
"Lepaskan aku! Kau jangan kurang ajar Daniel!" Naina memberanikan diri melepaskan dengan kasar tangan Daniel yang masih berada di kepalanya. Kedua matanya kini menatap nyalang pada Daniel. "Lepaskan aku! Lepaskan!" Naina mencoba mendorong dada Danile dengan kedua tangannya. Namun usahanya gagal karena Daniel lebih cepat merapatkan tubuh mereka hingga mengikis sedikit jarak di antara mereka.
"Kau terlihat lebih berani." Daniel mengangkat dagu Naina hingga kedua mata mereka saling beradu. Daniel dibuat terdiam beberapa saat karena menyadari tatapan mata Naina kepadanya sudah berbeda sejak terakhir mereka bertemu beberapa tahun yang lalu. Tatapan penuh cinta itu sirna berganti dengan tatapan penuh kebencian.
"Lepaskan aku atau aku akan teriak!" Ancam Naina.
"Silahkan saja. Bahkan tidak ada satu orang pun yang bisa mendengarkan suaramu sekali pun kau berteriak hingga pita suaramu putus." Daniel menarik sebelah bibirnya ke samping.
Naina dibuat terdiam. Ia begitu bodoh tidak menyadari jika di ruangan Daniel pasti sudah dipasang penyadap suara.
"Apa maumu Daniel?" Suara Naina terdengar melemah. "Kenapa kau bersikap seperti ini? Apa lagi salahku kepadamu sehingga kau selalu bersikap seenaknya kepadaku?" Nafas Naina terdengar naik turun.
Daniel memundurkan sedikit tubuhnya. Memberikan ruang pada Naina untuk menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.
__ADS_1
"Kau ingin tahu apa kesalahanmu, hem?" Tanya Daniel dengan tatapan yang sudah berubah tajam.
"Apa karena aku bekerja di perusahaanmu? Apa karena sampai saat ini aku belum mengundurkan diri dari sini begitu? Kau pikir aku ingin berada di keadaan seperti ini sedangkan aku sudah tahu jika aku kini berdekatan dengan pria jahat sepertimu yang dengan sialnya menjadi atasan di tempatku bekerja!" Ucap Naina dengan lantang. Entah dari mana keberaniannya berbicara seperti itu kepada Daniel. Namun dapat dilihat jika saat ini wajah Naina sudah memerah menahan sesak dan amarah di dadanya.
"Jika aku bisa aku akan mengundurkan diri dari perusahaan ini sekarang juga. Atau bila perlu kau saja yang memecatku sehingga aku bisa keluar tanpa harus bersusah payah. Dan aku bisa berada jauh dari pria jahat dan berengsek seperti dirimu!" Ucapnya kemudian karena Daniel hanya diam saja.
"Apa kau sudah selesai berbicara?" Wajah Daniel berubah dingin. Tatapannya kian menajam setelah mendengar setiap umpatan dan cacian dari Naina untuknya.
"Kau pria kejam Daniel!" Naina kembali mengumpat.
"Lalu apa bedanya aku denganmu?" Daniel yang sudah semakin geram angkat bicara. "Lebih berengsek mana aku dari pada dirimu Naina?"
"Kau! Kau pria berengsek yang dengan tidak punya hati mempermainkan hati dan tubuhku sebagai bahan taruhan murahanmu dan teman-temanmu!" Air mata Naina tanpa terasa menetes. Namun Naina segera menghapusnya dengan kasar. "Kau bukan hanya memepermainkanku, tapi kau juga merusaknya!" Dada Naina terlihat naik turun. Sesak di dadanya kian mengilang dengan berbagai ucapan yang keluar dari mulutnya.
__ADS_1
"Jika aku berengsek lalu bagaimana denganmu? Sebutan apa yang pantas untuk wanita ... agh bahkan seorang ibu seperti dirimu yang dengan tega-teganya merubah status anakmu menjadi adikmu? Ibu macam apa dirimu yang dengan tega tidak mengakui kenyataan jika gadis kecil yang lahir dari dalam rahimmu itu adalah anakmu?!"
***
Lanjut lagi ya kalau vote, komen dan likenya banyak☺
Sambil menunggu cerita DABA update, kalian bisa mampir ke novel aku yang lainnya, ya☺
- Hanya Sekedar menikahi (On Going)
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
- Oh My Introvert Husband (End)
__ADS_1