Dibalik Kesetiaan Nayla

Dibalik Kesetiaan Nayla
Part 122 Kejadian aneh


__ADS_3

Disaat itu pula, bayi Nayla langsung terdiam, semuanya pun merasa heran, Yuda yang melihat bayinya tenang dan tertidur dipangkuan Dinda, hatinya sedikit tenang.


“Ternyata kau wanita berhati lembut, Din! lihat bayi itu, dia merasa begitu nyaman berada dipangkuan mu, hanya orang yang berhati bersih yang bisa menerima bayi yang suci,” kata Yuda dihadapan orang banyak.


Dinda yang mendengar kata pujian dari Yuda, merasa sedikit tersanjung, dan wajahnya pun memerah menahan rasa malu.


Melihat semua mata tertuju kearah Dinda. Perasaan bahagia akhirnya tersirat diwajah mereka semua. Hal itu juga dirasakan oleh Bu Kartini, Yoga dan yang lainnya. Ternyata dibalik duka yang dialami Yuda, ada kebahagiaan disana.


Setelah rasa sedih karena kehilangan Nayla di rasakan oleh Yuda, rasa bahagia pun langsung terlihat diwajahnya. Bayi mungil yang lucu itu mencoba untuk tersenyum pada Dinda.


Setelah semuanya merasa puas menggendong si kecil, lalu bayi itu di kembalikan kedalam inkubator. Suara jeritannya kembali terdengar saat tangan Dinda melepaskannya.


“Kayaknya bayi mu menangis lagi Yud?”


“Coba di gendong lagi Din, siapa tau di berhenti menangis,” saran Kartini saat itu.


“Baiklah,” jawab Dinda seraya mengeluarkan bayi Yuda dari dalam inkubator.


Benar saja, ketika bayi itu kembali di gendong Dinda, sikecil itu kembali tenang dan berhenti menangis.


“Oh sayang, kenapa dia diam ya, saat aku gendong?”


“Berarti tanganmu sangat dingin dan membuat bayi Yuda menjadi tenang Din?” lanjut Siska kemudian.


Setelah bayi itu benar-benar telah tertidur pulas, lalu Dinda menaruhnya kembali kedalam inkubator.


Baik Yuda, Kartini dan yang lainnya, mereka semua sangat bahagia sekali, mesti pun rasa sedih menyelimuti hati mereka karena telah kehilangan Nayla.


Keesokan harinya, jenazah Nayla di bawa pulang kerumah, semua keluarga, karyawan dan para tetangga, telah datang untuk melayat.


Di sudut atas kepala Nayla, ada Yuda yang sedang tertunduk dengan deraian air mata. Ada juga Andika yang tiada hentinya menangis di sisi Mamanya.


Sementara itu, Yoga dan Siska masih berada dirumah sakit untuk menjaga bayi Nayla. Selain Yuda, Yoga tak kalah sedihnya karena di tinggal pergi Nayla untuk selamanya.


Mesti demikian, Yoga masih bersyukur, karena Nayla tak sempat membongkar rahasia yang sangat memalukan itu di hadapan suaminya.


Kepergian Nayla banyak sedikitnya ada keuntungan bagi Yoga, karena dia dapat mempertahankan rumah tangga yang baru di bina nya bersama Siska.


Sementara itu siang hari, jenazah Nayla akan dikebumikan di pemakaman yang berada tidak jauh dari rumah Yuda. Isak tangis mengiringi kepergian jenazah siang itu, semua yang melayat juga sudah berada di belakang, mengiringi jenazah Nayla.


Di tengah perjalanan, tiba-tiba saja, ada dahan kayu yang besar patah dan tepat menimpa jenazah Nayla yang sedang ditandu. Jenazah itu pun terlepas dan langsung terjatuh.

__ADS_1


Kain kafan yang membungkusnya pun kotor kena percikan air yang tergenang. Semua yang menyaksikan kejadian di saat itu menjerit histeris.


Sementara Yuda yang saat itu berada disebelah kanan Nayla terjatuh dan tangannya terkilir, sehingga dia tak dapat lagi memikul tubuh istrinya untuk yang terakhir kalinya.


“Ya Allah! ada apa ini? kenapa tiba-tiba saja dahan kayu itu patah?” tanya Yuda pada dirinya sendiri.


“Tenang nak Yuda, tenang!” kata Pak Ustad yang saat itu berada diantara mereka.


“Apakah ini suatu pertanda buruk pak Ustad?”


“Belum tentu Nak, belum tentu yang terjadi secara tiba-tiba itu merupakan pertanda buruk. Kamu harus tenang dan berpikirlah yang positif.”


“Baik pak Ustad,” jawab Yuda mendengarkan saran dari pak Ustad.


Setelah kain kafan Nayla di bersihkan, mayat itu kembali di letakkan di dalam keranda, dan tetangga yang memikul keranda pun kembali bergerak menuju pemakaman yang jaraknya tidak begitu jauh dari tempat itu.


Tapi bukan itu saja keanehan yang terjadi saat itu, sebelum mencapai area pemakaman angin kencang juga bertiup membuat keranda Nayla kembali terjatuh yang kemudian disusul petir dan hujan deras.


“Gimana ini Pak Ustadz?”


“Tenang nak Yuda, meski gimanapun keadaannya, jenazah istrimu tetap akan kita kubur sekarang juga.”


“Baik pak Ustad.”


“Kenapa ya, jenazah istri dr. Yuda begitu sulit untuk di makamkan.”


“Iya, ya.”


“Padahal dia itu kan orang baik, dan ramah pada semua orang.”


“Aneh sekali kan, atau jangan-jangan dia selingkuh kali ya?”


“Ssst, jangan asal bicara kamu, nanti kedengaran dr. Yuda baru tau rasa.”


“Tapi kalau dia itu selingkuh, lalu selingkuh sama siapa?”


“Ssst, udah-udah! aib orang yang udah meninggal nggak boleh di ceritain?” ujar Bu Midah.


“Iya, iya,” jawab Bu Siti dan Bu Lili serentak.


Setelah melalui banyak rintangan maka sampailah mereka di pemakaman, dan dengan dibantu oleh beberapa orang warga, jenazah Nayla yang kotor dan bergelimang tanah akhirnya dapat di makamkan dengan layak.

__ADS_1


Namun di saat Pak Ustad sedang memimpin Do’a untuk jenazah, lalu Ningsih melihat Nayla dari kejauhan sedang menangis histeris.


Ningsih yang melihat Nayla menangis di tengah hujan deras, langsung datang menghampiri dirinya.


“Kak, kak Nayla?” panggil Ningsih pada seorang perempuan yang ada dihadapannya.


“Kakak dingin, Ningsih?” ucap perempuan itu gemetaran.


“Kenapa kakak berada disini? bukankah jasad kakak sudah dikuburkan?”


“Kakak takut Ningsih,” jawab perempuan yang tak mau melihatkan wajahnya itu.”


Lalu perempuan itu menghilang begitu saja, Ningsih yang saat itu berada di dekat perempuan itu terkejut dan langsung tak sadarkan diri.


Semua pelayat yang saat itu, berada disamping Ningsih, menyambut tubuh Ningsih yang hampir menyentuh tanah perkuburan.


Tubuh Ningsih di bawa pulang kerumah dan dibaringkan di atas sofa. Bu Kartini sangat takut sekali melihat Ningsih tak sadar-sadar dari pingsannya.


“Ningsih, ningsih bangun sayang!” ucap Kartini seraya mengguncang tubuh Ningsih.


“Sabar Tini, Ningsih cuma pingsan aja kok, sebentar lagi dia juga siuman.”


“Tapi kenapa dia pingsan Dah?”


“Barang kali Ningsih kecapean, biarkan dia istirahat dulu.”


“Iya Dah, kau benar, kita biarkan saja dia istirahat dulu,” jawab Kartini seraya memijat tangan dan kaki Ningsih seraya terus menangis.


Tak berapa lama kemudian Ningsih pun tersadar dari pingsannya, dilihatnya sekeliling tenyata dia sudah berada dirumah, dihadapan Kartini mama sambungnya yang sedang menangis.


“Mama, kenapa Mama menangis?” tanya Ningsih heran.


“Tadi kau pingsan di kuburan nak,” jawab Kartini seraya memeluk tubuh Putri tercintanya dengan lembut dan penuh kasih sayang.


“Aku pingsan?”


“Iya, sayang, kau tadi pingsan di pemakaman Nayla, kenapa? apakah kau melihat sesuatu?”


“Iya, Ma.”


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


.


__ADS_2