
"Kakak ipar?" Dimas menyentil kening Sasa. "Memangnya Aga itu kakakmu, sehingga kau menyebut Naina kakak ipar." Cetus Dimas.
"Kau..." Sasa mengelus keningnya yang terasa sakit. "Karena aku sudah menganggap Aga sebagai kakakku sendiri." Serunya menatap sebal Dimas.
"Sudahlah... Kalian berdua ini kenapa selalu bertengkar." Lerai Thoriq yang sudah merasa jengah melihat pertengkaran spele antara Sasa dan Dimas setiap harinya.
Tak lama perdebatan mereka put terhenti saat Aga sudah kembali bergabung bersama mereka.
"Apa sudah selesai?" Tanya Aga memperhatikan piring teman-temannya yang sudah kosong.
"Sudah." Balas Dimas lalu beranjak berdiri.
"Baiklah. Ayo kembali ke perusahaan!" Ajak Aga yang diangguki Dimas dan Sasa yang masih duduk di kursi mereka.
"Aga... Kami memiliki satu misi lagi untukmu malam ini." Ucap Sasa saat sudah masuk ke dalam mobil.
"Misi apa lagi?" Tanya Aga menatap malas pada Sasa.
Sasa pun mulai menyampaikan misi apa yang ia maksud dan dibenarkan oleh Dimas dan Thoriq.
"Huh, baiklah." Balas Aga dengan datar.
Saat masuk ke dalam ruangan divisi Humas, Aga, Dimas, Thoriq dan Sasa dikagetkan oleh kehadiran Naina yang sudah kembali di dalam ruangan.
__ADS_1
"Naina... Kau sudah selesai bertugas di luar?" Tanya Sasa merasa heran.
"Ya. Hanya sedikit pekerjaan, sehingga aku diminta lebih dulu untuk kembali ke perusahaan oleh Mbak Wiwin." Balas Naina seraya tersenyum.
"Ooh... Seperti itu..." Balas Sasa yang diangguki oleh Naina. Hingga pandangan Naina pun kini terjatuh pada wajah Aga yang sedang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan namun dapat menggertakkan jiwanya.
*
Ruangan Presdir
"Tuan... Untuk persiapan acara pertunangan anda dan Nona Queen satu minggu lagi sudah hampir siap sembilan puluh persen." Ucap Marko yang kini tengah duduk berhadapan dengan Daniel.
Daniel terdiam. Tanpa berniat membalas ucapan Marko yang entah mengapa terasa tidak penting di pendengarannya.
"Kau urus saja semuanya sesuai keinginan Queen. " Ucap Daniel singat.
"Baik, Tuan." Ucap Marko patuh. "Untuk rekaman CCTV di ruangan divisi Humas yang anda minta sudah saya kirimkan ke email anda Tuan." Ucap Marko lagi. Dan kali ini ucapannya berhasil membuat Daniel mengalihkan pandangan ke arahnya.
"Baiklah. Kalau begitu sekarang kau boleh keluar!" Ucap Daniel yang diangguki oleh Marko.
Setelah kepergian Marko dari dalam ruangannya, Daniel nampak terburu-buru membuka laptop yang sudah ia tutup rapat sebelumnya.
"Ternyata kau bergerak lebih cepat dari pada yang aku duga..." Gumam Daniel memperhatikan dengan intens setiap aktivitas di dalam ruangan divisi Humas.
__ADS_1
Lima belas menit menonton rekaman CCTV di depannya, aktivitas Daniel pun harus terganggu karena kedatangan Dio dan Marvel yang masuk begitu saja ke dalam ruangannya.
"Apa kalian tidak memiliki sopan santun!" Hardik Daniel merasa geram karena aktivitasnya harus terganggu. Daniel pun segera menutup kembali layar laptopnya agar kedua sahabatnya tidak dapat melihat apa yang ia tonton.
"Kenapa wajahmu tegang sekali, Niel? Kau seperti seorang yang sedang ketahuan mencuri saja!" Ledek Marvel lalu menjatuhkan tubuhnya di atas sofa.
Daniel mendengus. Lalu melonggarkan ikatan dasi di lehernya yang terasa mencekik lehernya.
"Ada apa kalian datang kemari?" Tanya Daniel dengan datar.
"Kami ke sini untuk membawa sebuah informasi penting untukmu, Niel. Tentang wanita masa lalumu yang bernama Naina." Balas Dio dengan serius.
***
Selamat membaca☺
lanjut??
Mohon beri dukungan untuk karya author dengan cara memberikan like, komen dan votenya☺
Semakin banyak dukungannya... Maka author juga makin semangat upnya, hihi☺☺
Buat mengetahui jadwal update, kalian bisa bergabung di grup chat author, ya☺
__ADS_1