Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Kemarahan Daniel


__ADS_3

"Tak Niel..." Zeline yang baru saja keluar dari kamar Amara segera berlari ke arah Daniel yang nampak ingin keluar dari dalam rumah.


"Zeline..." Danile melebarkan senyumannya lalu menangkap tubuh Zeline dan membawanya ke dalam pelukannya.


"Tak Niel mau pulang?" Tanya Zeline.


Daniel menganggukkan kepalanya lalu mengelus rambut putrinya. "Kakak pikir kau masih tidur." Ucap Daniel. Karena saat tadi Ibu memanggil Zeline ke kamar Amara, Zeline sudah tertidur karena terlalu lama menangis.


"Inda... Apa Ayah masih malah?" Tanya Zeline menatap takut pada wajah Ayah.


"Tidak. Ayah sudah tidak marah." Balas Daniel.


Zeline pun kembali menatap wajah Ayah dengan takut.


"Kalau begitu Kakak pamit pulang dulu."


"Napa cepat sekali?" Wajah Zeline nampak sendu.


"Kakak harus kembali ke perusahaan sekarang karena ada pertemuan yang harus Kakak hadiri." Ucap Daniel.


"Yah..." wajah sendu Zeline seketika lesu.

__ADS_1


"Zeline... biarkan Kak Daniel pergi. Kak Daniel harus kembali bekerja." Ucap Ibu.


Zeline menganggukkan kepalanya walau pun tak rela. Setelah berpamitan pada Ayah, Ibu, Amara dan Zeline, Daniel pergi dari rumah orang tua Naina dengan membawa hasil yang cukup membuat hatinya tenang.


Mobil Daniel pun mulai melaju meninggalkan perkarangan rumah orang tua Naina menuju perusahaannya. Saat sedang berbicara dengan Ibu dan Ayah tadi, Daniel mendapatkan telefon dari Marko jika ada pertemuan mendadak yang harus Daniel hadiri di perusahaannya saat ini hingga membuat Daniel membatalkan niatnya yang ingin meliburkan diri hari ini.


*


Kedatangan Daniel ke perusahaan pagi itu dengan penampilan yang berbeda dan wajah lebam membuat karyawan yang sedang berlalu lalang di lobby perusahaan menatap Daniel dengan penuh tanda tanya.


Daniel tak menanggapi tatapan karyawannya yang terus menatap ke arahnya. Kaki jenjangnya terus melangkah hingga masuk ke dalam lift khusus untu dirinya.


"Dimas... kau lihat wajah Presdir tadi?" Tanya Sasa yang terus memperhatikan Daniel hingga lenyap dari balik pintu lift.


"Aku juga tidak tahu. Kenapa sepertinya Presdir baru saja mendapatkan pukulan di wajahnya." Ucap Sasa bertanya-tanya.


"Sudahlah. Tidak perlu memikirkannya. Lebih baik sekarang kita segera kembali ke ruangan." Ucap Dimas lalu menarik tangan Sasa.


*


"Tuan Daniel... Ada apa dengan—" Marko yang hendak bertanya saat melihat kondisi wajah Daniel saat ini menghentikan niatnya saat sebelah tangan Daniel terangkat di udara.

__ADS_1


"Apa kau sudah mengumpulkan seluruh tim keuangan di ruangan rapat?" Tanya Daniel dengan tatapan dinginnya.


"Mereka sudah berada di dalam ruangan rapat saat ini, Tuan." Balas Marko.


Daniel mengangguk paham. "Kau urus mereka lebih dulu. Saya ingin mengganti pakaian lebih dulu." Ucap Daniel yang diangguki oleh Marko.


Kedatangan Daniel masuk ke dalam ruangan rapat pagi membuat suasana di dalam ruangan bertambah tegang.


"Marko. Apa kau sudah mengumpulkan bukti kecurangan pengkhianat diantara mereka?" Tanya Daniel sambil menatap nyalang salah satu pria yang nampak tegang duduk di posisinya.


"Sudah, Tuan. Semua bukti sudah ada di dalam map di atas meja." Balas Marko sambil mengarahkan pandangan pada map yang berada di atas meja.


Daniel mengangguk paham lalu melangkahkan kakinya menuju kursi kebesarannya.


Brak


Suara map yang melayang tepat di depan pria yang nampak tegang sejak kedatangan Daniel membuat orang-orang yang berada di dalam ruangan rapat terkejut.


"Bisakah kau menjelaskan ini semua." Bentak Daniel pada pria bertubuh gempal itu dengan wajah dinginnya.


***

__ADS_1


Lanjut lagi? Berikan vote, gift, komen dan likenya dulu yuk🌹


__ADS_2