Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Hubungan baru


__ADS_3

"Apa maksud ucapanmu, Naina? Apa kau serius dengan ucapanmu saat ini?" Aga nampak begitu senang. Pujaan hatinya telah menerima cintanya.


"Aku serius, Kak. Aku mau menerima cinta Kakak dan mecoba menjalin hubungan dengan Kakak." Ucap Naina sambil tertunduk. Rasanya ia sungguh merasa malu dengan ucapannya sendiri. Apa lagi ia menerima cinta Aga di depan anaknya sendiri. Untung saja saat ini Zeline tengah sibuk menyedot minumannya tanpa memperdulikan pembicaraan mereka.


Aga meraih jemari Naina. "Kau sedang tidak bercanda kan, Naina?" Tanya Aga memastikan kembali.


Naina menggeleng. "Aku serius, Kak." Balas Naina mencoba tersenyum.


"Agh, syukurlah... Terimakasih, Naina... Terimakasih..." Aga nampak begitu senang. Tangannya semakin erat memegang tangan Naina. Untuk pertama kalinya ia akan mencoba menjalin hubungan dengan wanita yang sudah berhasil meruntuhkan benteng pertahanannya selama ini.


Naina hanya tersenyum sebagai jawaban. Naina dapat melihat dengan jelas ketulusan dari wajah Aga saat ini untuknya.


Semoga keputusanku kali ini tidak salah. Batin Naina penuh harap.


"Tak... Abis ini..." Keluh Zeline sambil menunjukkan minuman di gelasnya yang sudah habis pada Naina.


"Minum punya Kakak saja mau?" Tawar Naina yang diangguki cepat oleh Zeline.


"Tidak perlu, Nai. Biar aku pesankan yang baru saja." Ucap Aga.


Naina nampak berpikir sejenak kemudian mengangguk sebagai jawaban.

__ADS_1


Setelah minuman baru untuk Zeline datang dibawa oleh pelayan, Aga dan Naina pun kembali melanjutkan pembicaraan mereka. Suasana yang awalnya sedikit canggung itu pun akhirnya menghangat sebab Aga mulai membahas hal-hal yang membuat Naina terbawa akan pembahasan Aga.


"Jadi kenapa tadi kau menangis di dalam mobil?" Tanya Aga yang sejak tadi merasa penasaran.


Naina terdiam beberapa saat. "Tidak ada apa-apa, Kak. Aku hanya teringat tentang masa laluku yang kelam." Balas Naina dengan jujur tanpa menjelaskan orang di masa lalunya.


Aga mengangguk paham. "Kau bisa menjadikanku tempat untuk berbagi." Ucap Aga yang dapat menangkap jika Naina tidak ingin bercerita tentang hidupnya saat ini.


Naina tersenyum. "Terimakasih, Kak."


Jarum jam terus berputar ke arah kanan, setelah cukup menghabiskan waktu di dalam cafe sambil bercerita, mereka pun memutuskan untuk pulang saat melihat wajah Zeline sudah mengantuk.


*


"Akhirnya... Aga bisa juga menaklukkan hati pujaan hatinya." Ucap Thoriq saat mereka tengah berada di dalam kantin.


"Bener banget. Akhirnya gak sia-sia misi kita untuk menyantukan Aga dan Naina selama ini." Ucap Sasa merasa senang.


Dimas yang mendengarkan ucapan dua sahabatnya mengangguk menyetujui.


"Semoga saja hubungan mereka berdua awet hingga ke pelaminan. Karena aku yakin Naina adalah wanita yang pantas untuk mendampingi Aga." Ucap Sasa penuh harap.

__ADS_1


"Semoga saja." Ucap Dimas dan Thoriq hampir bersamaan.


Tak lama kedua orang yang sedang menjadi bahan obrolan mereka pun datang.


"Lama banget nih pasangan baru datangnya." Ucap Sasa saat Aga dan Naina duduk bergabung bersama mereka.


"Iya, ini tadi kita antar laporan dulu sama Mbak Wiwin." Ucap Naina sambil berusaha menahan rasa malunya dengan sebutan pasangan baru oleh Sasa.


"Ngasih laporan sama Mbak Wiwin atau mesra-mesraan dulu sama Aga?" Goda Thoriq yang berhasil membuat rona merah muncul di kedua pipi Naina.


***


Selamat membaca☺


lanjut??


Mohon beri dukungan untuk karya author dengan cara memberikan like, komen dan votenya☺


Semakin banyak dukungannya... Maka author juga makin semangat upnya, hihi☺☺


Buat mengetahui jadwal update, kalian bisa bergabung di grup chat author, ya☺

__ADS_1


__ADS_2