
"Mamah, ayo, Papah dah datang itu!" Zeline berlari lebih dulu keluar dari dalam kamar tanpa menunggu Naina dan Amara.
"Anak centil itu... kenapa dia yang berlari lebih dulu. Seperti dia saja yang akan menikah." Amara menggeleng-geleng melihat kelakuan keponakannya. Pandangannya beralih pada Naina yang nampak gugup. "Kak Nai, ayo keluar." Tuturnya lembut.
Naina menganggukkan kepalanya sebagai jawaban lalu bangkit dari kursi rias.
"Ayo." Amara menggandeng tangan Naina berjalan keluar kamar.
Di ruang tamu keluarga Daniel sudah nampak duduk sambil bercengkrama satu sama lain bersama keluarga Naina yang menyambut kedatangan mereka. Jantung Naina berdegub dengan kencang saat matanya beradu tatap dengan mata Daniel.
"Mamah tantik itu kan, Pah." Zeline menunjuk Naina dengan jari telunjuknya.
"Iya. Mama sangat cantik." Balas Daniel lalu mengelus rambut putrinya yang kini duduk di pangkuannya.
Rona merah mulai menyembul di kedua pipi Naina saat telinganya dapat mendengar dengan jelas pujian Daniel untuknya.
__ADS_1
"Kak Nai, ayo duduk." Amara membimbing Naina untuk duduk di samping ibu.
Melihat jam yang sudah hampir menunjukkkan pukul sembilan dan penghulu juga sudah hadir di tempat, pembawa acara pun mulai membuka acara akad nikah pagi itu. Naina dan Daniel pun diminta untuk duduk berdampingan di depan penghulu.
Naina tak dapat menahan kegugupan di dalam tubuhnya saat berada di samping Daniel seperti saat ini. Perasaan yang sudah susah payah ia hapus untuk ayah dari anaknya itu berakhir sia-sia. Naina tak bisa lagi membohongi perasaannya saat ini jika ia benar-benar masih sangat mencintai Daniel.
Di tengah orang-orang yang sedang fokus menatap Daniel yang sedang bersiap untuk menjabat tangan Ayah Arif, Amara justru memfokuskan pandangannya pada sosok pria yang baru saja masuk ke dalam rumahnya.
Kak Aga... dia tampan sekali. Ucap Amara dalam hati menatap wajah pria yang begitu tampan dengan setelan batik yang melekat indah di tubuhnya.
"Ma-mara tidak memperhatikan apa-apa, Bibi." Kilah Amara lalu mengalihkan pandangan pada Naina dan Daniel kembali.
Suasana di dalam ruangan pun mulai tegang saat Ayah dan Daniel sudah saling berjabat tangan. Beberapa saat kemudian ketegangan pun berubah menjadi suasana haru saat kata sah terdengar keras memenuhi ruangan.
"Kak Naina... akhirnya Kakak kembali cinta Kakak yang sesungguhnya." Lirih Amara sambil meneteskan air mata. Amara sungguh tidak menyangka jika pada akhirnya cinta akan membawa kembali Naina dan Daniel kembali bersama walau jarak dan kesalahpahaman memisahkan mereka.
__ADS_1
"Mamah..." Zeline mulai menangis kencang saat melihat orang di sekelilingnya tengah menangis setelah akad selesai.
"Zeline... jangan menangis..." Ibu berupaya untuk menenangkan cucunya walau air matanya masih tidak berhenti mengalir deras.
Melihat Zeline yang masih terus menangis membuat Amara segera mengambil alih tubuh Zeline. "Zeline... jangan menangis. Nanti Mama dan Papa tidak fokus menandatangani surat nikahnya." Amara mengusap-usap kepala Zeline.
"Nty..." Zeline pun membenamkan wajahnya di dada Amara sambil terus menangis. Gadis kecil itu terus menangis hingga saat Naina bersalaman dengan Ayah dan Ibu lalu kedua orang tua Daniel.
"Amara... biar Kakak saja yang menggendong Zeline." Suara Aga yang terdengar dari samping tubuhnya membuat Amara menolehkan wajahnya pada wajah Aga yang kini sudah berada dekat dengan wajahnya.
***
Jangan lupa berikan dukungan untuk Naina dan Daniel dengan cara like, komen, vote dan giftnya. Semakin banyak dukungannya, SHy semakin semangat menulisnya ini🌹
Sambil menunggu DABA update, silahkan mampir di karya SHy yang lainnya, ya. Hanya Sekedar Menikahi (End), Serpihan Cinta Nauvara (End), Oh My Introvert Husband (End), Bukan Sekedar Menikahi (On Going).
__ADS_1
Terimakasih☺️