
"Apa maksud ucapan Kakak?" Tanya Naina dengan detak jantung yang berdetak semakin kencang.
"Tidak perlu memikirkannya. Ayo duduk dulu." Ajak Aga menuntun Naina menuju sofa yang ada di ruangan tengah. "Tunggulah sebentar. Aku ingin kebelakang lebih dulu." Ucap Aga lalu kembali bangkit dari duduknya.
"Kakak ingin apa?" Tanya Naina menahan pergelangan tangan Aga.
"Hanya membuatkan minuman untukmu." Ucap Aga.
"Tidak perlu, Kak. Aku bisa membuatnya sendiri." Naina berniat beranjak. Namun Aga dengan cepat menahan pergerakannya.
"Hanya pekerjaan kecil dan aku bisa mengerjakannya. Tunggulah di sini. Aku akan kembali sebentar lagi." Ucap Aga dengan lembut.
Naina menurutinya. Ia tidak ingin terlibat perdebatan kecil dengan Aga. Sembari menunggu Aga kembali, Naina menghirup pasokan oksigennya yang terasa berkurang.
"Kau harus bisa Naina." Ucap Naina menguatkan tekadnya. "Kali ini tidak boleh gagal lagi." Ucapnya lagi meyakinkan diri.
Beberapa menit berlalu Aga pun telah kembali dengan minuman di tangannya.
"Minumlah." Ucapnya setelah meletakkan secangkir teh hangat di depan Naina.
"Terimakasih, Kak." Balas Naina lalu menyeruput teh hangat buatan Aga.
__ADS_1
Aga mengangguk lalu turut menyeruput tehnya.
"Apa kau suka suasana di dalam rumah ini?" Tanya Aga setelah meletakkan kembali gelasnya di atas meja.
"Aku menyukainya. Namun apa Kakak betah tinggal di rumah sebesar ini seorang diri?" Tanya Naina dengan hati-hati karena takut menyinggung perasaan Aga.
Aga terdiam beberapa saat sebelum menjawab. "Akan lebih tidak betah jika aku tinggal di rumah Papa yang terus membuatku merasa kehilangan. Setidaknya di rumah ini aku bisa mengekspresikan kesedihanku tanpa satu orang pun yang tahu."
Naina pun merasa bersalah dengan pertanyaannya yang membuat wajah Aga kembali berubah. "Maaf. Aku tak bermaksud—"
"Tak masalah. Pertanyaanmu sama persis dengan pertanyaan Sasa, Dimas dan Thoriq."
"Ya. Satu bulan sekali mereka pasti mengunjungi rumah ini."
Naina mengangguk paham. Pantas saja waktu itu Sasa terlihat aneh saat Thoriq menanyakan kebiasan mereka berganti pakaian di rumah Kak Aga. Apa mungkin Kak Aga juga merahasiakan tempat tiggalnya dari orang-orang yang tidak terlalu dekat dengannya? Batin Naina bertanya-tanya.
"Apa kau sudah selesai melamun?" Tanya Aga membuat Naina tersadar dari lamunannya.
"Eh." Naina menggaruk kepalanya. Merasa malu karena Aga mengetahui jika ia sedang melamun.
"Ayo ikut aku." Ajak Aga mengulurkan sebelah tangannya pada Naina.
__ADS_1
"Kemana, Kak?" Tanya Naina merasa bingung namun tetap menerima uluran tangan Aga.
"Ikut saja dan bawa minumanmu." Titah Aga lalu mengambil minumannya yang belum habis.
Naina menurutinya. Kakinya berjalan mengikuti langkah Aga yang membawanya keluar dari dalam rumah. Ternyata Aga membawanya ke taman yang ada di samping rumahnya.
"Ayo duduk dulu." Ajak Aga melihat Naina yang masih terpukau pada pemandangan di depannya.
"Agh, iya, Kak." Balasnya lalu segera duduk di kursi kayu yang bersebelahan dengan Aga.
"Naina... kau masih ingat bukan apa tujuanku mengajakmu ikut bersamaku malam ini?" Tanya Aga dengan tatapan serius pada Naina.
Naina sedikit memiringkan tubuhnya Agar dapat melihat jelas wajah Aga.
"Ada hal penting yang ingin Kakak bicarakan padaku?" Ucap Naina yang diangguki oleh Aga.
"Maaf jika keputusanku saat ini terlalu terburu-buru. Namun aku tidak ingin mengulur waktu lebih lama lagi menyampaikan niat baikku yang ingin aku katakan kepadamu."
***
Berikan dukungan dengan cara Vote, like dan komennya dulu yuk untuk lanjut ke bab berikutnya😊
__ADS_1