
“Bapak tau kemana Bapak melihat arah Bu Nayla berlari?”
“Iya pak, Ibu berlari kearah kebun karet ini. Tapi karena keempat kawanan penjahat itu mengejarnya, tentu Ibu larinya semakin jauh kedalam,” jelas Pak Darman pada tim SAR tersebut.
Setelah mendapat petunjuk dari Pak Darman, lalu Tim SAR membentang sebuah peta, tempat letak Kawasan yang akan mereka susuri.
“Kalau, Bu Nayla larinya kearah sebelah kiri, maka dia akan menemukan perkampungan penduduk. Tapi kalau larinya kesebelah kanan, disini Bu Nayla akan langsung masuk kearah pasar tradisional. Namun kalau larinya arah kebelakang, dia akan bertemu dengan hutan belantara.
“Kalau seandainya Bu Nayla larinya kearah hutan berarti dia dalam bahaya besar saat ini,” kata Yoga pelan.
“Ya, kalau Bu Nayla lari kearah hutan, berarti dia dalam bahaya saat ini.
Kalau begitu bagai mana, kalau pencarian kita kali ini kita fokuskan kedalam hutan saja,” kata Yoga memberi saran.
“Baik, kalau begitu pencarian kita fokuskan kearah hutan saat ini."
“Ayo, tim! Kita bergerak.”
“Siap!”
Lalu mereka semua mulai bergerak, menuju perkebunan karet, didalam sana mereka berteriak-teriak memanggil nama Nayla, sementara Yoga dan Pak Darman mencari Nayla kearah lain.
Disaat para tim SAR sedang berpencar mencari keberadaan Nayla, Yoga dan Pak Darman terus merangsak masuk kedalam hutan. Setelah beberapa meter masuk kedalam, tiba-tiba saja, Yoga menemukan bercak darah diatas daun kering.
“Ya Allah! Pak Darman, Sini!” kata Yoga seraya memperlihatkan tetesan darah itu pada Pak Darman.
“Ya ampun! jangan-jangan Bu Nayla keguguran.”
“Oh, nggak mungkin! kalau saja Nayla sampai keguguran karena ulah mereka, maka akan ku usut masalah ini sampai tuntas.
“Iya, Pak."
Lalu Yoga juga melihat darah di sebatang pohon besar ditengah hutan itu.
“Oh ada darah lagi, berarti Nayla ada disekitar tempat ini,” kata Yoga pada dirinya sendiri.
Yakin kalau Nayla ada disekitar hutan, maka Yoga dan pak Darman memutuskan untuk terus mengikuti jejak kaki yang penuh bercak darah. Lalu tibalah mereka berdua dipinggir jurang, dan disaat itu Yoga melihat tanaman disekitar tempat itu rusak dan rebah seperti kena timpa benda berat.
“Pak Darman!”
“Iya, Pak.”
“Jangan-jangan ibu jatuh kebawah sana!”
“Mungkin saja, pak.”
“Kalau begitu mari kita turun kebawah.”
“Bapak ajalah, biar saya menunggu disini saja.”
__ADS_1
“Kenapa? Pak Darman takut?”
“Itu kan jurang Pak Yoga, biasanya didalam jurang banyak ular berbisa disana.”
“Lalu.”
“Saya nggak berani.”
Karena pak Darman tak berani turun kebawah, maka Yoga memutuskan untuk turun kebawah, demi mencari keberadaan Nayla yang hilang.
“Nay, Nayla! Dimana kamu Nay, jawablah, Nay!”
Suasana di bawah sangat gelap sekali, sehingga Yoga kesulitan melihat keberadaan Nayla di sana.
Lalu tiba-tiba saja, Yoga melihat banyak darah berserakan di atas batu, akan tetapi dia tak melihat siapa-siapa disana. Yoga yang terkejut saat itu, berubah menjadi rasa takut yang teramat sangat.
“Oh, Nayla! kamu pasti tersiksa saat ini sayang,” kata Yoga pada dirinya sendiri.
Karena begitu gigih mencari keberadaan Nayla, akhirnya Yoga menemukan Nayla sudah terkapar bersimbah darah diatas batu kering.
Ya Allah, Nay!” teriak Yoga sembari memeluk tubuh Nayla yang sudah tak sadarkan diri.
Yoga pun menangis histeris seraya memeluk tubuh Nayla dengan kuatnya. Air matanya menetes seperti air sungai yang mengalir. Rasa sedihnya saat itu belum pernah dia rasakan selama ini.
Hatinya merasa begitu takut, akan kehilangan orang yang sangat dia cintai, berkali-kali Yoga menciumi kening Nayla dan memeluk tubuhnya begitu erat.
Beberapa saat kemudian, Nayla tersadar dari pingsannya, karena ada yang mengguncang tubuhnya.
“Iya, Bang!” jawab Nayla yang terus meringis menahan rasa sakit.
“Alhamdulillah, kau masih hidup sayang.”
“Tapi, Bang! Nay sepertinya kehilangan bayi, Nay!”
“Sepertinya begitu, sayang,” jawab Yoga yang terus mengalirkan air matanya.
Dari dasar jurang yang begitu dalam, tiba-tiba saja Pak Darman mendengar suara Yoga memanggil Namanya. Lalu pria tua itupun bergegas, untuk turun kebawah dengan merangkak dan bergelantungan pada kayu semak yang ada disekitar pinggir jurang.
“Ada apa Pak Yoga?”
“Pak, Bu Nayla sedang kritis, bantu aku untuk memegang kepalanya.”
"Baik Pak Yoga,” jawab Pak Darman yang langsung mengerjakan perintah Yoga. Setelah posisi Nayla aman dalam pangkuan pak Darman. Kemudian, Yoga menelfon tim SAR untuk segera menuju kepinggir jurang.
“Pak Yoga udah menemukan Nayla, mari kita kepinggir jurang untuk memberikan pertolongan pada korban,” perintah kepala rombongan.
Disaat itu juga mereka semua langsung menuju hutan, untuk mencari jurang tempat Nayla terjatuh.
“Gimana ini Pak Yoga! darah di kepala Bu Nayla semakin banyak mengalir.”
__ADS_1
“Sekarang biar saya yang mengendong Bu Nayla, karena sebentar lagi tim SAR akan datang, mari kita bawa Bu Nayla kepinggir jurang.”
“Baik, pak,” jawab Pak Darman seraya bergegas mengikuti Yoga dari belakang.
Disaat tubuh Nayla digendong oleh Yoga, Pak Darman melihat begitu banyak darah mengalir tiada henti. Hati Pak Darman terasa terhenyuh melihat majikannya menanggung derita yang teramat memilukan.
“Cepat sedikit, Pak! Bu Nayla banyak mengeluarkan darah!”
“Iya, kita harus menyelamatkan Nayla secepatnya.”
Sembari berlari, Yoga mencoba membawa Nayla kepinggir jurang, dari atas tim SAR sudah mengulurkan tandu untuk menaikan Nayla keatas. Tubuh Nayla langsung diikatkan pada tandu. Dan para tim SAR mengangkat tubuh Nayla keatas.
Walau udah selamat sampai keatas, namun darah segar tetap saja mengalir membasahi tubuh Nayla, bau anyir juga tercium dimana-mana.
Sambil berjalan begitu cepat, Yoga tak henti-hentinya menangis begitu juga dengan Pak Darman, serta beberapa orang tim SAR yang bertugas saat itu.
Sungguh miris kejadian yang menimpa tubuh Nayla saat itu, dia bukan hanya kehilangan bayi yang dikandungnya. Akan tetapi, Nayla juga mengalami pendarahan hebat di kepala serta trauma berat yang begitu sulit untuk dilupakannya.
Setiba dijalan besar, suasana ternyata sudah berubah, tempat yang tadinya sepi, saat itu sudah menjadi keramaian sesaat.
Yoga bersama yang lainnya, bergegas melarikan Nayla kerumah sakit Yos Sudarso tempat Yuda bertugas.
Beberapa saat setelah, Nayla diturunkan dari ambulance, Yuda pun tiba dirumah sakit tempat dia bertugas. Disaat dia melihat tubuh Nayla penuh darah, dada Yuda langsung bergetar kuat, dan tubuh nya terasa lemah sehingga Yuda terkapar tak sadarkan diri dibelakang Yoga.
Yoga begitu terkejut sekali melihat Yuda pingsan dibelakangnya, dan secara spontan, Yoga langsung membantu Yuda dan mengangkat tubuhnya untuk dibawa kedalam.
Kedua tubuh itu adalah sama-sama orang tercinta dihati Yoga, dan dia tak akan membiarkan musuh yang telah menyakiti keduanya berkeliaran diluar sana berbuat semaunya.
Diruang rawat, Yuda tersentak dari pingsannya, dan dia langsung berdiri dan berlari menuju kamar Nayla. Diruang tunggu Yuda melihat Yoga bersama Pak Darman yang sedang duduk dengan begitu gelisah.
“Yud, kau udah sadar?” tanya Yoga .
“Iya, Yog! gimana keadaan Nayla saat ini, Yog?”
“Dia sedang ditangani oleh dokter.”
“Apa yang sebenarnya telah terjadi, Yog?”
“Sepertinya seseorang berniat untuk menculik istrimu, Yud.”
“Menculik, untuk apa?”
“Aku juga nggak tau, tapi Pak Darman mendengar nama orang yang menyuruh para bayaran itu.
“Benarkah, itu, Pak Darman?”
“Benar Pak.”
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*