
"Naina, Zel belum bangun?" Tanya Ibu saat melihat Naina masuk ke dalam dapur sambil membawa botol susu Zeline.
"Belum, Bu. Tadi malam Zel terbangun lagi tengah malam." Balas Naina sambil berjalan ke arah westafel lalu mencuci botol susu Zeline.
Ibu yang sedang membersihkan kompor sehabis memasak pun menghentikan kegiatannya lalu menatap putrinya.
"Kenapa Zel suka terbangun tengah malam satu minggu belakangan ini? Biasanya tidak seperti itu." Ucap Ibu merasa heran.
Naina menghela nafasnya. Meletakkan botol susu Zeline yang baru saja dicucinya di rak piring lalu duduk di kursi plastik dekat Ibu.
"Nai juga tidak tahu, Bu. Tengah malam Zel selalu terbangun dan menangis. Bahkan Zel bisa menangis sambil tertidur."
"Apa Zel masih suka mengigau saat tertidur?" Tanya Ibu.
"Mengigau? Apa maksud Ibu?"
"Apa Zel masih suka memanggil nama Ayahnya saat tidur?"
Deg
Naina terdiam. Menatap Ibunya dengan penuh tanda tanya.
"Saat tidur siang di toko Ayah waktu itu, Zel pernah mengigau sambil memanggil nama Daniel." Jelas Ibu.
"Apa benar seperti itu, Bu?" Naina benar-benar dibuat terkejut dengan ucapan Ibunya.
__ADS_1
"Ya. Bahkan kemarin malam Ibu sempat mendengar suara Zel memanggil nama Daniel."
"Semenjak terakhir kali Ibu dan Zeline bertemu dengan Daniel watktu itu, Zel selalu terbangun setiap malam." Ungkap Naina.
Ibu mencuci tangannya lalu ikut duduk di sebelah Naina.
"Apa Zeline sudah memiliki ikatan batin yang cukup kuat dengan Ayahnya sehingga di seperti itu?" Ucap Ibu menduga-duga.
"Nai juga tidak tahu, Bu." Lirih Naina. Melihat sikap putrinya akhir-akhir ini cukup membuat Naina merasa cemas atas apa yang dialami putrinya.
"Mungkin saja di bawah alam sadarnya Zeline merindukan sosok ayahnya, Nai." Ucap Ibu hati-hati.
Naina menghela nafas panjang. "Nai juga tidak tahu, Bu." Naina menutup wajahnya. Bebannya akhir-akhir ini semakin bertambah dengan keadaan putrinya.
"Sudahlah... Sebaiknya kau mandi dulu sebelum terlambat pergi bekerja." Ucap Ibu sambil mengelus punggung putrinya.
*
"Ibu, kenapa akhir-akhir ini Mara melihat Zel tidak ceria seperti biasanya?" Ucap Amara sambil memperhatikan Zeline yang sedang duduk di teras rumah sambil memainkan boneka beruang di tangannya.
Ibu yang turut memperhatikan sikap cucunya pun mengangguk. "Ibu juga merasa seperti itu." Balas Ibu.
"Bagaimana kalau siang ini kita membawa Zel bermain ke mall saja, Bu? Mall yang waktu itu Kakak pernah membawa Zel ke sana. Mungkin saja jika dibawa jalan-jalan Zel akan senang. Sekalian ada yang ingin Mara cari di sana dan Mara juga ingin membelikan Zel boneka baru untuk mainan Zeline." Tawar Amara.
Ibu nampak berpikir. Zeline memang sangat senang jika dibawa jalan-jalan. Dan mungkin saja dengan membawa cucunya pergi bersama Amara bisa membuatnya ceria lagi.
__ADS_1
"Baiklah. Ibu setuju." Balas Ibu tersenyum.
"Kalau begitu Mara akan mengabari Kak Nai dulu untuk membawa Zeline. Dan Ibu bersiap-siaplah." Ucap Amara yang diangguki oleh Ibu.
"Pelgi jalan-jalan, Bu?" Tanya Zeline dengan mata berbinar saat mendengar Ibunya akan membawanya pergi.
"Iya. Kita dan Kak Amara akan pergi ke mall yang waktu itu Zel dan Kak Nai pergi bermain." Jelas Ibu.
"Asik... Zel suka, Bu..." Zeline melompat-lompat. "Nanti main bola ya, Bu!" Pintanya dengan mata berkedip-kedip.
"Iya-iya." Balas Ibu tersenyum.
"Ayo blangkat, Bu!" Ucap Zeline lalu merentangkan kedua tangan mungilnya pada Ibu.
***
Lanjut?
Berikan dukungannya dulu yuk dengan cara like, komen, gift dan votenya.
Sambil menunggu cerita DABA update, kalian bisa mampir ke novel aku yang lainnya, ya☺
- Hanya Sekedar menikahi (On Going)
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
__ADS_1
- Oh My Introvert Husband (End)