Hasna setelah Naina mendaratkan bokongnya di sofa.
"Tidak perlu repot-repot, Bibi. Nai sudah minum di ruangan tadi sebelum datang ke sini." Balas Naina.
__ADS_1
Mama Hasna mengangguk paham.
"Naina, apa Aga sudah mengetahui jika kau sudah memiliki anak dengan Daniel?" Tanya Mama Hasna mengingat keponakannya.
"Kak Aga sudah mengetahui jika Nai sudah memiliki seorang anak, tapi Kak Aga belum mengetahui siapakah ayah dari anak Nai, Bibi." Balas Naina sambil tertunduk.
Mama Hasna menghela nafasnya yang kian memberat.
"Apa kau takut jika Aga mengetahui Daniel adalah ayah dari anakmu maka dia dan Daniel akan berselisih paham?" Tanya Mama Hasna yang turut paham perasaan Naina saat ini.
Naina mengangguk lemah. "Nai tidak ingin merusak hubungan persaudaraan mereka, Bibi." Balas Naina mengungkapkan ketakutannya selama ini.
"Walau pun berat untuk mengatakannya, namun lebih baik kau segera memberitahu Aga sebelum Aga mengetahuinya dari orang lain yang akan membuat masalah semakin besar." Ucap Mama Hasna sambil mengelus punggung tangan Naina.
****
Sambil menunggu DABA update, silahkan mampir di karya baru aku Bukan Sekedar Menikahi.
__ADS_1
Yuk berikan dukungan untuk Naina dan Daniel dengan cara vote, komen dan likenya. Teman-teman juga bisa memberikan dukungan dalam bentuk gift loh🤗