
"Bu... Tak..." Suara Zeline yang terdengar sambil memukul pintu kamar ibu membuat percakapan mereka terhenti.
"Zeline sudah pulang sepertinya." Ucap Ibu yang diangguki oleh Naina.
"Nai buka pintunya dulu ya, Bu." Ucap Naina lalu beranjak membukakan pintu. Di depan pintu, wajah Zeline nampak terlihat muram kepadanya.
"Napa kunci pintu, Tak? Zel inda bisa masuk ini." Ucapnya sedikit kesal.
"Zel mau ketemu Ibu?" Tanya Naina yang diangguki oleh Zeline.
"Mau kasih uid ini." Ucapnya sambil menunjukkan selembar uang bewarna hijau di tangannya.
"Loh uang untuk apa?" Tanya Naina merasa bingung.
"Balik uang Tak Mala tadi jajan. Kata Tak Mala punya Ibu ini." Balas Zeline.
Naina mengangguk lalu membiarkan Zeline untuk masuk menemui Ibunya. Naina pun lebih memilih untuk keluar dari dalam kamar Ibu menuju kamarnya untuk mempersiapkan baju ganti untuknya dan Zeline setelah mandi.
__ADS_1
"Sepertinya baju-baju aku dulu banyak yang sudah tidak terpakai. Lebih baik besok aku mengasingkannya selagi masih libur." Ucap Naina saat mengambil bajunya di dalam lemari.
Namun sebuah foto yang tiba-tiba terjatuh dari sela bajunya membuat Naina tertegun.
"Daniel...." Gumam Naina saat mengambil beberapa lembar foto Daniel saat masih kuliah dulu yang terjatuh di atas lantai. "Kenapa foto-fotonya masih ada di sini?" Lirih Naina lalu membereskan beberapa lembar foto yang berserakan itu.
Naina memegang dadanya. Merasakan detakan jantungnya yang berdetak begitu cepat saat melihat wajah Daniel walau hanya di foto saja.
Dia adalah ayah dari anakku... Batin Naina sambil mengelus lembut foto Daniel. Tak ingin larut dalam masa lalu, Naina pun kembali meletakkan foto Daniel di bawah lipatan bajunya lalu menutup pintu lemarinya.
*
Pukul dua malam, Naina nampak terbangun dari tidurnya saat mendengar suara putrinya yang mengigau.
"Mam Es trim ya, Tak..." Racau Zeline dalam tidurnya.
Naina menarik sebelah bibirnya ke samping. Dalam tidurnya sekali pun Zeline masih saja mengingat makanan kesuakaannya itu.
__ADS_1
"Cup... Cup... Bobo yang nyenyak anak Mama..." Ucap Naina sambil mengelus rambut putrinya.
Naina menatap sendu wajah putrinya saat mengingat percakapan ia dan ibunya tadi sore. "Anakku... Apakah sudah saatnya Mama memberitahukan padamu jika kau adalah anakku bukan adikku?" Ucap Naina dengan pelan.
"Daniel..." Lirih Naina saat menyebut nama ayah dari anaknya. Pria yang telah menorehkan luka di hatinya.
Dia benar. Aku memang wanita bodoh yang begitu mudahnya memberikan mahkotaku padanya begitu saja. Atas nama cinta aku relakan semuanya. Namun satu hal yang tak pernah aku sesali dalam hidupku, hadirnya Zeline sebagai malaikat kecil yang akan selalu menjadi penyemangat hidupku. Batin Naina sambil menatap wajah lelap putrinya.
Bayangan masa lalu pun mulai berkeliaran di pemikiran Naina. Dimana saat itu Daniel mengajaknya untuk mengerjakan tugas kuliah mereka bersama di apartemen miliknya. Naina yang saat itu meragu pun akhirnya menurut dengan ajakan Daniel. Lagi pula ia sangat menantikan waktu berduaan dengan kekasih hatinya itu setelah sekian lama berpacaran diam-diam.
"Ini apartemenmu?" Tanya Naina saat memasuki apartemen Daniel.
Daniel mengangguk. "Ya. Ini apartemenku sekaligus tempat tinggalku setelah aku lulus SMA." Balas Daniel lalu menuntun Naina untuk berjalan lebih masuk ke dalam apartemennya.
***
Lanjut lagi kalau like, komen dan votenya banyak ya, hehe😌
__ADS_1