Dibalik Kesetiaan Nayla

Dibalik Kesetiaan Nayla
Part 52 Berkenalan dengan Asih


__ADS_3

Didalam mobil, suasana tampak begitu hening, hanya tembang pop dari lantunan merdu Nike Ardila yang terdengar, mereka semua seperti berkonsentrasi penuh melihat kedepan. Hingga tiba dirumah, Rika masih tampak uring-uringan.


Sebelum Sukesih buka bicara, Pak Ramon telah memberikan isyaratnya, yang menandakan kalau istrinya tak boleh memarahi Rika lagi, lalu dengan anggukan kepala Sukesih langsung masuk kedalam kamarnya.


Sementara itu, di ruang kamar tempat Nayla sedang dirawat, suasana tampak begitu tenang, disebelah kanan tempat dia berbaring ada seorang wanita cantik yang sedang tidur dengan rambut yang lebat dan berwarna keemasan.


Nayla tersenyum melihat wanita itu, batinnya berkata, “Jika sedang tidur saja dia terlihat begitu cantik, gimana kalau dia nanti terbangun dari tidurnya."


Baru saja ucapan batinnya itu, terngiang ditelinganya, wanita itu pun terbangun dari tidurnya, Nayla melihatnya tampa berkedip. Saat itu pula wanita itu menoleh kearah Nayla.


“Hai!” sapanya dengan tersenyum.


“Hai juga,” jawab Nayla seraya membalas senyumannya.


“Kau sakit apa?”


Nayla tak menjawab, ingin rasanya dia bicara, tapi Nayla merasa malu dengan penyakit yang sedang dialaminya.


“Nggak perlu malu, semua manusia punya keluhannya sendiri, sebanyak yang sehat dan sebanyak itu pula yang sakit. Manfaatkanlah kesehatan itu sebaik-baiknya, karena kalau kita sudah sakit, semuanya menumpuk menunggu tangan kreatif kita bekerja.”


“Aku menderita sakit kangker,” jawab Nayla pelan.


“Udah berapa lama?”


“Aku nggak tau, tapi rasa sakit itu selalu datang secara tiba-tiba di perut bagian bawah.”


“O ya, berarti kamu itu mengidap penyakit kangker Rahim dong!” kata wanita itu menebak apa yang dikatakan Nayla.


“Dari mana kau tau?” tanya Nayla heran.


“Aku hanya mempelajarinya dari ciri-ciri yang kau sebutkan tadi.


“Ooo!”


“Tapi kau nggak usah cemas, karena setiap penyakit pasti ada obatnya, hanya saja terkadang obat itu nggak cocok dengan penyakit yang kita alami.”


“Emangnya kau sakit apa?” tanya Nayla penasaran dengan wanita yang tampak begitu sehat.


“Kau ingin tau aku sakit apa?”


Nayla pun menganggukkan kepalanya, pertanda dia benar-benar ingin tau tentang penyakit yang diderita wanita disampingnya itu.


“Penyakit kita sama, aku juga menderita penyakit kangker tulang, bahkan udah stadium lanjut.”


“Haah! benarkah itu?” ujar Nayla tak percaya.


“Iya, aku udah berada lama dirumah sakit ini, bahkan keluargaku sudah menggadaikan semuanya untuk kesembuhan ku.”


“Tapi aku nggak melihat, kau seperti orang sakit, kau tampak cantik saat kau tidur tadi.”


“Nama mu siapa?” tanya wanita itu.


“Aku Nayla, suami ku seorang dokter.”

__ADS_1


“Aku Asih, suamiku juga seorang dokter, bahkan dia seorang ahli penyakit kangker, kamu lihat sendirikan, dia bahkan tak sanggup mendahului sang penciptanya.”


“Maksud mu apa?”


“Aku ingin sembuh, Nay! aku bosan di atas Kasur ini terus,” kata Asih seraya menangis histeris.


“Hei, tenanglah! bukankah tadi kau yang bilang kalau setiap penyakit itu pasti ada obatnya?”


“Iya, itu kata mereka yang sehat Nay, bukan kata kita yang sakit. Huhuuuk,” jawab Asih sembari menangis.


Melihat wanita itu menangis, Nayla pun ikut menangis, dia juga merasakan bagai mana frustasinya jika penyakit yang diderita selama bertahun-tahun tak pernah sembuh.


“Kau mau tau, gimana nantinya, penyakit yang kau derita Nay?”


Nayla diam saja, dia mulai merasa sesak dengan perkataan wanita itu, hatinya mulai bergetar menahan rasa takut.


“Lihatlah!” kata wanita itu seraya membuka wig penutup kepalanya.


“Astagfirullah, kau botak?”


“Iya Nay. Penyakit inilah yang membuat rambutku rontok, kau mau lihat lagi kan Nay?” lalu wanita itu membuka selimut yang menutupi tubuhnya.


Disaat itu, terlihat jelas oleh Nayla, kalau tubuh wanita itu tampak keriput dan menghitam.


“Haaah!” sontak hal itu membuat Nayla terkejut seraya menutup mulutnya.


Rasa takutnya itu membuatnya gemetaran menahan diri. Selimut yang digenggam Nayla serasa kapas yang sangat putih.


“Kau tau kenapa wajahku terlihat cantik?”


Nayla tak menjawab hanya kepalanya saja yang digelengkan, karena rasa takut yang sedang menghantuinya, maka Nayla mencoba menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


“Kau nggak perlu takut Nay, karena pada akhirnya kau akan mengalami hal yang sama dengan diriku.”


“Nggak, itu nggak mungkin!”jawab Nayla menangis, sembari menggenggam selimut nya lebih erat lagi.


“Kenapa nggak mungkin Nay, setau ku, setiap penderita kangker belum pernah yang selamat.”


“Kau bohong ! kau pasti berbohong ! agar semua orang yang penderita penyakit kangker merasa putus asa, dan hanya menyerah pada takdirnya saja.”


“Aku nggak bohong Nay, wajah ku yang cantik ini, sebenarnya hanya palsu Nay, hanya palsu ! karena setiap hari aku harus memolesnya dengan bermacam bedak, agar suamiku menganggap istrinya masih terlihat cantik.”


“Kenapa kau lakukan itu Asih?”


“Dirumah, aku masih punya tiga orang putra yang masih kecil, kalau suamiku mengetahui istrinya sudah nggak cantik lagi, dia pasti mencari pengganti yang baru, untuk apa bertahan dengan perempuan yang sudah bergelimang penyakit.”


“Oh, nggak mungkin ! Nggak mungkin suami Nay akan melakukan hal itu pada istrinya,” jawab Nayla semakin ketakutan.


Walau Nayla tampak begitu ketakutan dengan perkataan Asih padanya, namun Asih tetap saja bercerita, dan tak memperdulikan rasa takut yang dialami Nayla.


“Kau nggak perlu takut Nay! nasi udah menjadi bubur, nggak ada yang perlu disesali.”


“Cukup! cukup Asih! Nay nggak mau lagi mendengarnya!” Teriak Nayla dengan sangat kuat.

__ADS_1


Mendengar teriakan Nayla, Yuda dan Yoga langsung masuk kedalam ruang rawatnya.


“Ada apa sayang? Mengapa berteriak?” tanya Yuda heran.


“Nay mau pulang, Bang. Nay mau pulang!”


“Nay, nayla! kamu baru saja menjalani operasi sayang, kenapa ingin pulang?” tanya Yuda begitu heran.


“Bawa Nay pulang, Bang! Nay nggak mau dirumah sakit ini!” ujar Nayla terus saja menangis.


“Gimana ini, Yog? aku jadi bingung."


“Nayla! kamu kenapa?”


“Nay nggak apa-apa kok, Bang! Nay hanya ingin pulang!”


“Tapi Nay kan baru selesai di operasi! Nay nggak mungkin kami bawa pulang sekarang,” ucap Yoga mencoba menenangkan hati Nayla.


“Katakan pada Abang sayang, kenapa Nay ingin pulang?” tanya Yuda ingin tau.


“Nay takut, Bang. Nay takut!”


“Takut dengan siapa, sayang.”


“Nay mau pulang, Bang!” rengek Nayla dihadapan Yuda.


Melihat istrinya begitu ketakutan, Yuda langsung memeluk tubuh Nayla dengan lembut, serta mencium keningnya.


Sementara itu, Asih yang melihat momen kebahagian Nayla dengan suaminya, dia hanya tersenyum-senyum sendiri.


Akan tetapi senyuman Asih itu sangat menyakitkan hati Nayla, semakin dilihatnya, maka semakin terasa menusuk didalam hati. maka secepatnya Nayla memalingkan wajahnya.


Melihat mata Nayla terus memandangi perempuan yang ada disampingnya dengan rasa takut, maka Yoga mencoba untuk mempelajari, ada apa sebenarnya antara Nayla dengan perempuan itu.


“Yud, bisa kita bicara sebentar!” ajak Yoga pada saudaranya itu.


“Ada apa, Yog?”


“Ada hal penting yang akan kukatakan pada mu?”


Lalu Yuda mencoba melepaskan tangan Nayla yang melingkar dipinggangnya.


“Sebentar sayang, Abang ada perlu dengan Yoga.”


“Nggak ! nggak, Nay nggak mau ditinggal sendiri !”


“Baiklah, kita bicaranya nanti saja Yud.” Ujar Yoga.


“Iya, Yog.”


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2