
Aga mengangguk membenarkan. "Zel dari mana saja?" Tanya Aga dengan tenang berusaha menahan amarahnya saat melihat wajah Daniel.
"Main tempat Tak Niel saja kok." Balas Zeline apa adanya.
"Kenapa tidak berpamitan dulu? Apa Zel tahu semua orang mengkhawatirkan Zel." Tanya Aga.
"Semua tidul tadi itu. Zel mau pamitan sama sapa?" Balasnya.
Aga menghela nafas panjang. Ucapan Zeline memang ada benarnya.
"Zeline, ayo sama Kakak. Kita mandi dulu." Ucap Naina sambil mengulurkan tangannya pada Zeline.
Zeline menggelengkan kepalanya. "Inda mau mandi. Mau belenang sama Tak Niel." Tolaknya.
"Zeline..." Naina menggeleng tanda tak setuju dengan ucapan putrinya.
"Mau belenang Tak. Tak Niel udah janji kemalin bawa Zel belenang pagi ini." Jelasnya lalu mengeratkan pelukan tangannya di leher Daniel
"Biarkan saja Zeline berenang dengan Kak Daniel, Kak." Timpal Amara.
Naina mengalihkan pandangan pada Amara lalu menggeleng tak setuju.
"Dari pada Zel menangis." Ucap Amara lagi.
__ADS_1
"Biarkan saja Zel pergi berenang bersama Daniel." Ucap Aga menyetujui pendapat Amara.
Naina menghela nafas panjang. "Baiklah. Tapi sebelum itu Zel harus sarapan dulu." Ucap Naina dengan tegas.
"Ya, Tak. Ayo masuk Tak. Salapan cepat bial Zel cepat belenang." Balasnya tersenyum senang.
"Ayo sama Kakak." Naina pun mengambil alih tubuh putrinya dari Daniel.
"Kak Daniel, ayo masuk. Ayo sarapan bersama di dalam." Ajak Amara.
"Tidak perlu repot-repot. Saya sarapan di villa saya saja." Tolak Daniel.
"Masuklah!" Titah Aga dengan wajahnya yang sudah semakin dingin.
Daniel mengangguk tanpa bersuara. Saat ini ia tidak berminat melawan ucapan Aga yang bisa membuat mereka kembali bertengkar.
*
Selama perjalan pulang mereka lewati dengan keheningan. Karena baik Naina, Aga dan Amara larut dalam pemikirannya masing-masing sedangkan Zeline sudah tertidur lelap dalam pelukan Amara.
Setelah menempuh dua jam lebih perjalanan, akhirnya mobil Aga pun telah sampai di depan rumah orang tua Naina.
"Ayo keluar." Ajak Aga pada Naina yang masih larut dalam pemikirannya.
__ADS_1
Naina menolehkan kepala ke belakang dimana Zeline dan Amara masih terlihat lelap dalam tidur mereka masing-masing.
Naina pun segera keluar dari dalam mobil mengikuti Aga yang sudah lebih dulu keluar.
"Amara... Bangun... Kita sudah sampai." Naina menepuk pundak Amara agar adiknya segera bangun.
Kedua kelopal mata Amara pun mulai terbuka. "Apa sudah sampai Kak?" Tanya Amara dengan suara parau.
Naina menganggukkan kepalanya.
"Kemarikan Zeline. Biar Kakak yang menggendongnya ke dalam." Ucap Aga yang diangguki Amara.
Setelah Aga membawa Zeline masuk ke dalam rumah, Naina pun menghampiri Aga yang sedang menurunkan barang-barang miliknya dan Amara dari mobil
"Kak Aga. Apa Kakak marah kepadaku?" Tanya Naina menahan pergelangan tangan Aga.
Aga menatap Naina denga datar. "Aku tidak marah kepadamu, Naina." Balas Aga.
"Jika Kakak tidak marah, kenapa Kaka mendiamkanku? Aku tahu kesalahanku sulit untuk Kakak terima dan Kakak maafkan." Naina tertunduk.
"Sayangnya, rasa sayangku lebih besar dari rasa sakitku hingga aku dengan mudah memaafkanmu, Naina."
***
__ADS_1
Lanjut lagi? Kencengin vote, gift, like dan komennya dulu yuk untuk mendukung karya SHy🥰
Sambil menunggu DABA update, silahkan mampir di karya baru aku Bukan Sekedar Menikahi☺️