Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Zeline demam?


__ADS_3

Hari keberangkatan Ibu dan ayah pun tiba. Sesuai perkataan Amara tempo hari, Zeline benar-benar tidak ingin ikut dengan ibunya jika Naina tidak ikut.


"Gak apa ini Zel tinggal sama Kakak?" Tanya Ibu memastikan kembali pada cucunya.


"Inda pa, Bu. Zel sama Tatak ja sini." Ucap Zeline sambil memainkan boneka kesayangannya.


"Ya sudah. Zel baik-baik ya di rumah sama Kak Mara kalau Kak Nai pergi bekerja." Pesan Ibu.


Zeline kecil hanya mengangguk. Wajah gadis kecil itu nampak biasa-biasa saja ditinggal oleh nenek yang ia anggap sebagai ibunya itu.


Setelah memasukkan barang-barang keperluan ayah dan ibu ke dalam mobil, Naina dan Amara pun melepas kepergian Ibu dan Ayahnya dengan Zeline berada di gendongan Naina.


"Baik-baik di rumah. Jika ada apa-apa segera kabari ibu." Pesan ibu pada anak-anaknya.


Amara dan Naina mengangguk. "Ibu dan Ayah hati-hati di jalan. Dan kabari kami jika sudah sampai." Amara yang aslinya anak bungsu itu memeluk ibunya erat lalu bergantian dengan ayahnya.


"Ayah dan Ibu berangkat dulu. Amara... jaga adikmu dengan baik saat kakakmu sedang bekerja." Pesan Ayah yang diangguki oleh Amara.


Sore itu, ayah dan ibu pun berangkat setelah berpamitan pada anak-anaknya dan cucunya.


"Ibu dan Ayah udah pelgi itu, Tak." Ucap Zeline lalu menjatuhkan wajahnya di bahu Naina.

__ADS_1


"Iya... Zel sedih ya gak ikut Ibu?" Tanya Naina sambil mengelus rambut putrinya.


"Inda, Tak. Kan ada Tak Nai dan Tak Mala." Ucap Zeline dengan nada biasa saja.


Naina tersenyum kecil. "Ya sudah. Amara... Ayo masuk!" Ajak Naina pada Amara yang diangguki oleh Amara.


*


Malam harinya, Naina terlihat tengah kesusahan menidurkan Zeline yang tidak kunjung menutup matanya.


"Zeline... ayo tidur... sudah malam ini..." Ucap Naina sambil memeluk putrinya yang masih membuka mata. Jika biasanya Zeline akan tertidur setelah meminum susu, namun berbeda dengan malam ini. Putri kecil Naina itu nampak sulit untuk ditidurkan.


Beberapa menit berlalu, Naina pun terus berusaha menidurkan Zeline hingga akhirnya Zeline benar-benar tertidur.


"Tumben sekali rewel hari ini." Ucap Naina dengan pelan lalu mencium lembut kening putrinya.


Setelah memastikan Zeline sudah terlelap dengan nyaman dalam tidurnya, Naina pun turun dengan hati-hati dari ranjang lalu keluar dari dalam kamarnya.


"Zel baru tidur, Kak?" Tanya Amara yang sejak tadi menunggu Naina keluar dari dalam kamarnya.


Naina mengangguk. "Zel susah banget ditidurin tadi." Jelas Naina yang diangguki paham oleh Amara.

__ADS_1


"Ayo makan dulu Kak baksonya selagi masih hangat." Ucap Amara menunjuk pada dua mangkok bakso yang sudah ia persiapkan di atas meja.


Naina mengangguk lalu berjalan menuju meja makan untuk memakan bakso yang dibelikan Amara.


Jarum jam pun terus berputar ke arah kanan, setelah menghabiskan satu mangkok bakso dan bercerita bersama Amara, Naina pun kembali masuk ke dalam kamarnya.


Dengan hati-hati Naina pun naik ke atas ranjang agar tidak membangunkan Zeline. Pada saat Naina menyingkap rambut yang menutupi wajah putrinya, Naina dibuat terkejut saat merasakan kening Zeline yang terasa hangat.


"Zeline..." Naina yang merasa ragu itu kembali meletakkan telapak tangannya di kening Zeline. "Zel demam?" Gumam Naina merasa cemas.


***


Lanjut?


Kasih semangat dulu yuk dengan cara


Vote


Like


Dan komennya😮‍💨

__ADS_1


__ADS_2