Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Kesedihan di balik kebahagiaan


__ADS_3

"Kau ini..." Naia menggelengkan kepalanya. Lalu melangkah meninggalkan Amara menuju dapur untuk mencari keberadaan ibu dan bibinya.


"Naina, apa Zel sudah tidur?" tanya Ibu saat melihat kedatangan Naina.


Naina menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Ibu sedang apa? Kenapa belum istirahat juga?" Naina mendekat pada Ibunya yang sedang sibuk membersihkan piring-piring kotor.


"Hanya sedikit pekerjaan. Sebentar lagi Ibu juga akan istirahat." Tutur Ibu.


"Naina... tolong bawakan makanan ini ke depan untuk ayah dan suamimu." Bibi Ajeng memberikan satu piring berisi makanan kue basah kepada Naina.


"Baik, Bibi, kalau begitu Nai ke depan dulu. Bibi dan Ibu jangan terlalu lelah. Masih ada esok hari untuk membereskannya." Ucap Naina.


Ibu dan Bibi Ajeng mengangguk saja. Naina pun keluar dari dalam dapur menuju luar rumahnya untuk memberikan makanan pada Daniel dan Ayah yang tengah berbincang bersama saudaranya dari desa.

__ADS_1


*


Pukul sepuluh malam, Daniel terlihat memasuki kamar Naina dengan langkah pelan agar tidak menimbulkan suara. Dilihatnya ke arah ranjang dimana Naina sudah tidur sambil memeluk putri. Ada rasa haru yang Daniel rasakan saat melihat pemandangan yang terlihat begitu manis di depannya saat ini.


"Naina... Zeline..." Daniel semakin mendekat ke arah ranjang agar dapat melihat kedua wajah wanita yang sangat dicintainya. "Papa sangat mencintai kalian." Lirih Daniel sambil mengelus kepala Zeline.


Cukup lama Daniel berdiri di sisi ranjang untuk memperhatikan wajah Naina dan Zeline yang terlihat damai dalam tidurnya. Perasaan bersalah pun mulai datang kembali menghampiri Daniel saat memikirkan jika Naina selama ini berjuang membesarkan putrinya tanpa ada sosok suami di sampingnya. Pasti selama ini Naina melewati hari-harinya dengan berat sebab menjadi ayah sekaligus ibu untuk putrinya. Terlebih Naina tidak bisa mengungkapkan jati dirinya yang sebenarnya pada Zeline.


Setelah puas menatap wajah Naina dan Zeline dan merenungi kesalahannya selama ini, Daniel pun berjalan meninggalkan ranjang ke kamar mandi.


*


Di sebuah bar yang cukup terkenal di kotanya, seorang wanita cantik nampak berdiam diri di salah satu meja sambil meneguk segelas wine yang baru saja diberikan pelayan kepadanya.

__ADS_1


"Minuman apa ini? Kenapa rasanya tidak enak sekali." Kening wanita itu nampak berkerut merasakan minuman yang terasa tidak mengenakkan di lidahnya. Sepertinya ia tidak mengetahui minuman apa yang diberikan pelayan itu kepadanya karena ia tadi hanya asal memesan saja.


Cukup lama ia berada di salah satu meja dalam bar meratapi nasib hidupnya yang begitu buruk. Malam ini untuk kedua kalinya ia datang ke tempat hiburan itu hanya sekedar meluapkan rasa kesedihannya karena orang yang sama.


Wajah cantiknya perlahan basah oleh bulir-bulir air mata yang semakin berjatuhan membasahi pipinya. Wanita itu terus menangis hingga membuat beberapa orang menatapnya dengan iba. Sangking larut dalam kesedihannya, ia tidak menyadari jika kini sudah dua gelas wine yang masuk ke dalam mulutnya.


Hoek


Perutnya terasa bergejolak karena tubuhnya tidak dapat menerima minuman yang baru masuk ke dalam perutnya untuk pertama kalinya. Kepalanya mulai terasa pusing dan pandangannya mulai kabur. Beberapa saat kemudian wanita itu meracau tidak jelas mengungkapkan rasa sedihnya saat ini.


***


Jangan lupa berikan dukungan untuk Naina dan Daniel dengan cara like, komen, vote dan giftnya. Semakin banyak dukungannya, SHy semakin semangat menulisnya ini🌹

__ADS_1


Sambil menunggu DABA update, silahkan mampir di karya SHy yang lainnya, ya. Hanya Sekedar Menikahi (End), Serpihan Cinta Nauvara (End), Oh My Introvert Husband (End), Bukan Sekedar Menikahi (On Going).


Terimakasih☺️


__ADS_2