
Ibu mengangguk paham. "Masuklah lebih dulu." Ucap Ibu dengan nada suara yang masih terdengar ramah. Sangat berbeda dengan perasaannya saat ini.
"Ayo masuk, Tak." Ajak Zeline lalu mengambil tangan Daniel dan membawanya masuk ke dalam rumahnya.
Daniel menurutinya. Saat sudah masuk ke dalam rumah Naina, pandangannya langsung tertuju pada sebuah foto gadis remaja yang nampak sangat culun dengan kaca mata tebal dan baju yang sangat jadul melekat di tubuhnya. Daniel mengamati cukup lama foto itu. Wanita yang ada di foto itu adalah wanita yang telah ia permainkan hati dan perasaannya. Agh, bukan itu saja. Ia bahkan sudah merusak wanita itu hingga hamil di luar nikah.
"Tak Nai itu. Inda tantik." Ucap Zeline sambil ikut menatap pada foto Naina.
Ibu pun turut menatap foto putrinya. Naina yang dulu memanglah sangat berbeda dengan Naina putrinya saat ini. Kecantikan yang dimiliki putrinya kini telah terlihat dengan menghilangnya kesan cupu di dalam dirinya.
"Silahkan duduk." Ucap Ibu pada Daniel yang masih setia memperhatikan foto putrinya.
"Terimakasih, Bibi." Balas Daniel lalu duduk di sofa.
"Zel mau duduk juga ini." Zeline yang merasa kesusahan untuk naik ke atas sofa pun bersuara.
Ibu menggelengkan kepalanya namun tersenyum. "Ayo naik." Ucap Ibu lalu membantu cucunya duduk di atas sofa karena posisi Zeline lebih dekat dengannya.
__ADS_1
"Apa Paman ada di rumah, Bibi?" Tanya Daniel sebab tak melihat keberadaan ayah Naina sejak tadi.
"Ada. Sepertinya akan keluar kamar sebentar lagi." Balas Ibu.
Daniel menganggguk. "Ada yang ingin saya sampaikan pada Bibi dan Paman." Ucap Daniel.
"Tunggulah sebentar. Bibi akan memanggil Paman dulu ke dalam kamarnya." Ucap Ibu lalu bangkit dari duduknya.
"Bicala sama Ayah, Tak? Kenal tuh sama Ayah Zel?" Tanya Zeline seperti biasa dengan nada tidak jelas.
"Kenal. Ini kan mau bicara dengan Ayah." Balas Daniel dengan tersenyum. Namun berbeda dengan hatinya saat ini yang terasa sangat sakit mendengar putrinya memanggil pria yang seharusnya menjadi Kakakenya menjadi Ayahnya.
"Zeline... ayo ikut Ibu. Zel main di kamar Kak Mara saja, ya." Ucap Ibu karena tidak ingin Zeline mendengar percakapan mereka.
"Mau sini ja, Bu." Tolak Zeline.
"Zel..." Ibu menggeleng.
__ADS_1
Bibir Zeline seketika mengerucut. "Ya deh. Ndong ini, Bu." Ucapnya lalu merentangkan kedua tangannya pada Ibu.
Ibu segera menggendong Zeline lalu membawanya masuk ke dalam kamar Amara, setelah menitipkan Zeline pada Amara, Ibu pun kembali bergabung di ruangan tamu bersama Daniel dan suaminya.
"Jadi ada hal penting apa yang ingin kau sampaikan?" Tanya Ayah setelah Ibu duduk di sampingnya.
Daniel menatap intens Ibu dan Ayah dengan perasaan bersalah yang terlihat jelas di wajahnya.
"Bibi... Paman... Kedatangan saya ke sini untuk meminta maaf atas kesalahan saya di masa lalu pada Naina." Ucap Daniel tanpa rasa ragu.
Ayah terdiam. Begitu pula dengan Ibu. Tatapan Ayah berubah tidak ramah. Entah mengapa Ayah dapat menangkap sesuatu yang akan disampaikan pria di depannya akan membuatnya marah besar.
"Kesalahan di masa lalu apa yang kau maksud?" Tanya Ayah.
"Kesalahan terbesar saya karena telah merusak masa depan putri Paman dan Bibi." Ucap Daniel pada akhirnya.
***
__ADS_1
Sambil menunggu cerita Naina dan Daniel update, silahkan mampir ke karya aku yang baru yang berjudul Bukan Sekedar Menikahi.