Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Perasaan aneh dan nyaman


__ADS_3

"Kau terlihat menyukai gadis kecil tadi, Daniel." Ucap Kevin saat mereka sudah kembali masuk ke dalam mobil untuk kembali ke perusahaan.


Daniel menolehkan kepalanya menatap pada Kevin yang kini sedang fokus pada kemudinya. "Dia gadis yang lucu. Tidak ada yang salah jika aku menyukainya." Balas Daniel dengan santai.


"Apa hanya karena itu? Apa tidak dengan alasan lain?" Kevin mencoba memancing.


Kening Daniel mengkerut. Pria itu nampak berpikir. "Entah mengapa aku merasa nyaman saat bersamanya." Ucap Daniel dengan lirih. "Ada perasaan aneh yang acap kali aku rasakan saat bersamanya." Terang Daniel kemudian.


Kepala Kevin mengangguk. Sudut bibirnya nampak tertarik ke samping. "Mungkin saja karena wajahnya mirip dengan Naina hingga kau merasa nyaman dengannya." Kali ini suara Kevin terdengar meledek.


Daniel mendengus. "Diamlah, atau aku akan merobek mulutmu!" Ancamnya berang.


Kevin tersenyum sinis. Menaikkan kembali kaca mata hitamnya yang sempat turun.


Mobil pun terus melaju dalam keheningan karena dua orang manusia di dalamnya larut dalam pemikiran mereka masing-masing.


Naina... Ucap batin Daniel sambil menatap gedung menjulang tinggi yang mereka lewati.


*


"Naina..." Suara Aga terdengar mengalun memanggil nama Naina saat wanita itu membereskan meja kerjanya.

__ADS_1


"Iya, Kak?" Balas Naina menatap pada Aga yang kini sudah berdiri di hadapannya.


"Kau masih ingat bukan jika hari ini aku akan mengajakmu pergi ke suatu tempat?" Tanya Aga.


Naina nampak berpikir lalu mengangguk.


Aga ikut mengangguk. "Pulang bekerja aku langsung ke rumahmu saja. Kita akan langsung pergi ke tempat yang aku maksud setelah kau membersihkan tubuhmu di rumahmu." Ucap Aga.


"Lalu bagaimana dengan Kakak?"


"Aku akan membersihkan tubuhku setelah membawamu ke tempat yang aku maksud." Jelas Aga.


Naina mengangguk dua kali. "Kakak tunggulah sebentar. Aku tinggal sebentar lagi akan selesai." Ucap Naina yang diangguki oleh Aga.


"Kau ingin kemana?" Tanya Aga saat Naina melangkah ke arah parkiran motornya.


"Aku ingin mengambil motorku, Kak." Balas Naina.


"Kau pulang bersamaku. Motormu akan kembali ke rumahmu dengan orang suruhanku nantinya." Ucap Aga menahan pergelangan tangan Naina.


"Orang suruhan?" Naina nampak bingung.

__ADS_1


"Tidak usah terlalu banyak berpikir. Ayo ikut aku." Ajak Aga menuntun Naina untuk keluar dari gerbang perusahaan Alexander.


Saat tiba di depan gerbang, sebuah mobil mewah bewarna hitam telah menunggu kedatangan mereka.


"Ayo masuk." Ajak Aga saat seorang berbaju hitam membukakan pintu untuk mereka.


Naina nampak ragu. Namun tetap menuruti keinginan Aga untuk masuk ke dalam mobil. Lagi pula Naina yakin Aga tidak akan melakukan hal buruk padanya.


Mobil pun mulai melaju saat Aga dan Naina sudah duduk dengan tenang di dalam mobil.


"Tuan Andrew sudah menunggu kedatangan anda, Tuan." Ucap seorang pria yang duduk di samping sopir pada Aga.


Aga mengangguk tanpa bersuara. Tangannya saat ini menggenggam tangan Naina agar wanitanya tidak merasa takut berada di dalam mobil yang terasa asing baginya.


Beberapa menit berlalu, mobil pun telah sampai di depan rumah orang tua Naina.


"Ayo turun." Ajak Aga membuyarkan lamunan Naina.


"Eh, kita sudah sampai, Kak?" Tanya Naina bagai orang bodoh saat melihat sekitarnya dan menyadari mereka telah sampai di depan rumahnya.


"Kau terlalu banyak melamun, Naina." Kepala Aga menggeleng lalu membantu Naina turun dari dalam mobil.

__ADS_1


***


__ADS_2