Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Alasan tidur bersama


__ADS_3

Satu persatu keluarga Daniel dan Naina berpamitan pulang ke rumah masing-masing saat gelapnya malam sudah menyambut. Daniel dan Naina tak menyurutkan senyuman di wajah mereka masing-masing melepas kepergian keluarganya seraya tak henti mengucapkan rasa terimakasih.


Aga, sosok pria itu berpamitan terakhir kali pada Naina dan Daniel. Sejenak Naina merasa canggung melihat Aga yang kini tengah menatapnya.


"Aku pamit pulang. Semoga pernikahan kalian selalu disertai kebahagiaan." Tangan Aga terulur ke arah Daniel.


Daniel segera meraih uluran tangan Aga. "Terimakasih, Kak." Balas Daniel. Wajahnya yang dulunya arogan sirna begitu saja berganti dengan wajah kedewasaan. Aga dapat melihat adik kecilnya dulu kini sudah banyak berubah dan ia cukup tenang melepas wanita yang dicintainya untuk adik sepupunya itu.


Tangan Aga turut terulur pada Naina setelah melepaskan tangan Daniel. "Sekali lagi selamat." Ucap Aga dengan tulus.


"Terimakasih, Kak." Balas Naina sedikit gagap.


Aga segera melepas tangan Naina lalu kembali menatap wajah Daniel. Kemudian ia berpamitan untuk pulang bersama Agatha yang telah menunggunya di dalam mobil.


"Ayo masuk." Danile meraih tangan Naina lalu menggenggamnya. Ia dapat merasakan kecanggungan Naina saat ini.

__ADS_1


"Ayo." Naina tersenyum. Ia tidak ingin Daniel salah paham dengan sikapnya yang terlalu terlihat canggung di depan Aga.


Saat baru masuk ke dalam rumah Zeline terlihat sudah mulai merengek di dalam pelukan Amara. Naina mendekatinya. Ia sangat paham apa yang diinginkan putrinya saat ini. Apa lagi jika bukan tidur? Seharian putrinya sudah begitu aktif mengikuti acara pernikahan dan sore harinya ia pun pergi bersama Aga untuk jalan-jalan.


"Zeline... ayo ikut Mama ke kamar." Naina meraih tubuh Zeline lalu menggendongnya.


"Mamah..." Zeline merengek sambil mengusap-usapkan wajahnya di bahu Naina.


"Bobo ya..." Naina mengelus kepala putrinya lalu memberi kode pada Daniel untuk masuk ke dalam kamar.


Untung saja tadi ia sempat mengganti lebih dulu sprei kasurnya dengan sprei yang biasanya hingga tidak perlu mengulur waktu untuk menidurkan Zeline. Karena jika masih menggunakan sprei dari pelamanin pastilah putrinya itu tidak nyaman menidurinya.


"Zeline..." Naina menekan ucapannya agar Zeline tak lagi menolak.


Akhirnya Zeline pun diam dan menerima saat Naina mulai memakaikan piyama tidurnya. Setelah selesai mengganti pakaian Zeline, Naina pun membawa tubuh putrinya ke atas ranjang. Karena Zeline sudah kelelahan dan mengantuk, tidak membutuhkan waktu lama untuk Naina menidurkannya.

__ADS_1


*


"Kak Nai, kenapa membawa Zeline tidur di dalam kamar Kakak?" tanya Amara saat Naina baru saja keluar dari dalam kamarnya.


Kening Naina mengekerut. "Memangnya kenapa?" Tanyanya.


"Astaga Kak Nai..." lidah Amara berdecak. "Malam ini kan malam pertama Kakak dan Kak Daniel. Harusnya Zeline itu Kakak tidurkan di kamar Amara saja." Terang Amara.


Naina menggelengkan kepala. "Amara.. Kakak tidak mau Zel langsung tidur terpisah dengan Kakak setelah Kakak menikah. Kakak tidak ingin Zel merasa terasingkan setelah kami menikah. Kakak tidak mau Zel merasa bersedih karena mengira Kakak tak lagi menyayanginya." Jelas Naina.


Amara seketika menepuk keningnya. "Astaga... Mara tidak berpemikiran ke sana Kak... Mara tidak berpikir jika gadis centil itu pasti bersedih jika langsung tidur terpisah dengan Kakak." Amara menyengir kuda di akhir ucapnnya.


***


Jangan lupa berikan dukungan untuk Naina dan Daniel dengan cara like, komen, vote dan giftnya. Semakin banyak dukungannya, SHy semakin semangat menulisnya ini🌹

__ADS_1


Sambil menunggu DABA update, silahkan mampir di karya SHy yang lainnya, ya. Hanya Sekedar Menikahi (End), Serpihan Cinta Nauvara (End), Oh My Introvert Husband (End), Bukan Sekedar Menikahi (On Going).


Terimakasih☺️


__ADS_2