
"Dokter Dara... anda masih berada di sini?" Tanya Amara yang baru saja keluar dari dalam ruangan rawat Zeline.
Dokter Dara yang masih termenung itu nampak terkejut saat melihat Amara sudah berada di depannya.
"Dokter Dara... apa anda baik-baik saja?" Tanya Amara lagi sebab Dokter Dara belum menjawab pertanyaannya.
"Agh, ya. Saya baik-baik saja. Kalau begitu saya pamit dulu." Dokter Dara tersenyum kaku lalu buru-buru berjalan meninggalkan Amara.
"Dokter Dara itu aneh sekali." Kepala Amara menggeleng melihat tingkah Dokter Dara. Tak ingin terlalu memikirkan tingkah dokter Dara, Amara pun segera beranjak dari posisinya menuju bagian administrasi.
*
"Apa? Seluruh biaya Zeline sampai beberapa hari ke depan sudah ada yang membayarnya?" Amara dibuat begitu terkejut saat mendengar jika biaya pengobatan keponakannya sudah dilunasi bahkan untuk beberapa hari ke depan jika saja Zel masih dirawat.
"Benar Nona." Staff bagian administrasi itu tersenyum ramah.
"Tapi siapa yang membayarnya!" Amara mulai bingung.
"Untuk itu maaf karena kami tidak bisa memberitahukannya pada anda, Nona." Balasnya dengan tetap tersenyum.
"Kenapa tidak boleh? Saya berhak tahu siapa yang melunasi biaya pengobatan adik saya!" Amara mulai dibuat geram karena rasa penasarannya tak terbayar.
"Sekali lagi kami minta maaf, Nona." Wanita itu mengatupkan kedua tangannya pada Amara sebagai permohonan maaf sebab tidak bisa memberikan informasi yang wanita di depannya inginkan."
__ADS_1
Amara mendengus sebal. Setelah mengucapkan terimakasih, Amara pun segera berlalu dari sana dan berjalan cepat kembali ke ruang rawat Zeline.
*
"Apa? Tapi bagaimana bisa?" Naina yang mendengar penjelasan dari Amara pun turut dibuat terkejut atas apa yang didengarnya.
"Aku juga tidak tahu siapa orang itu, Kak. Pihak administrasi tidak mau memberitahukannya padaku!" Decak Amara.
Naina nampak berpikir. "Apa mungkin Kak Aga yang membayar biaya pengobatan Zel?" Ucap Naina menduga-duga.
"Mungkin saja. Kakak bisa menanyakannya nanti." Saran Amara yang diangguki oleh Naina.
"Napa Tak?" Zeline yang sejak tadi merasa bingung dengan percakapan dua kakaknya itu pun bertanya. "Malah-malah ja Tak Mala ini. Pala Zel atit ini jadinya." Rungutnya sambil memegang kepalanya dengan kedua tangan mungilnya.
"Atit ini..." ucapnya lagi merasa diabaikan.
"Iya, iya... Sakit ya kepalanya dengar suara Kak Mara." Mara mendekat ke ranjang Zeline lalu memberikan ciuman cukup lama di kedua pipinya.
"Tatak bau ih... lum mandi ya?" Tebak Zeline sambil menutup hidungnya.
"Enak saja. Kakak sudah mandi kok. Masa sih Kakak bau?" Amara yang dibuat penasaran dengan bau badannya pun mencium baju yang dikenakannya. "Tidak bau kok." Ucapnya menatap aneh Zeline.
"Memang tidak bau. Zel kan hanya belcanda. Soalnya Tak Mala belisik!" Ucapnya sambil menjulurkan lidahnya.
__ADS_1
"Kau ini..." Amara dibuat geram.
"Sudah-sudah... Kalian ini selalu saja..." Naina menggelengkan kepalanya. "Amara... bukankah pagi ini kau ada janji bertemu dengan temanmu?" Tanya Naina saat melihat jam menggantung di dinding sudah menunjukkan pukul delapan lewat.
"Agh, ya. Aku harus pergi dulu. Aku berjanji hanya sebentar saja, Kak." Ucap Amara.
"Jika urusanmu masih lama, kau tidak perlu buru-buru kembali. Karena ada Kakak di sini yang menjaga Zel." Ucap Naina menenangkan Amara.
"Baiklah Kak. Kalau begitu Mara pergi dulu." Pamitnya pada Naina lalu mencium singkat pipi bulat Zeline.
"Ya. Hati-hati di jalan." Pesan Naina yang diangguki oleh Amara.
"Huh, aku harus buru-buru bertemu dengan Agatha agar segera kembali ke rumah sakit." Gumam Amara saat sudah berada di luar ruangan rawat Zeline.
***
Lanjut lagi ya kalau vote, komen dan likenya banyak☺
Sambil menunggu cerita DABA update, kalian bisa mampir ke novel aku yang lainnya, ya☺
- Hanya Sekedar menikahi (On Going)
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
__ADS_1
- Oh My Introvert Husband (End)