Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Hadiah untuk Mamah


__ADS_3

"Apa Om ada uang?" Tanya Zeline dengan pelan. Menelengkan kepalanya agar dapat melihat wajah Marvel yang ada di sampingnya. "Mahal ini loh kasulnya. Mamah ja inda ada uang itu." Lanjutnya kemudian.


Marvel tertawa kecil lalu mengelus kepala Zeline. "Ada... Zel tenang saja." Balas Marvel.


Senyuman di wajah Zeline terkembang. "Benel ini mau beli kasul untuk Zel dan Mamah?" Tanyanya memastikan.


Anggukan dari kepala Marvel membuat Zeline melompat-lompat.


"Asik..." serunya hingga membuat beberapa mata kini menatap ke arah mereka termasuk Ibu dan Daniel yang sedang berbicara dengan pramuniaga.


Marvel mencondongkan tubuhnya ke arah Zeline. "Tapi Zel harus ingat kalau ini rahasia." Bisik Marvel.


"Rahasia?" Ulanh Zeline dengan kening mengkerut.


Marvel mengangguk. "Karena ini adalah rahasi, jadi Zel tidak boleh memberitahukannya pada Mama dan juga Papa. Dan—" Marvel pun kembali berbisik di telinga Zeline.


Entah apa yang Marvel katakan namun pada alkhirnya Zeline nampak mengangguk mengiyakan bisikan Marvel.


"Apa yang kau lakukan pada putriku?" Kedatangan Daniel membuat Marvel menjauhkan tubuhnya dari Zeline.


"Aku tidak melakukan apa-apa." Balas Marvel dengan santai.


Daniel tak percaya begitu saja. Pandangannya beralih pada putrinya. "Zeline... Apa ketiga Oom ini berbuat tidak baik pada Zel?" Tanya Daniel.

__ADS_1


Zeline menatap Marvel yang kini mengedipkan sebelah matanya lalu menggeleng.


"Inda, Pah. Oom baik ini kok temenin Zel sini." Balas Zeline dengan tersenyum.


Daniel kembali mengarahkan pandangan pada Marvel. "Awas saja kalau kau berbuat hal yang buruk pada putriku!" Tekan Daniel.


"Tidak akan. Lagi pula kami sangat menyayangi keponakan kami ini." Tangan Marvel mengelus kepala Zeline hingga membuat wajah Zeline memerah malu-malu.


"Om danteng..." lirihnya lalu menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.


*


"Apa Zel senang bermain dengan Papa hari ini?" Tanya Ibu setelah melepas kepergian Daniel siang itu.


Ibu menatap wajah cucunya dengan intens. Sungguh saat ini Ibu dilanda kebingungan untuk menjawab ucapan cucunya. Apa lagi mengingat bagaimana tanggapan Zeline nantinya jika mengetahui Aga akan menjadi ayah sambungnya. Pastilah cucunya yang masih balita itu sangat bingung dengan keadaan yang dialaminya.


"Nenek.... napa diam?" Tanya Zeline.


Ibu tersadar dari lamunannya lalu menatap Zeline seraya tersenyum. "Sebaiknya kita masuk ke dalam dan istirahat. Setelah itu Zel membantu Nenek memasak untuk makan malam." Ajak Ibu.


"Ya Nek. Ayo masuk! Zel mau bantu Nenek nanti itu potong sayul!" Balas lalu memegang jari telunjuk ibu masuk kedalam rumah.


*

__ADS_1


"Mamah..." wajah Zeline nampak begitu riang menyambut kepulangan Naina sore itu.


"Zeline..." lelah di wajah Naina hilang seketika saat melihat senyuman di wajah putri kecilnya. Naina pun berjongkok lalu merentangkan kedua tangannya.


"Mamah..." Zeline mengecup kedua pipi Naina saat sudah berada di dalam dekapan Naina.


"Anak Mamah kenapa sepertinya senang sekali?" Tanya Naina sambil membawa Zeline masuk ke dalam rumah.


"Senang tadi itu pelgi sama Papah." Balas Zeline.


"Oh..." Naina mengangguk paham. "Senang ya main sama Papa?" Tanya Naina kemudian.


Zeline mengangguk membenarkan. "Mamah... Zel ada hadiah ini buat Mamah." Ucap Zeline sambil mengelus pipi Naina.


"Hadiah?" Kening Naina mengkerut.


"Ya Mah. Bental lagi hadiahnya mau datang itu. Mamah telima yah!" Pinta Zeline dengan mata berkedip-kedip.


***


Lanjut? Berikan vote, gift dan komennya dulu yuk untuk lanjut ke bab berikutnya. Buat teman-teman yang masih mengikuti DABA sampai sejauh ini SHy ucapkan terimakasihšŸ¤šŸ¤


Sambil menunggu DABA update, silahkan mampir di karya baru aku Bukan Sekedar Menikahi🌹

__ADS_1


__ADS_2