
Bertepatan saat itu,Mutia pun keluar dari pintu sebelahnya lagi dengan raut wajah yang cemberut.
“Eee, ada apa pula tuh, dengan anak gadis Mama, bonyok aja, masih pagi lhoo!”
“Entahlah Nyah! Kayaknya Neng Mutia lagi kesal,” jawab Brata memotong jawaban yang diajukan majikannya kepada putri sulungnya.
“Kesal napa?” tanya sukesih pada Brata.
“Saya kurang tau Nyah,” jawab Brata berbohong.
“Mutia, sini!" panggil Sukesih.
“Ada apa Ma?”
“Kenapa kok cemberut?”
“Nggak ada apa-apa Ma, aku baik-baik aja kok.”
“Udahlah Ma, jangan terlalu kuatir berlebihan dong, Mutia itukan udah dewasa, ya biarkan aja!”
“Iya, Mama tau Pa!”
“Kalau gitu, tunggu apa lagi, ayo kita berangkat! nanti terlambat loh.”
“Baiklah Pa,” jawab Sukesih menuruti perintah suaminya.
Setelah Pak Ramon dan istrinya berangkat, Yoga pun datang menemui Mutia, tapi gadis itu tak tau kalau Yoga datang untuk mengunjunginya. Sementara itu, Mutia berlari menuju kamarnya.
Dilantai dua rumah mewah itu, Mutia menghempaskan tubuhnya diatas ranjang, dan diapun menangis sejadi-jadinya. Rika dan Yuni hanya bisa diam saja, saat melihat kakaknya menangis, tapi Rika mencoba untuk bertanya.
“Ada apa kak? kenapa nangis?”
Mutia yang mendengar suara Rika segera berbalik dan menghapus air matanya.
“Eh, ada adik kakak yang cantik, kakak nggak apa-apa kok.”
“Tapi kenapa kakak nangis? pasti ada yang nyakitin kakak.”
“Ooo, itu tadi, mata kakak kelilipan debu.”
“Bohong! kakak bohong kan?”
Nggak adik-adik kakak tersayang, kakak baik-baik aja kok. Nah sekarang kalian kembali kekamar masing-masing Ya.”
“Baiklah kak,” jawab keduanya serentak.
Setelah Rika dan Yuni pergi, tiba-tiba bel rumah itu berdering, Khodijah langsung berlari untuk membuka pintu.
“Eee, ada Den Yoga! silahkan masuk Den!”
“Mutianya ada Bik?”
“Ada den, lagi di kamarnya.”
“Bibi bisa panggilkan sebentar kan?”
“Baik Den,” jawab Bi Ijah, seraya berjalan menuju kamar Mutia.
__ADS_1
Setelah tiba didepan pintu kamar Mutia, Bi Khodijah, langsung memanggil majikannya.
“Neng dibawah ada tamu untuk Neng Mutia!”
“Laki atau perempuan Bik?”
“Ya laki-laki lah, tuh, Den Yoga yang datang.”
“Ngapain lagi dia datang?" kata Mutia bicara pelan. “O iya Bik, bilang padanya kalau aku nggak mau diganggu.”
“Baik Neng, biar Bibi sampaikan,” jawab Bi Ijah seraya meninggalkan kamar Mutia.
Mendengar jawaban dari Bi Ijah, Yoga langsung marah, dia tak terima kalau Mutia menolaknya.
”Bilang sama Mutia Bi, kalau dia nggak mau turun, aku nggak bakalan pergi dari rumah ini,” ancamnya dengan suara lantang.
Mendengar teriakan Yoga, Mutia langsung saja turun dan menghampiri Yoga.
“Ada keperluan apa lagi?” tanya Mutia ketus.
“Kenapa bicara seperti itu? apa nggak boleh Abang datang kerumah ini?”
“Buat apa datang, kalau ujung-ujungnya hanya untuk menyakiti saja.”
“Kenapa bicaranya seperti itu Mutia!”
“Kenapa? apa ada yang salah dengan ucapan ku?”
“Nggak, semuanya benar dan nggak ada yang salah, tapi kan Abang udah minta maaf.”
“Maaf aja nggak cukup Bang, kalau kau punya rahasia yang selalu ditutupi dari ku.”
“Baiklah! apapun yang terjadi dan apapun yang aku lihat tadi, aku akan memaafkan Abang. Tapi dengan satu catatan, kalau sekali lagi aku melihat Abang bermesraan dengan Kak Nayla, aku pastikan hubungan kita hancur !” tegas Mutia seraya berlari ke kamarnya.
Walau terasa sakit, akan keputusan yang diberikan Mutia padanya, namun hati Yoga sedikit lega, karena Mutia masih berada dalam pelukannya. dengan langkah santai dan tenang, Yoga pun keluar dari rumah Mutia.
Dari jendela kaca lantai atas, Mutia mencoba menoleh kebawah, melepas kepergian Yoga dari rumahnya. Lama Mutia menatapnya dari atas, namun Yoga tak berpaling sedikitpun kearah nya.
“Dasar laki-laki munafik. Udah jelas-jelas kepergok bermesraan, masih saja ngeles,” gerutu Mutia sembari memukul-mukul bantal yang ada dihadapannya.
Akan tetapi Yoga yang merasa hubungannya kembali utuh dengan Mutia, dia pun kembali kerumah sakit, guna menjaga Nayla.
Tetapi, alangkah terkejutnya Yoga, saat sesampainya didepan ruang kamar Nayla, didapatinya beberapa orang dokter sedang bekerja. Kebetulan saat itu ada Yuda yang sedang duduk diruang tunggu, Yoga pun langsung menghampirinya.
“Ada apa Yud? apa yang terjadi?” tanya Yoga heran.
“Nayla Yog, dia kritis lagi, kata dokter ada pembengkakan baru di rahimnya.”
“Bagai mana kondisinya sekarang Yud?”
“Kayaknya dia nggak sadarkan diri, tapi udah ada dokter yang sedang menanganinya”
“Astagfirullah! begitu tersiksanya istrimu Yud!”
“Kita hanya bisa berdo’a Yog, semoga Allah mengangkat penyakit yang bersarang ditubuhnya.”
“Iya, semoga aja begitu Yud.”
__ADS_1
“O iya Yog, Mama tadi datang bersama Dinda.”
“O ya? mana dia sekarang?”
“Mungkin mereka udah pulang, tadi aku berusaha mencari mu, tapi kita nggak ketemu.”
“Tadi aku pergi sebentar ada urusan penting,” jelas Yoga pada Yuda.
“Ooo, begitu.”
Ketika mereka berdua sedang bercakap-cakap, tiba-tiba dokter yang menangani penyakit Nayla keluar dan menghampiri Yuda.
“Gimana kabarnya istriku, Rangga?”
“Yud, sebenarnya kangker dalam Rahim istrimu, menunjukan ada perkembangan baru.”
“Apa! ada perkembangan baru?”
“Iya Yud, kami para tim medis, sudah memeriksanya berulang kali, namun hasilnya tetap sama. Jadi jalan satu-satunya harus dilakukan operasi kedua.”
“Ya Allah! betapa menderitanya istriku!” kata Yuda dengan suara lirih.
“Kau harus tabah Yud, mungkin ini ujian untukmu,” jawab Rangga sembari menepuk pundak Yuda.
“Iya Rangga aku akan selalu tabah menerimanya, terimakasih banyak,” ucap Yuda yang saat itu merasa begitu lemas.
Dengan langkah gontai, Yuda keluar dari ruangan tunggu,berjuta rasa sedang berkecamuk dalam pikirannya saat itu, dari belakang Yoga datang menyusulnya.
“Ada apa Yud? apa yang terjadi?”
“Kangker didalam Rahim istriku berkembang lagi Yog, dan dokter sepakat untuk mengoperasinya untuk yang kedua kalinya. Aku kuatir Nayla tak sanggup bertahan Yog.”
“Sabarlah Yud! dia pasti kuat, karena Nayla bukan wanita yang lemah.”
“Tapi Yog, seandainya saja dia tak ada lagi, bagai mana dengan diriku Yog dan bagai mana pula dengan Andika yang masih kecil.”
“Tenang Yud! Tenang, kau nggak boleh berfikiran seperti itu, do’akan aja Nayla sembuh dan kalian dapat berkumpul kembali seperti dahulu. kata Yoga menenangkan hati saudara kembarnya itu.
“Iya, Yog.”
“Karena putus asa itu bukanlah sifat seorang dokter Yud, kau harus tetap semangat, beri istrimu semangat, agar dia bisa bertahan demi cinta kalian. Berdo’alah, do’a seorang suami yang baik itu pasti dikabulkan oleh Allah.”
“Kenapa kau begitu yakin kalau Do’a ku dikabulkan Allah Yud?”
“Karena kau seorang suami yang baik dan bertanggung jawab.”
“Ya semoga saja begitu Yog.”
“Insya Allah Yud, insya Allah.”
Begitulah mereka berdua saling mendukung satu sama lain, namun karena bujuk dan rayu syetan lah, akhirnya mereka jadi begitu.
Yoga yang selalu bermain api dengan Nayla,merasa begitu bersalah, atas apa yang mereka lakukan, terutama terhadap Yuda yang telah mempercayainya.
Pada hal Yoga berkali-kali menyentuh tubuh Nayla yang semestinya tak boleh dilakukan.
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*