Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Memperhatikan diam-diam


__ADS_3

Mendengar pujian Zeline untuk mereka, Dimas dan Thoriq pun sontak membusungkan dada mereka.


"Zeline cantik... kau memang benar dan tidak berdusta seperti yang lainnya. Kami berdua memang begitu danteng dan tiada yang menandingi." Thoriq merasa begitu tersanjung dengan pujian Zeline.


Sasa menepuk lengan Thoriq. "Kau jangan mengotori pemikirannya dengan mengajarkannya berdusta seperti itu. Jelas-jelas tidak ada satu pun yang bisa dibanggakan dari wajah kalian berdua." Sembur Sasa menolak kenyataan.


"Sasa... Sasa... kau selalu saja begitu. Jika begini kau lah yang berdusta. Apa kau pikir aku tidak tahu jika kau suka memperhatikan Dimas diam-diam karena kau mengagumi ke—" Ucapan Thoriq melayang begitu saja di udara sebab Sasa lebih dulu membekab mulutnya.


"Emph..." Thoriq mencoba melepaskan tangan Sasa dari mulutnya.


"Diamlah baru aku akan melepas dekapan tanganku." Ucap Sasa yang diangguki oleh Thoriq.


"Kau ini benar-benar." Gerutu Thoriq menatak sebal pada Sasa yang kini nampak terdiam.


Dimas yang tadi mendengarkan dengan jelas ucapan Thoriq kini tak mengalihkan pandangannya dari wajah Sasa yang nampak memerah.


"Jangan suka berbicara sembarangan atau aku akan mencekik lehermu!" Sembur Sasa yang sejujurnya merasa malu.


"Napa jadi libut sih... Zel atit pala ini..." Rungut Zeline merasa sebal sebab diabaikan.

__ADS_1


"Maafkan Kakak ini yang suka membuat suasana ribut." Ucap Sasa menatap Zeline dengan wajah kaku.


"Sasa..." Suara Dimas terdengar mengalun memanggil nama Sasa.


Sasa yang mendengarkan namanya disebut pun tak ingin menoleh. Ia sungguh masih merasa malu saat ini.


"Tak danteng... panggil Zel saja jika Tak Sasa nda mau bicala." Ucap Zeline dengan malu-malu.


Mendengar ucapan Zeline, Sasa dan Thoriq sontak melototkan kedua matanya.


Dimas melipat bibirnya. Rasanya ia sungguh ingin tertawa saat ini karena mendengar ucapan Zeline yang terdengar begitu menggemaskan dan wajah Sasa yang terlihat masih memerah dengan mulut sedikit terbuka menatap pada Zeline.


"Wah... banyak teman-temannya ya Zeline di sini..." ucap Dokter Sasa dengan lembut pada Zeline.


"Ya, doktel tantik... ini loh banyak Tak danteng sini..." Zeline menunjuk satu-satu wajah Dimas, Aga dan Thoriq yang sedang duduk di sofa dari atas ranjangnya.


"Iya... ganteng-ganteng ya..." Dokter Dara turut mengikuti kecentilan Zeline. Namun wajahnya nampak berusaha menahan tawanya melihat gadis kecil menggemaskan di depannya saat ini.


"Bagaimana keadaan Zel Dokter?" Tanya Naina setelah Dara memeriksa keadaan tubuh Zeline.

__ADS_1


"Keadaannya sudah semakin membaik. Besok pagi saya akan kembali memeriksa keadaan Zeline. Untuk sekarang hanya perlu meminum obat yang diberikan suster nantinya agar kondisinya benar-benar pulih dan jangan lupa agar Zeline makan dengan teratur." Saran Dokter Dara yang mengetahui jika Zeline sangat sulit untuk makan.


"Baik Dokter." Balas Naina.


"Kalau begitu saya permisi dulu." Pamit dokter Dara yang diangguki oleh Naina setelah mengucapkan terimakasih.


"Tak Mala kok belum pulang juga Tak?" tanya Zeline yang sedari tadi menunggu kedatangan Amara.


"Kita tunggu saja... Sebentar lagi Kak Mara akan sampai." Balas Naina yang diangguki paham oleh Zeline.


Di luar ruangan rawat Zeline, Dokter Dara nampak menatap seseorang yang kini berada di depannya dengan wajah bingung.


"Daniel... Sedang apa kau di sini?" Tanyanya bingung karena bertemu dengan Daniel tak jauh dari ruangan rawat Zeline.


***


Lanjut?


Vote, komen dan likenya dulu ya😉

__ADS_1


__ADS_2