Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Rapat bersama Presdir


__ADS_3

Sebuah mobil BMW bewarna hitam nampak melewati motor Naina saat hendak masuk ke dalam gerbang perusahaan. Naina menatap intens mobil yang melewatinya itu saat menyadari siapakah orang yang berada di dalam sana.


Daniel... Batin Naina menyebut nama pria yang telah menorehkan luka di hatinya. Hingga pandangannya pun harus terhenti karena motornya harus berbelok ke arah kiri dimana parkiran motor berada.


"Motor Kak Aga?" Gumam Naina menatap motor yang terparkir di sebelahnya. "Kenapa Kak Aga selalu menggunakan motor untuk bekerja sedangkan dia memiliki mobil yang mewah?" Gumamnya lagi bertanya-tanya. Apalagi jika mengingat kampus tempatnya menuntut ilmu dulu. Rata-rata anak dari kalangan berada di kampusnya pasti berlomba-lomba menggunakan mobil mewah mereka untuk dibawa ke kampus.


"Selamat pagi, Naina!" Ucap Sasa mengagetkan Naina yang sedang mengantri masuk ke dalam lift.


"Sasa? Selamat pagi." Balas Naina saat melihat wajah Sasa yang berada di belakangnya.


"Aku lihat kau menikmati liburanmu dengan menyenangkan bersama adik kecilmu." Ucap Sasa yang melihat strory Naina saat memvideokan Zeline.


Naina tersenyum. Mereka pun masuk ke dalam lift saat pintu lift sudah terbuka. "Ya. Aku mengajak adikku untuk bermain selagi aku ada waktu senggang." Balas Naina saat sudah berada di dalam kotak besi yang akan membawa mereka ke lantai 12 dimana ruangan divisi Humas berada


"Adikmu itu memang mirip sekali denganmu, Nai." Ucap Sasa saat mengingat wajah lucu Zeline.


Naina tersenyum. Sasa adalah orang yang kesekiankalinya mengatakan jika ia dan Zeline sangatlah mirip.

__ADS_1


Saat sudah masuk ke dalam ruangan, lagi-lagi Naina menemukan sosok Aga sudah duduk di belakang meja kerjanya.


"Pagi Kak Aga." Sapa Sasa yang lebih dulu melewati aga.


Aga mengangguk lalu kembali fokus pada layar komputernya.


"Pagi Kak Aga." Sapa Naina yang berhasil membuat Aga mengangkat wajahnya menatap pada Naina.


Sama seperti Sasa, Aga pun hanya mengangguk membalas sapaan Naina lalu kembali fokus pada layar komputernya.


Padahal aku sangat ingin mengucapkan terimamasih atas bantuannya kemarin. Namun melihat wajahnya itu membuatku ragu. Batin Naina lalu kembali melangkah menuju meja kerjanya.


"Pagi, Mbak Wiwin." Balas Sasa dan Naina hampir bersamaan.


"Saya baru saja mendapatkan informasi dari sekretaris Presdir jika pagi ini akan diadakan rapat bersama Presdir untuk pertama kalinya setelah tiga bulan Presdir tidak berada di perusahaan. Maka dari itu dua orang dari divisi Humas ditunjuk untuk menghadiri rapat."


Aga, Sasa dan Naina mengangguk paham.

__ADS_1


"Aga... Naina... Untuk hari ini kalian berdua yang akan menjadi perwakilan dari divisi Humas untuk menghadiri rapat karena Dimas dan Thoriq sedang melakukan pekerjaan di luar perusahaan sedangkan Sasa masih memiliki tugas dari saya yang belum rampung." Terang Mbak Wiwin.


Aga mengangguk. Sedangkan Naina nampak terpaku di tempatnya saat mendengar jika ia akan menghadiri rapat dengan Daniel yang akan menjadi pemimpinnya di sana.


"Naina... Apa kau tidak ingin menuju ruangan rapat?" Tanya Sasa saat melihat Naina masih terdiam sedangkan Aga sudah beranjak meninggalkan ruangan.


"Agh, ya. Aku akan pergi sekarang juga." Ucap Naina lalu berdiri.


"Naina... Apa kau tidak ingin membawa buku untuk menulis saat rapat nanti?" Tanya Sasa merasa heran saat Naina ingin pergi tanpa membawa buku catatannya.


***


Selamat membaca☺


lanjut??


Mohon beri dukungan untuk karya author dengan cara memberikan like, komen dan votenya☺

__ADS_1


Semakin banyak dukungannya... Maka author juga makin semangat upnya, hihi☺☺


Buat mengetahui jadwal update, kalian bisa bergabung di grup chat author, ya☺


__ADS_2