Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Perasaan berbeda


__ADS_3

"Dia lucu sekali..." Daniel mengelus wajah putrinya yang nampak begitu lucu di layar ponselnya. Cukup lama Daniel menatap foto gadis kecilnya itu. Rasanya Daniel begitu enggan untuk mengalihkan pandangan dari wajah yang mulai menghiasi hari-harinya itu.


Panggilan masuk ke ponselnya pun menghentikan kegiatan Daniel. "Queen?" Gumam Daniel membaca nama yang tertera di layar ponselnya.


Sayang... kau belum tidur? Suara Queen terdengar lembut di seberang sana.


"Aku baru saja terbangun. Ada apa kau menghubungi jam segini?" Tanya Daniel dengan lembut.


Aku hanya ingin memberitahukan padamu jika saat ini aku sudah sampai dari Jepang. Suara Queen terdengar mulai kuat.


"Apa? Kau sudah kembali?" Daniel dibuat terdiam. Entah mengapa kedatangan Queen kembali ke negaranya membuat Daniel merasa tak tenang.


Benar sayang... aku mempercepat kepulanganku karena ingin memberikan kejutan untukmu!


"Lalu dimana kau saat ini? Apa ada yang menjemputmu?" Daniel mengarahkan pandangan pada jam dinding yang sudah menunjukkan jam satu malam.


Aku sedang berada di dalam perjalanan menuju rumah. Sopir di rumah yang menjemputku.


"Syukurlah..."


Aku sangat merindukanmu... Suara Queen terdengar manja.


Daniel dibuat terdiam. Entah mengapa lidahnya sangat kelu untuk membalaskan kata rindu dari kekasihnya saat ini.


Sayang... kenapa ku diam? Apa kau tidak merindukanku?

__ADS_1


"Aku juga sangat merindukanmu, Sayang..." balas Daniel dengan nada datarnya.


Queen yang sudah biasa dengan sikap Daniel yang dingin dan kadang hangat kepadanya tidak mempermasalahkan ucapan Daniel dan lebih memilih kembali berbicara.


Besok aku akan datang ke perusahaanmu untuk membawakan makan siang untukmu.


"Tidak perlu repot begitu, Queen. Kau baru saja kembali. Istirahatlah di rumah." Titah Daniel.


Tidak, tidak. Aku tidak lelah. Aku sungguh sangat merindukan memberikan masakan hasil buatan tanganku padamu. Suara Queen terdengar begitu bersemangat.


Tak ingin mematahkan semangat kekasih hatinya, Daniel pun akhirnya mengiyakan ucapan Queen. Pembicaran mereka pun terus berlanjut hingga Queen sampai di rumah orang tuanya.


*


"Kak Aga?" Naina bangkit dari duduknya. Menatap pada Aga yang kini tersenyum hangat kepadanya.


"Tak Aga datang ini... Zel tadi yang bukain pintunya lo..." Adu Zeline lalu mengecup pipi Aga.


"Bibi... Paman... maaf sudah mengganggu." Ucap Aga begitu sungkan.


"Tidak mengganggu Nak Aga... Apa kau sudah sarapan? Ayo duduk dulu. Kita bisa sarapan bersama." Tawar Ibu dengan tersenyum.


"Saya sudah sarapan di rumah, Ibu." Balas Aga dengan ikut tersenyum.


"Ada apa Kakak datang kemari?" Tanya Naina merasa bingung. Pasalnya Aga tidak ada mengirimkan pesan apa pun kepadanya pagi ini.

__ADS_1


"Aku hanya ingin menjemputmu untuk pergi bersama." Balas Aga apa adanya.


"Tak... Tulun... Zel mau sama Ibu..." ucap Zeline.


Aga mengangguk lalu menurunkan tubuh Zeline.


"Ayo ke depan saja, Kak." Ajak Naina yang diangguki oleh Aga.


Saat sudah berada di ruang tamu, Naina menatap pada mobil mewah milik Aga yang kini terparkir di depan rumahnya.


"Ada apa dengan wajahmu? Apa kau tidak senang aku jemput, hem?" Aga mengelus kepala Naina. Rasanya ia begitu gemas melihat wajah Naina yang nampak lucu saat melihat ke arah mobilnya.


"Apa Kakak yakin ingin menjemputku dengan mobil itu?" Tanya Naina dengan pelan. Karena biasanya jika Aga menjemputnya, pri itu hanya menggunakan motor besarnya.


***


Lanjut lagi ya kalau vote, komen dan likenya banyak yaa☺


Sambil menunggu cerita DABA update, kalian bisa mampir ke novel aku yang lainnya, ya☺


- Hanya Sekedar menikahi (On Going)


- Serpihan Cinta Nauvara (End)


- Oh My Introvert Husband (End)

__ADS_1


__ADS_2