
"Ayo keluar." Ajak Daniel dengan lembut tanpa membalas ucapan Naina.
"Tapi..." Naina meragu. Walau sangat ingin mendapatkan penjelasan dari suaminya namun Naina akhirnya memilih untuk mengikuti ucapan suaminya.
Segala pertanyaan yang sejak tadi bersarang di benaknya semakin bertambah saat Daniel menerima kunci kamar hotel dari pihak resepsionis. "Daniel, apa kau mau menginap di sini?" Tanya Naina.
"Tidak." Balas Daniel sambil terus melangkah sambil menggenggam tangan Naina.
"Jadi untuk apa kau membawaku kemari?" Tanya Naina lagi.
"Aku akan menjawabnya saat kita sudah sampai di dalam kamar." Balas Daniel sedikit pelan.
"Huh, baiklah." Naina memilih tak lagi bertanya dan mengikuti langkah suaminya. Saat sudah berada di depan pintu kamar hotel degup jantung Naina tiba-tiba bekerja begitu cepat. Entah mengapa kini pemikirannya berkeliaran kemana-mana.
"Ayo masuk." Tangan Daniel dengan lembut menggenggam tangan Naina dan menuntunnya masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
"Daniel, jadi untuk apa kita datang kemari?" Naina berusaha menampilkan wajah biasa saja di sela kegugupannya.
"Untuk menghilangkan rasa rinduku selama ini kepadamu." Lirih Daniel lalu dengan perlahan membalikkan tubuh Naina hingga kini ia dapat melihat jelas wajah cantik istrinya.
"Menghilangkan rasa rindumu?" Kening Naina mengkerut.
Daniel mengangguk. Sebelah tangannya mulai bekerja meraih pinggang Naina hingga mengikis jarak di antara mereka. "Aku sangat merindukanmu selama ini, Naina." Tangan Daniel membelai lembut wajah Naina.
Naina dibuat tertegun. Ia tatap kedua bola mata Daniel yang menunjukkan jika Daniel bicara jujur saat ini.
"Daniel..." Naina membalas pelukan Daniel. Seperti yang Daniel katakan, ia pun turut merindukannya. Namun rasa sakit hatinya mengalahkan segalanya.
"Maafkan sikapku yang tidak pantas kepadamu, Naina. Aku sungguh menyesal." Lirih Daniel.
Naina menggelengkan kepalanya. "Aku sudah tidak ingin membahasnya. Biarkanlah luka itu terkubur di masa lalu. Saat ini aku hanya ingin hidup untuk di masa depan." Balas Naina.
__ADS_1
Daniel mengeratkan pelukannya. Ia cium kening Naina cukup lama untuk menyalurkan rasa kasih sayangnya. "Terimakasih atas kebaikan hatimu." Ucap Daniel yang diangguki Naina sebagai jawaban. Daniel pun melerai pelukannya.
"Apa kau mengajakku ke sini hanya untuk berbicara ini saja?" Tanya Naina dengan wajah polosnya.
Daniel menggeleng. "Tentu saja aku memiliki tujuan lain." Balasnya dengan senyuman yang sudah berubah menyeringai.
"Tujuan lain apa?" Tanya Naina. Tubuh Naina semakin gugup karena Daniel mulai mendekatkan wajahnya.
"Tujuan lain untuk menghilangkan rasa rinduku yang lainnya." Balas Daniel lalu tanpa aba-aba memberikan ciuman lembut di bibir Naina.
Naina menatap kedua kelopak mata Daniel yang perlahan tertutup. Ia dapat melihat apa yang diinginkan suaminya saat ini. Tanpa ragu ia pun membalas ciuman Daniel walau sedikit kaku.
Daniel tersenyum mendapatkan balasan dari Naina. Ia pun dapat merasakan jika Naina tidak mau menolak keinginannya saat ini. Cukup lama Daniel dan Naina terlibat dalam ciuman lembut hingga akhirnya Daniel melepas pangutannya. "Naina... bolehkah aku meminta hakku saat ini? Aku sungguh tidak bisa lagi menahannya?" Tanya Daniel dengan suara serak.
***
__ADS_1