
"Zeline... apa kau mengenal Kakak ini?" Wajah Amara nampak sungkan menatap pada Daniel dan Kevin atas sikap keponakannya.
"Kenal, Tak... teman ini..." ucapnya sambil berkedip lucu.
"Teman?" Kening Amara mengkerut dalam. Bagaimana bisa gadis kecil seperti keponakannya memiliki teman seperti dua pria dewasa di depannya.
"Kami pernah bertemu beberapa waktu yang lalu dengannya." Ucap Daniel tiba-tiba saat melihat wajah bingung Amara.
"Kan Tak... teman ini loh..." Ucap Zeline merasa senang karena Daniel mengenalinya.
Melihat tingkah Zeline yang sangat menggemaskan, entah dorongan dari mana Daniel pun tiba-tiba menggendongnya.
"Eh." Amara nampak terkejut melihat adiknya diambil begitu saja.
"Asyik... ndong loh Tak..." Adu Zeline pada Amara merasa senang karena digendong oleh Daniel.
"Bukankah gadis ini adiknya Naina?" Bisik Kevin di telinga Daniel.
Daniel mengangguk membenarkan.
__ADS_1
"Maafkan adik saya, Tuan." Amara masih merasa sungkan. Namun berbeda dengan hatinya. Zeline... kenapa kau tahu-tahu saja dengan pria-pria ganteng. Ucap batin Amara diam-diam juga memuji ketampanan dua orang pria di depannya.
Mendengar pengumuman jika acara pembukaan tempat bermain akan dimulai, Kevin pun mengajak Amara untuk mendatangi tempat acara karena Zeline menolak turun dari gendongan Daniel.
"Zeline... ayo turun. Kita pergi ke sana saja ." Amara masih berupaya meminta Zeline untuk turun.
"Inda Tak... mau ndong kok." Tolaknya lalu menjatuhkan wajahnya di bahu Daniel.
Amara dibuat tersenyum kaku dengan tingkah adiknya. Jika begini aku jadi menyesal mengajarinya yang bukan-bukan. Sesal batin Amara.
Akhirnya mau tidak mau Amara pun mengikuti langkah kaki kedua orang pria tampan itu menuju tempat acara. Cukup lama Amara menunggu hingga akhirnya tempat bermain itu akhirnya resmi dibuka.
"Ayo Zeline... kita coba tempat bermain yang ada di sana." Amara menunjuk pada seluncuran tinggi yang di bawahnya banyak bola-bola pada Zeline.
"Sudahlah... Tak masalah jika dia masih mau digendong." Ucap Daniel pada Amara yang masih saja berupaya mengambil adiknya. "Lagi pula aku tidak akan menculik adikmu ini." Ucap Daniel menenangkan.
"Ajak saja dia ke tempat ayunan itu. Sepertinya kemarin dia suka bermain ayunan." Saran Kevin pada Daniel.
Daniel mengangguk setuju lalu melangkahkan kakinya menuju tempat bermain ayunan diikuti oleh Amara. Sedangkan Kevin, pria itu lebih memilih menemui Maminya yang sejak tadi memperhatikannya dari jauh.
__ADS_1
"Apa gadis itu anak Daniel?" Tanya Mami Kevin saat Kevin sudah berada di dekatnya. Sejak tadi Mami Kevin memang tak lepas menatap pada gadis kecil yang berhasil mencuri perhatiannya.
Kevin menggeleng. "Mami jangan bercanda. Jelas-jelas Daniel belum menikah bahkan dia baru saja bertunangan dengan Queen dan Mami tahu itu." Kevin dibuat malas dengan pertanyaan aneh dari Maminya.
"Mami kira gadis kecil itu adalah anaknya." Mami Kevin masih tak lepas menatap pada wajah Zeline dari jauh.
"Tidak. Gadis kecil itu adik dari teman satu sekolah kami dulu. Namanya Naina." Jelas Kevin.
"Oh..." Kepala Mami Kevin mengangguk. Namun wajahnya masih bertanya-tanya.
"Kenapa Mami seperti memikirkan sesuatu?" Kevin dibuat semakin bingung dengan sikap Maminya yang nampak tak melepaskan pandangannya dari Zeline yang sedang bermain saat ini.
"Mami masih mengira gadis kecil itu adalah anak Daniel. Apa kau tidak melihat dengan jelas warna mata dari gadis itu? Tidak banyak orang di dalam negeri ini yang memiliki warna mata yang hampir sama dengan keluarga Alexander." Jelas Mami Kevin yang berhasil membuat Kevin terdiam cukup lama.
***
Selamat membaca☺
lanjut??
__ADS_1
Mohon beri dukungan untuk karya author dengan cara memberikan like, komen dan votenya☺
Semakin banyak dukungannya... Maka author juga makin semangat upnya, hihi☺☺