
"Ayo turun. Kita makan di sini." Ucap Aga setelah memarkirkan motornya di depan gerobak penjual nasi goreng.
"Iya Kak." Balas Naina lalu turun dengan memegang pundak Aga.
"Ini kenapa susah sekali membukanya, Kak." Ucap Naina berusaha membuka gesper helmnya.
"Sini biar aku bukain." Ucap Aga lalu mendekat dan membukakan gesper helmnya.
Pergerakan Aga pun berhasil membuat Naina menahan nafasnya. "Terimakasih, Kak." Ucap Naina setelah gesper helmnya terbuka.
"Iya, sama-sama." Balas Aga lalu merapikan rambut Naina yang sedikit berantakan.
"Kak Aga..." Naina mengangkat wajahnya. Menatap wajah Aga yang saat ini begitu dekat dengan wajahnya.
"Iya... Ayo masuk." Ajak Aga lalu memegang tangan Naina.
Lagi-lagi pergerakan Aga dan Naina pun tak lepas dari pandangan pria yang saat ini tengah menatap mereka dengan tajam dan tangan yang terkepal.
"Rame sekali ya, Kak." Ucap Naina menatap pada padatnya pengunjung.
"Iya. Karena nasi goreng di sini memang sudah terkenal dengan cita rasanya yang enak." Ucap Aga lalu menuntun Naina menuju bangku yang masih kosong setelah mengucapkan pesanan mereka kepada penjual nasi goreng.
"Kakak suka makan di pinggir jalan juga?" Tanya Naina merasa ragu.
__ADS_1
"Tentu saja. Kenapa tidak?" Tanya Aga kembali.
"Aku pikir orang seperti Kakak tidak suka makan di pinggir jalan." Balas Naina dengan pelan.
"Kau tadi bicara apa?" Tanya Aga yang tidak terlalu jelas mendengar ucapan Naina.
"Tidak ada, Kak." Balas Naina yang diangguki saja oleh Aga.
Tak lama menunggu, akhirnya pesanan mereka pun telah tersaji di atas meja.
"Bagaimana rasanya? Enak tidak?" Tanya Aga setelah satu suap nasi goreng itu masuk ke dalam mulut Naina.
"Rasanya sangat enak, Kak!" Balas Naina tersenyum senang seperti anak kecil.
Aga yang melihat reaksi Naina pun tak dapat menyembunyikan senyumannya seperti biasanya.
"Ya... Kami memang sangat mirip, Kak." Balas Naina mencoba bersikap biasa saja.
Aga mengangguk. "Sepertinya kau terlalu menyayanginya sehingga dia tidur juga bersamamu."
"Ya. Sejak bayi aku memang selalu ingin Zel berada di dekatku, Kak." Balas Naina lalu kembali menyuapkan satu sendok nasi goreng ke dalam mulutnya. Karena aku tidak ingin berjauhan dengan anakku. Lanjut batin Naina.
Aga mengangguk paham. Namun entah mengapa perasaannya merasa aneh saat mendengarkan jawaban Naina yang terasa mengganjal di pemikirannya.
__ADS_1
"Setelah makan kita ke taman S saja ya?" Tawar Aga saat mengingat misi ia malam ini.
"Boleh, Kak. Nai ikut saja." Balas Naina dengan tersenyum.
Di dalam mobil hitam itu, Daniel masih setia menatap interaksi Naina dan juga Aga walau tidak terlalu jelas.
"Apa kita masih akan tetap berada di sini, Tuan?" Tanya Marko setelah hampir dua puluh menit mereka berdiam diri di dalam mobil.
"Ya. Tunggu sampai mereka keluar." Titah Daniel yang diangguki oleh Marko.
Tak lama, Naina dan Aga pun sudah nampak keluar dari dalam tenda penjual nasi goreng.
"Biar aku saja yang memakaikan helmnya." Ucap Aga saat Naina berniat memasangkan helm di kepalanya.
"Baikalah, Kak." Ucapnya menurut lalu mendekat pada Aga.
"Kau terlihat seperti wanita berumur 19 tahun saja." Ucap Aga memperhatikan tubuh Naina yang mungil dan pendek serta wajahnya yang imut.
Sontak pujian Aga pun berhasil membuat rona merah menyembul di kedua pipi Naina. Tak ingin Aga melihat rona merah di wajahnya, Naina pun meminta Aga agar cepat naik ke atas motornya.
"Ikuti motor Aga." Titah Daniel saat motor Aga sudah kembali melaju di jalan raya.
"Baik, Tuan." Ucap Marko dengan patuh.
__ADS_1
***
Lanjut lagi kalau komen, vote dan likenya banyak aja deh😌