Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Pertemuan untuk kesekian kalinya


__ADS_3

"Hei... kenapa kau diam?" Tanya wanita itu lagi sambil mengelus kepala Zeline.


"Apa Bibi malah?" Tanya Zeline masih memasang wajah takut.


"Kenapa saya harus marah?" Wanita itu kemudian tersenyum.


"Kalena Zel memegang baju milik Bibi." Mata Zeline mulai memerah. Merasa takut pada wanita bertubuh gempal di depannya. Apa lagi kini orang-orang nampak menatap ke arahnya.


Wanita itu tertawa kecil. "Bibi tidak marah. Lagi pula kau boleh memegang semua baju yang ada di sini jika kau ingin." Balasnya menenangkan Zeline.


Zeline masih memasang wajah takut dengan bibir mengekerut.


"Kenapa kau diam? Apa kau tidak menyukai bajunya?" Tanyanya lagi.


"Apa Bibi benal tidak malah padaku?" Tanya Zeline sambil menahan tangisannya. Matanya masih menatap takut pada wanita pemilik toko itu.


"Bibi tidak marah kepadamu." Wanita itu pun memasang wajah bersalah karena sudah membuat gadis kecil di depannya takut. "Bibi hanya merasa senang saat melihat wajahmu. Kau sungguh cantik dan menggemaskan." Pujinya.


Wajah Zeline yang takut pun berubah senang saat mendengar wanita di depannya mumujinya. "Zel memang tantik." Ucapnya mulai malu-malu.


Wanita itu melipat bibirnya. Ternyata mudah sekali membuat gadis kecil di depannya itu tersenyum kembali. "Jadi apa kau menginginkan baju yang ada di sini?" Tanyanya lagi.

__ADS_1


Zeline menganggukkan kepalanya. "Tantik semua. Zel suka." Balasnya dengan jujur.


"Tapi dimana orang tuamu? Kenapa kau hanya sendiri?" Wanita itu memandang sekelilingnya mencari keberadaan orang tua gadis kecil di depan.


"Ibu ada. Depan tuh pilih baju tuk Kak Mala." Tangan mungil Zeline menunjuk toko baju di depannya.


"Lalu kenapa kau sendiri saja ke sini? Bagaimana jika ibumu mencarimu?"


"Emh. Ibu lama itu pilih baju." Jawab Zeline. Zeline pun mengarahkan pandangannya ke arah toko baju tempat ibu dan kakaknya berada. "Bibi... Zel pelgi deh. Nanti Ibu cali itu." Pamit Zeline lalu segera berlari keluar dari dalam toko.


"Oh astaga... aku bahkan belum sempat bertanya namanya." Gumam wanita itu menatap tubuh Zeline yang sudah menjauh darinya.


*


Tanpa pikir panjang, kaki mungil Zeline pun segera berlari ke arah sosok yang sangat dikenalinya itu. "Tak Niel..." panggil Zeline saat sudah berada di belakang sosok yang dikejarnya.


Daniel yang sedang berjalan bersama Mamanya pun menghentikan langkahnya saat mendengar suara kecil memanggil namanya.


Daniel membalikkan tubuhnya. "Zeline..." ucap Daniel begitu terkejut melihat sosok malaikat kecilnya kini ada di depan matanya.


Zeline mengangguk. "Tak Niel..." entah doronyan dari mana, Zeline pun tiba-tiba memeluk sebelah kaki Daniel yang membuat Daniel kembali terkejut. "Tak Niel... Zel sangat melindukanmu." ucapnya samakin memeluk erat kaki Daniel.

__ADS_1


Tubuh Daniel menegang. Mendengar perkataan rindu dari putrinya entah mengapa membuat dadanya kian sesak. Daniel pun mengangkat tubuh Zeline lalu menggendongnya.


"Kau merindukanku?" Tanya Daniel memastikan kembali ucapan Zeline.


Kepala Zeline mengangguk. "Lindu. Lama lo nda ketemu." Balas Zeline sambil malu-malu.


"Daniel... anak siapa ini?" Mama Hasna yang sejak tadi memperhatikan interaksi Daniel dan gadis di depannya pun angkat bicara.


***


Yuk berikan dukungan untuk Naina dan Daniel dengan cara vote, komen dan likenya. Teman-teman juga bisa memberikan dukungan dalam bentuk gift (poin) loh🤗


Sambil menunggu cerita Naina dan Daniel update, teman-teman silahkan mampir di karya aku yang lainnya ya.


- Bukan Sekedar Menikahi (On Going)


- Hanya Sekedar Menikahi (End)


- Oh My Introvert Husband (End)


- Serpihan Cinta Nauvara (End)

__ADS_1


__ADS_2