
Walau perasaannya hancur, namun Yoga tetap pada pendiriannya. Sepahit apapun kenyataan yang bakal terjadi, itulah yang sesungguhnya.
Ketika hendak melangkah keluar Yuda pun datang, menghampiri Yoga yang sedang bersedih.
“Ini ada apa ya? kenapa kamu nangis Yog?”
“Aku menangis karena bahagia Yud,” kilah Yoga, agar Yuda tidak mencurigai dirinya.
“Bahagia, bahagia apa maksud mu?”
“Tadi aku bertemu dengan Siska di taman, dan Siska berkata jujur pada ku, kalau malam itu kami nggak melakukan apa-apa.”
“Alhamdulillah, Yog. Kamu benar-benar saudara kembar ku yang baik, aku yakin kalau kamu nggak seperti itu.”
“Iya Yud.”
“Lalu gimana dengan pernikahan kalian, gagal dong?”
“Nggak Yud, pernikahan itu tetap akan kulakukan, karena aku telah menyentuhnya.”
“Ooo, bagus deh! itu pertanda kalau kau ini pria yang bertanggung jawab.”
Walau bagai manapun, Yuda dan Yoga adalah saudara yang saling mendukung satu sama lain, mereka saling berbagi mesti seberat apa masalah yang sedang mereka hadapi.
Karena begitulah didikan dari kedua orang tua mereka, saling membantu agar hubungan silaturahmi tetap terjaga dengan baik.
Sementara itu, dikampung halaman tempat Yuda dan Yoga di lahirkan, disana ada Ningsih yang selalu menjaga Kartini dengan baik.
Pagi itu disaat Kartini sedang melaksanakan Sholat Duha, Ningsih tanpa sadar membuka gorden kamar Mamanya. Sebenarnya dia berencana hendak kembali keluar, akan tetapi Ningsih merasa berat untuk melangkah.
Disudut ruangan, Ningsih berdiri memandangi Kartini yang sedang sholat. Entah mengapa tiba-tiba saja dada Ningsih terasa begitu sesak, ketika melihat Kartini begitu khusuk dalam sholatnya.
Perlahan, setetes demi setetes air matanya jatuh membasahi kedua pipinya, Ningsih langsung bersimpuh, ketika mendengar Kartini berdo’a kepada sang pencipta.Agar membukakan pintu hidayah untuk Ningsih supaya, dia bisa menentukan jalan terbaik untuk hidupnya.
Kedua lututnya terasa bergetar saat hendak melangkah, namun Ningsih tetap berusaha menghampiri Kartini dengan merangkak.
“Mama!” lirih Ningsih.
Karena mendengar panggilan dari seseorang, Kartini langsung menoleh kebelakang. Akan tetapi betapa terkejutnya dia, ketika dilihatnya Ningsih datang menghampirinya dengan merangkak.
“Ya Allah! ada apa Nak?”
“Mama, kaki ku begitu sulit untuk melangkah, aku mendengarkan Mama berdo’a untuk ku, Mama sedang menyembah siapa?” ucap Ningsih pelan.
“Mama menyembah Allah, Nak.”
“Siapa itu Allah, Ma?”
“Allah adalah tuhan kita, tuhan kamu dan tuhan Mama juga, hanya kepadanya lah kita semua dikembalikan sayang.”
“Kenapa Ayah dan Ibu ku nggak mengetahuinya?”
“Mama yakin kedua orang tua mu, pasti mengetahuinya, hanya saja mereka belum mendapatkan hidayah untuk masuk kedalam agama Mama.”
“Jika boleh, aku ingin masuk kedalam agama yang Mama anut, aku ingin menyembah apa yang saat ini Mama sembah.”
Mendengar kepolosan hati Ningsih, Kartini langsung menangis, dia memeluk tubuh Ningsih dengan kuat sekali. Tangis bahagia itu merupakan ucapan rasa syukur karena do’anya telah diijabah oleh Allah Swt.
Seraya mengenakan mukena, Kartini membawa Ningsih kerumah Pak Ustad. Disana Ningsih dituntun dalam mengucapkan dua kalimat syahadat. Dengan begitu lancar Ningsih langsung mengucapkannya.
__ADS_1
“Alhamdulillah!” ucap mereka serentak.
“Nah, mulai hari ini kamu telah masuk Islam nak.”
“Terimakasih Ya Allah, engkau telah mengabulkan semua do’a ku,” ujar Kartini dengan linangan air mata.
“Terimakasih Ma! tampa Mama, mungkin aku ini bukan siapa-siapa, Mama telah menuntun hidup ku menjadi lebih baik sekarang.
“Bersyukurlah kepada Allah Nak, karena Allah lah yang telah membukakan pintu hidayah untuk mu.”
“Iya Ma,” jawab Ningsih singkat.
Kartini merasa senang sekali, karena putri angkatnya telah resmi menganut agama islam, seperti dirinya. Disaat itu Kartini langsung menghubungi Yoga dan Yuda, untuk segera pulang.
Ketika telfon itu berdering, Yuda pun bergegas mengangkatnya, setelah dibukanya ternyata Mama tercintanya yang menghubungi.
“Hallo, Assalamu’alaikum Ma, ada apa Ma?” tanya Yuda heran.
“Adik mu Ningsih telah masuk Islam Yud.”
“Adik ku? adik siapa Ma?”
“lho, lho! emangnya Yoga belum cerita pada mu masalah Ningsih?”
“Belum kok, Ma.”
“Aduh Yoga! kok masalah sebesar ini dianggap remeh sih!”
“Tunggu sebentar Ma, aku panggil Yoga dulu!”
“Lho, emangnya Yoga ada bersamamu?”
“Apakah dia nggak kerja, Yud?”
“Katanya dia lagi cuti Ma.”
“Coba kau panggil dia, Mama mau bicara!”
“Baik Ma,” jawab Yuda seraya meletakkan gagang telfonnya diatas meja.
Dengan bergegas, Yuda berjalan menghampiri Yoga yang sedang asik bermain gitar bersama dengan Andika.
“Ada telfon untuk mu dari Mama, Yog.”
“Mama bilang apa Yud?”
“Ngomong aja sendiri.”
“Ooo, baiklah!” Yoga pun kemudian bergegas menuju ruang tamu, karena Kartini waktu itu menelfon menggunakan telfon rumah.
“Hallo, Assalamu’alaikum, Ma!”
“Wa’alaikum salam, Sayang.”
“Apa kabar Ma, sehat kan?”
“Alhamdulillah, Nak! saat ini Mama sehat kok.”
“Oh syukurlah Ma! semoga Allah senantiasa melindungi dan menyehatkan Mama.”
__ADS_1
“Aamiin! o Iya, Yog, Ningsih adik mu udah masuk islam.”
“Benarkah itu Ma?”
“Benar sayang! tapi kenapa kau nggak memberitahu Yuda tentang dia?”
“Aku belum sempat Ma.”
“Besok Mama harap kalian bisa pulang kerumah, karena Mama mau mengadakan syukuran untuk Ningsih.”
“Insya Allah, Ma.”
“Bilang sama Yuda, dia juga harus pulang, ajak Nayla dan cucu kesayangan Mama.”
“Baik Ma, nanti akan kusampaikan pada Yuda.”
“Ya udah, jangan lupa ya sayang.”
“Iya Ma.”
Setelah saling memberi salam selamat, Yoga langsung kembali keruang tempat Andika sedang bermain. Ada Yuda disana yang sedang asik menemani Andika bermain.
“Maaf Yud, aku lupa mengabarinya pada Mu, tentang Ningsih yang hari itu kubawa pulang kerumah.”
“Jadi benar, yang dikatakan Mama tadi Yog?”
“Benar Yud.”
“Kamu mendapatkan Ningsih dimana?”
“Saat itu pikiran ku sedang kacau, karena Mama mengabari ku, kalau Dinda mencoba mengakhiri hidupnya dengan nggak makan dan minum selama tiga hari.”
“Kenapa Dinda melakukan itu Yog?”
“Dia kecewa karena aku nggak mau menikah dengannya.”
“Jadi gimana kabarnya saat ini?”
“Alhamdulillah, saat ini dia sehat kok Yud, karena Bu saidah melarikan Dinda kerumah sakit.
Waktu itulah, tanpa sengaja aku menyerempet Ibu Ningsih hingga meninggal dunia.”
“Ya Allah ! berita sebesar itu, kau nggak mau berbagi sama sekali dengan aku Yog?”
“Sebenarnya aku ingin sekali memberi tahukannya pada mu, bahkan aku udah membawa Ningsih kerumah ini. Tapi kau sedang tugas luar, kalau kami menunggu mu pulang, pastilah Ningsih lama sampai dirumah. Jadi kuputuskan saja untuk membawanya pulang siang itu juga.
“Ayah Ningsih apa nggak ada Yud?”
“Ningsih hidup sebatang kara setelah Mamanya meninggal Yud, Ayah dan Adiknya juga meninggal karena ditabrak mobil.”
“Lalu kenapa tadi Mama bilang kalau Ningsih udah masuk Islam?”
“Ningsih, non Muslim Yud.”
“Ooo, begitu ya!”
Bersambung...
*Selamat membaca*
__ADS_1