Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Pria yang merugi


__ADS_3

Beberapa menit berlalu, motor Aga pun telah sampai di depan taman S. Setelah memarkirkan motornya, Aga pun mengajak Naina untuk berjalan mengelilingi taman lebih dulu sebelum duduk di salah satu kursi yang masih kosong.


"Tidak perlu tegang begitu. Anggap saja kau sedang bersama dengan teman-teman kita yang lain seperti tempo hari." Ucap Aga saat melihat raut tegang di wajah Naina.


Naina tersenyum kaku. Jujur saja saat ini ia benar-benar gugup berada berdekatan dengan Aga. "Maaf, Kak... Aku sudah tidak terbiasa berduaan dengan pria seperti ini." Ucap Naina dengan jujur.


Aga mengangguk paham. "Begitu pula denganku." Balasnya yang membuat Naina sedikit terkejut.


"Maksud Kakak?" Tanya Naina merasa penasaran.


"Ya. Sebelumnya aku tidak pernah berduaan dengan wanita seperti saat ini." Balas Aga dengan datar dan pandangan yang lurus ke depan.


"Apa Kakak belum pernah memiliki seorang kekasih sebelumnya?" Tanya Naina ragu dengan pemikirannya.


"Seperti yang kau pikirkan." Balas Aga singkat.


Naina tertegun. Apa mungkin pria setampan Kak Aga tidak pernah memiliki seorang kekasih? Rasanya sungguh tidak mungkin. Batin Naina masih meragu.

__ADS_1


"Menurutku menjalani sebuah hubungan itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sebuah hubungan itu memerlukan keseriusan hati di dalam menjalaninya."


Naina Diam. Menunggu lanjutan ucapan Aga.


"Untuk apa aku menjalani sebuah hubungan jika hanya berujung dengan saling menyakiti satu sama lain. Sebuah hubungan itu bukanlah permainan. Jika hubungan itu dilakukan dan berujung dengan perpisahan, itu akan mengakibatkan berkurangnya jumlah orang terdekat kita di bumi ini." Aga masih terus berbicara. Pria yang ada di hadapan Naina saat ini sungguh berbeda dari kesehariannya.


Naina mengangguk paham. Seperti hubunganku dan Daniel yang berakhir dengan sakit yang begitu dalam. Batin Naina merasa miris.


"Aku sedikit penasaran dengan jarak umurmu dan Zeline." Ucap Aga yang memang belum mengetahui umur Naina saat ini.


"Ya. Jarak umur kami memang terpaut cukup jauh." Naina pun mulai menceritakan sedikit tentang kelahiran Zeline dan sedikit berbohong tentang Ibu dari Zeline.


"Ya. Begitulah." Balas Naina dengan singkat.


Pembicaraan mereka pun terus berlanjut hingga tak terasa Naina pun mulai merasa nyaman bersama dengan Aga. Kecanggungan yang awalnya ia rasakan pun sirna begitu saja.


"Tunggulah di sini. Aku akan membelikan minum dan beberapa cemilan untuk kita." Ucap Aga kemudian bangkit.

__ADS_1


Naina mengangguk sebagai jawaban. Lagi pula kerongkongannya saat ini sudah terasa kering akibat terlalu banyak berbicara dengan Aga.


Hingga beberapa menit berlalu, Aga pun telah kembali dengan dua botol minuman dan beberapa cemilan di tangannya.


"Minumlah." Ucap Aga memberikan satu botol minuman pada Naina.


"Terimakasih, Kak." Ucapnya yang diangguki oleh Aga.


"Apa kau sudah memiliki seorang kekasih sebelumnya?" Tanya Aga saat suasana terasa hening beberapa saat.


Naina sejenak terdiam. "Ya. Aku pernah memiliki seorang kekasih sebelumnya." Balasnya dengan tersenyum kecut.


"Kenapa wajahmu seperti itu? Apa kau memiliki kisah yang buruk saat bersamanya?" Tebak Aga.


"Ya seperti itulah." Balas Naina namun tidak ingin menceritakan bagaimana kisah buruk itu terjadi.


Aga mengangguk saja tanpa bertanya lebih lanjut. "Dia adalah seorang pria yang sangat merugi bila berani memberikan luka di hati wanita seperti dirimu." Ucap Aga yang seolah mengerti perjalan kisah percintaan tragis Naina sebelumnya.

__ADS_1


*


Komen dulu yuk baru lanjut😌


__ADS_2