Dibalik Kesetiaan Nayla

Dibalik Kesetiaan Nayla
Part 114 Jawaban Ramon


__ADS_3

“Sekarang aku punya ide, gimana kalau kau aja Yud yang menelfon Papanya Mutia, siapa tau kita akan mendapat jawaban sebenarnya dari orang tua Mutia.”


“Baik, akan ku coba,” jawab Yuda seraya mengambil ponselnya.


Tak perlu menunggu lama, panggilan Yuda langsung dijawab oleh Pak Ramon.


“Assalamu’alaikum!”


“Wa’alaikum salam,” jawab Pak Ramon


seraya tersenyum manis.


“Apa kabar Pak Ramon.”


“kabar saya sehat selalu, dengan siapa ya?”


“Saya dr. Yuda, saudara kembarnya Yoga.”


“Ooo, ya! saya ingat, hari itu kalau nggak salah, saya pernah ngomong dengan nak Yuda.”


“Iya, saya juga ingat itu.”


“Ngomong-ngomong, ada keperluan apa ya, nak Yuda?” tanya Pak Ramon ingin tau.


“Begini, sebenarnya tujuan saya menelfon Bapak, karena saya menginginkan sesuatu dari Bapak.”


“Menginginkan sesuatu, apa itu?”


“Gimana kalau putri Bapak Mutia, kita jodohkan dengan saudara kembar saya Yoga.”


Mendengar Yuda meminta Mutia untuk saudara kembarnya Yoga, hati Pak Ramon, sedikit kaget, tapi dia punya kepribadian yang santun untuk menjawab semua permintaan Yuda.


“O, begini nak Yuda, di zaman sekarang ini seluruh anak itu dituntut untuk melanjutkan pendidikannya kejenjang yang lebih tinggi, jadi kalau Mutia menikah secepat itu, lalu gimana dengan pendidikannya Nak Yuda?”


“Hm, saya hanya meminta kepastian dari Bapak saja, sekarang saya udah mendapatkan jawabannya, karena saudara kembar saya Yoga akan saya nikahkan dengan seorang dokter yang cantik.”


“Ooo, begitu ya?”


“Nanti kami sekeluarga akan mengirimkan undangan untuk Bapak.”


“O, baiklah!” jawab pak Ramon pelan.


“Kenapa kamu bilang sih Yud, kalau aku ini mau nikah dengan seorang Dokter cantik?”


“Aku sengaja bicara seperti itu, agar mereka nggak menganggap rendah diri mu Yog!”


“Iya sih, tapi?”


“Tapi apa Yog? kau lihat sendirikan, Pak Ramon telah mempermainkan mu, dia nggak serius memberikan Mutia untuk kau nikahi. Lebih baik Siska, selain dia seorang wanita cantik, Siska juga seorang Dokter.”


“Aduh kepala ku jadi pusing.”


“Nggak usah pakai pusing segala, sekarang kau susul Siska kerumah sakit, dia seorang gadis yang baik, dan calon istri yang sempurna.”


“Baiklah,” jawab Yoga sembari berdiri dan berlalu meninggalkan Yuda yang sedang duduk sendirian.


Yuda hanya tersenyum senang, di saat Yoga mematuhi permintaan nya. Dimata Yuda, Siska adalah sosok wanita baik, yang pandai menjaga kehormatannya.


Sementara itu, Yoga yang hendak menuju rumah Siska, mampir di toko bunga, guna membeli sepaket bunga yang sangat di sukai oleh semua wanita di dunia ini.


Di hadapan Siska, Yoga langsung menyerahkan kembang itu dengan senyum manis di bibirnya, di saat kembang itu diterima oleh Siska, Yoga hendak bermaksud mengecup kening Siska, tapi Siska nya menundukkan kepalanya.


Yoga tidak marah, walau Siska tak bersedia untuk dikecup, hal itu menandakan kalau Siska adalah gadis baik.


Ketika Yoga bersama Siska, Yuda juga kembali kerumah sakit menemui istrinya Nayla yang masih terbaring lemah. Yuda sangat senang sekali saat itu, sehingga ingin sekali dia mengabarkan ke Nayla tentang pernikahan Yoga.


“Hai sayang, apa kabar?” ucap Yuda seraya menaruh tas medisnya.


“Nay baik kok Bang, Abang kemana saja? kenapa lama datangnya?”


“Abang tadi pulang kerumah, ada Yoga tadi di sana.”

__ADS_1


“Bang Yoga?”


“Iya sayang.”


“Ngapain Bang Yoga kerumah Bang?”


“Dia hanya minta restu dari Abang untuk menikahi Siska,” jawab Yuda datar.


“Apa? Bang Yoga mau nikahi Siska?”


“Iya, sayang!”


Mendengar perkataan Yuda hati Nayla terasa begitu sakit sekali, apa lagi Yoga menikah dengan wanita yang pernah membuatnya cemburu.


“Kenapa, Nay kaget ya?”


“Nggak sih,” jawab Nayla pelan.


“Sebenarnya Abang udah lama berniat untuk menjodohkan mereka berdua, tapi waktu itu ada dr. Rangga diantara mereka, jadi Abang biarkan aja dulu.”


“Emangnya dr Rangga udah putus dengan Siska?” tanya Nayla mengorek informasi dari suaminya.


“Kalau soal itu, Abang nggak tau Nay, tapi yang pasti, Yoga menyetujuinya kok.”


“Jadi Bang Yoga bersedia menikah dengan Siska?”


“Iya, Nay,” jawab Yuda singkat.


Hati Nayla terasa begitu sakit sekali mendapat informasi itu, jika saja Yuda tak bersamanya saat itu, Nayla pasti sudah menjerit sekeras-kerasnya. Dan melempar Yoga dengan batu.


“Ada apa Nay, kau tampak sedih?”


“Ah nggak, masa Nay sedih kalau Bang Yoga menikah.”


“Lalu kenapa diam?”


“Nay nggak nyangka aja, Bang Yoga bisa setuju di jodohkan dengan Siska.”


“Iya sih, tapi sebelumnya kita kan udah pacaran, kalau Yoga dia kan baru kenal.”


“Sebenarnya, Yoga telah meniduri Siska Nay, untuk itu dia harus mempertanggung jawabkan nya,” ujar Yoga seperti sedang berbisik pelan ke telinga Nayla.


“Oh, rasa sakit macam apa lagi ini?” kata Nayla dalam hati.


Suasana pun tampak hening seketika, Nayla yang telah mengetahui Yoga pernah tidur bersama Siska, hatinya terasa tersayat pilu.


“Baiklah Nay, Abang mau keruangan dulu.”


“iya, bang.”


“Nanti kalau Nay butuh sesuatu, Nay tinggal panggil perawat aja.”


“Baik Bang,” jawab Nayla sembari memperbaiki bantalnya.


Setelah Yuda pergi, Nayla langsung rebahan, dia sengaja memiringkan tubuhnya kekanan agar Yuda tak melihatnya menangis.


“Kau jahat Bang, kau tega melakukan semua ini pada Nay, sekeras apa pun Nay mengharapkan kan mau melakukannya, kau pasti menolak. Ternyata ada Siska yang jadi penghalangnya Bang, huhuhuhuk!”


“Ibu Nayla, Ibu kenapa? apa Ibu sakit?”


Karena Nayla tak ingin suaminya tau kalau dia sedang menangis karena Yoga, untuk itu Nayla terpaksa harus berbohong pada perawat yang telah berdiri dibelakangnya.


“Iya Sus, sepertinya perut Nay mangalami keram.”


“Tapi nggak sakit kan Bu?”


“Iya Sus, terasa nyeri.”


“Di bagian mana Bu ?”


“Di bagian bawah Sus.”

__ADS_1


Setelah memperbaiki posisi Nayla, Suster itu langsung keluar, dan beberapa orang Dokter pun masuk kedalam.


“Ya ampun, kenapa begitu banyak dokter?” tanya Nayla pada dirinya sendiri.


“Tadi Ibu mengatakan perut Ibu udah mulai nyeri dan keram ya?”


“Iya, dok.”


“Berarti Kandungan Ibu udah Bisa kita lakukan Sesar.”


“Maksudnya apa ya dok?” tanya Nayla tak mengerti.


“Selama Ibu nggak sadarkan diri, kandungan Ibu ikut melemah. Detak jantungnya hampir tak terdengar lagi, jadi kami terpaksa harus menunda operasinya sampai kandungan Ibu kembali mengalami kontraksi, baru kami bisa bertindak.”


“O tunggu dulu, mana suami Nay, dok?”


“Ada sebentar lagi dia juga datang.”


“Tapi Nay nggak mau melakukan operasi sekarang dok!”


“Kenapa Ibu nggak mau?”


“Karena rasa sakitnya udah nggak terasa lagi?”


“Tapi Ibu tetap akan melaksanakan operasinya.”


“Nggak, Nay nggak mau.”


Tak berapa lama kemudian Yuda pun masuk kedalam. Dan melihat banyak Dokter yang hadir membuat jantungnya terasa berhenti berdetak.


“Ada apa ya?” tanya Yuda heran.


“Tadi kandungan Ibu Nayla sudah mengalami kontraksi, jadi kami harus segera melakukan tindakan secepatnya.


“Apa harus segera dilaksanakan?”


“Benar Yud.”


“Tapi lihat, kehadiran kalian keruangan ini saja udah membuat Nayla ketakutan, gimana kalian akan melakukan operasi jika pisik pasien sedang tidak stabil.


Ketiga orang Dokter itu tampak terdiam, tak ada kata yang dapat membantah ucapan dr. Yuda saat itu.


“Nayla itu istri saya, dan saya bertanggung jawab penuh akan keselamatan jiwa raganya, jika terjadi sesuatu padanya, gimana?”


“Tapi itu sudah merupakan prosedur yang harus dijalani, Yud.”


“Sus, benar kandungan Nayla udah mengalami kontraksi?”


Mendengar pertanyaan Yuda, Suster Voni merasa takut untuk menjawab, dia sedikit ragu untuk bicara.


“Kenapa diam, ayo katakana saja yang sebenarnya.”


“Saya tadi melihat Bu Nayla menangis Dok, saat saya tanya, kata Bu Nayla perutnya sedang mengalami nyeri dan keram, itu sebabnya saya memanggilkan ketiga Dokter ini kesini.


“Betul begitu Nay.”


“Memang Nay berkata seperti itu tadi Bang? tapi yang nyeri itu bukan kandungan Nay, tapi pada perut Nay bagian bawah.”


“benar begitu Bu Nayla, berkata Sus?”


“Benar dok.”


“Nah, Bapak dengar sendiri kan, kalau yang sakit itu bukan kandungannya, tapi perut bagian bawah.”


“Ya, baiklah, kalau begitu kami permisi dulu.”


“Ya silahkan.”


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2