Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Ini bukan dirimu


__ADS_3

Beberapa orang pria yang mencoba mendekatinya mengurungkan niatnya saat wanita itu mengarahkan sebuah botol yang sudah ia pecahkan ke arah mereka. Wanita itu terus menangis seorang diri hingga satu jam lamanya. Ia nampak berantakan dan menyedihkan. Di sudut ruangan, seorang pria terlihat baru saja menghubungi seseorang untuk mengabari kekacauan wanita itu.


Tak memakan waktu lama, seseorang yang dihubungi itu pun datang dengan masih mengenakan seragam pakaian di pernikahan Naina dan daniel.


"Queen..." mendengar suara yang dikenalinya membuat Queen mengurungkan niatnya untuk mengangkat pecahan botol di tangannya.


"Kevin..." Queen tersenyum melihat wajah Kevin walau samar-samar.


"Ada apa denganmu? Kenapa kau seperti ini?" Kevin dengan berani mengambil pecahan botol di tangan Queen lalu memberikannya pada seorang pria yang berdiri di belakangnya.


"Apa aku terlihat begitu menyedihkan?" Queen tertawa namun air mata mengalir di kedua pipinya.

__ADS_1


"Kau sungguh kacau." Kevin menggelengkan kepalanya. Ia sungguh merasa iba melihat keadaan Queen saat ini.


"Kenapa aku tidak pernah di takdirkan untuk bahagia?" Queen mulai meracau tidak jelas. Kepalanya semakin pusing saat suara dentuman musik mulai terdengar cukup keras di telingnya.


"Lebih baik Tuan membawa Nona Queen pergi dari sini." Saran pria di belakangnya.


Kevin menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Melihat kondisi Queen saat ini Kevin dapat menebak wanita itu sedang tidak baik kondisi hatinya. "Ayo kita pergi dari sini." Kevin mencoba menegakkan tubuh Queen.


"Aku tidak mau, aku masih tetap ingin di sini!" Queen berusaha memberontak dengan kondisi tubuhnya yang sudah lemah. "Lepaskan aku, Kevin!" Pekik Queen.


"Apa yang kau lakukan!" Queen memukul dada bidang Kevin dengan kuat. "Cepat turunkan aku! Aku masih tetap ingin di sini!" Queen menggoyangkan kedua kakinya berharap tubuhnya bisa terlepas dari gendongan Kevin.

__ADS_1


Kevin terus berjalan dengan langkah lebar keluar dari dalam bar menuju parkiran dimana mobilnya berada. Karena Queen tak lagi memberontak meminta diturunkan, Kevin pun dengan tenang mendudukkan Queen di kursi sebelah kemudi. Setelah menutup pintu mobil, Kevin segera memutari mobilnya lalu masuk ke dalam mobilnya.


"Jangan antar aku pulang." Lirih Queen saat mobil mulai berjalan.


Kevin mengarahkan pandangannya pada Queen. "Kau harus pulang. Aku tidak ingin kau menghancurkan dirimu sendiri di tempat seperti tadi. Itu bukanlah dirimu." Tutur Kevin.


"Aku ingin ikut denganmu." Ucap Queen tanpa menjawab ucapan Kevin. "Tolong bawa aku ikut dengamu." Queen mulai menangis. Melihat itu Kevin pun terpaksa menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Karena jarak bar dengan apartemennya tidak terlalu jauh, sepuluh menit kemudian Kevin dan Queen pun telah sampai di apartemen milik Kevin. Dengan susah payah Kevin menggendong tubuh Queen dari parkiran hingga masuk ke dalam kamarnya karena Queen tertidur saat di perjalan tadi.


"Kau terlihat begitu kacau. Maafkan sahabatku jika tidak bisa membalaskan perasaanmu selama ini." Lirih Kevin menatap wajah sembab Queen. Kevin pun dengan hati-hati melepaskan sepatu yang masih melekat di kaki Queen agar Queen merasa nyaman dalam tidurnya. Setelahnya ia pun mulai menyelimuti tubuh Queen.

__ADS_1


"Semoga besok kondisi hatimu semakin membaik." Kevin menatap sejenak wajah cantik Queen setelah menyelimutinya. Saat hendak menjauhkan tubuhnya keluar dari dalam kamarnya, Kevin dibuat terkejut saat tangannya tiba-tiba dicekal oleh Queen.


***


__ADS_2