
Mendengar pertanyaan dari Yoga, Nayla langsung membalikkan tubuhnya dan memeluk Yoga dengan erat sekali.
“Ada apa, Nay? bicaralah, kalau ada yang ingin kamu katakan.”
“Nay mau pulang, Bang. Bawa Nay pulang sekarang juga, karena Asih datang lagi menemui Nay disini. Nay takut sekali,” kata Nayla berkeluh kesah pada Yoga.
“Gimana mau pulang sayang, tapi jahitan bekas operasi mu belum lagi mengering.”
“Nay nggak perduli ! jika kalian nggak mau membawa Nay pulang, biar Nay sendiri yang keluar dari rumah sakit ini,” tegas Nayla pada Yoga.
“Abang mohon, Nay jangan seperti itu, ini semua demi kesehatanmu sendiri.”
“Jangan bicara kesehatan saat ini, Bang. Biarkan Nay mati!” teriak Nayla dengan suara keras.
Melihat Nayla bersikap keras dan teguh dengan pendiriannya, Yoga pun keluar untuk mencari Yuda, akan tetapi Yoga tak lagi melihat Yuda ada diluar ruangan itu.
“Apa tadi Yuda melihat ku berpelukan dengan Nayla, ya! sehingga dia langsung pergi karena sedih?” tanya Yoga pada dirinya sendiri.
Tapi hal itupun tak lagi dipedulikannya, karena keselamatan Nayla itu lebih penting dari pada harus menaruh perasaan yang tak punya jawaban untuk itu.
Seraya terburu-buru, Yoga berlari kesana-kemari mencari keberadaan Yuda disekitar rumah sakit. Tak berapa lama kemudian, Yoga melihat Yuda sedang duduk termenung di kantin rumah sakit.
Hati Yoga bagai teriris pilu, melihat saudara kembarnya itu, merenungi nasibnya. Dengan pelan dihampirinya Yuda yang sedang duduk.
“Hei, Yog!” sapa Yuda yang terlihat begitu tegar.
“Hei, lagi ngapain?” tanya Yoga seakan-akan tak melihat apa-apa.”
“Sarapan dulu!” ajak Yuda seraya menawarkan sesuatu pada Yoga.
“Ya, boleh,” jawab Yoga seraya memesan dua porsi lontong sayur, pada pemilik warung.
“Gimana? apa Nayla bicara sesuatu pada mu?”
“Dia minta pulang Yud.”
Yuda tampak diam saja saat Yoga mengutarakan jawabannya, saat itu dia tampak sedikit sedih sekali.
“Nggak usah sedih Yud, kalau Nayla minta pulang terus, kita bawa saja dia kerumah sakit tempat kau bertugas, bukan kah selama disana dia terlihat aman dan ceria.”
“Ya!” jawab Yuda seraya menganggukkan kepalanya.
“Nah sekarang kau sarapan dulu, biar pisik mu menjadi sedikit kuat,” kata Yoga seraya menyerahkan lontong sayur yang ada dihadapannya pada Yuda.
Lalu mereka pun menyantap sarapan itu bersama-sama, disaat sarapan, Yuda membahas semua yang selama ini menjadi keluhannya kepada Yoga.
__ADS_1
“Aku udah habis Yog,” ucap Yuda pelan.
“Habis gimana, maksud mu?” tanya Yoga heran.
“Aku nggak lagi punya uang untuk merawat Nayla dirumah sakit ini, uang tabungan ku udah ludes semuanya. Dua butik milik Nayla juga udah ku jual, hanya tinggal tiga butik lagi yang masih ada. Jika ketiganya itu juga dijual, maka Nayla pasti sangat sedih.
“Lalu?”
“Kemaren aku pulang kerumah Mama, dan mencoba meminjam uang padanya, Mama memberikan aku kalung emas miliknya. Aku begitu kasihan padanya, karena kalung itu adalah harta peninggalan dari Papa untuknya.
“Kenapa kau nggak pernah membahas hal ini pada ku sebelumnya Yud?”
“Aku begitu malu pada mu, Yog! kau telah banyak membantu kami selama ini.”
“Malu kata mu, emangnya aku ini siapa Yud,” ujar Yoga seraya menepuk dadanya dengan pelan
Mendengar kata Yoga, Yuda jadi menangis, air matanya tak lagi dapat dibendung. Kesedihan hati yang selama ini dipendamnya, hari ini tanpa dia sadari tercurah sendiri membasahi kedua pipinya.
“Dalam tubuhmu, mengalir darah yang sama dengan tubuh ku ini, yud, sakit yang kau derita saat ini aku juga turut merasakannya. Aku nggak ingin kau bicara seperti itu pada ku, selama ini aku ikhlas membantumu. Dan jangan pernah kau mengungkit hal itu dikemudian hari pada keturunanku.”
Yuda terus saja menangis, lontong sayur yang dia makan telah bercampur dengan air mata miliknya.
Lalu Yoga merogoh kantong celananya untuk mengambil dompet, dibukanya dompet itu, diambilnya kartu ATM yang terdapat didalam dan diserahkan ketangan Yuda.
“Apa ini Yog?” tanya Yuda tak percaya.
“itu kartu ATM milik ku, disitu uangnya sangat banyak, kau boleh mengambilnya seberapa kau mau.”
“Tapi, Yog!”
“Udah! Santai aja, uang dapat dicari lagi, tapi untuk memulihkan mental yang sudah rusak itu sangat sulit Yud.”
“terimakasih, Yog.”
“Nggak perlu!”
“Apa kau nggak membutuhkan uang ini Yog?”
“Tentu saja aku butuh, tapi kau lebih membutuhkannya dari ku saat ini.”
“Lalu gimana caranya aku menggantinya nanti, Yog?”
“Berapa pun yang kau pakai dan berapa pun yang habis nantinya, jangan pernah kau ingat dan kau hitung-hitung lagi, anggap saja udah hanyut kelaut, ok!”
“Tapi, Yog?”
__ADS_1
“Dan satu hal lagi yang harus kau ingat, uang yang ada di ATM itu uang halal dan dari keringat yang bersih, jadi kau jangan ragu untuk mengambil berapa pun yang kau inginkan.”
Melihat kepercayaan Yoga yang cukup besar diberikan padanya, Yuda merasa terhenyuh dibuatnya. Karena jarang sekali orang yang berjiwa sosial yang tinggi diatas muka bumi ini, yang rela habis-habisan demi saudaranya.
“Baiklah, akan kupakai dulu uang mu ini.”
“Silahkan aja, semoga istrimu segera sembuh dari sakit yang dideritanya.”
“Insya Allah! insya Allah, Yog.”
“Amin.”
Akhirnya pertemuan yang sangat mengharukan itu berujung kebahagiaan. Yuda mendapat uluran tangan dari Yoga disaat dia hendak terjatuh didalam lembah kesulitan.
Pria yang berhati emas itu selalu saja mengulurkan bantuannya pada setiap orang yang selalu ingin mengharapkan pertolongan dari dirinya.
Bukan hanya kepada Yuda saja dia mau membantu, kepada orang lainpun Yoga selalu ingin mengulurkan bantuannya. Sungguh beruntung orang tua yang anak-anaknya berhati mulia.
Setelah selesai sarapan, mereka berduapun kembali keruangan Nayla. Tapi betapa terkejutnya Yoga dan Yuda saat melihat tempat tidur Nayla sudah kosong tanpa ada penghuninya.
Dengan perasaan cemas, Yuda datang menghampiri penjaga rumah sakit itu, untuk menanyakan keberadaan istrinya.
“Saya kurang tau, Pak! tapi tadi saya lihat Bu Nayla masih berada didalam kamarnya sendirian."
“Kalian ini gimana sih, masa menjaga pasien aja nggak becus !” bentak Yuda kesal.
Disaat Yuda marah, dr. Rangga langsung datang menghampirinya, dia melihat wajah Yuda tampak memerah saat itu.
“Ada apa Yud ?” tanya Dr. Rangga ingin tau, dengan pertengkaran mereka saat itu.
“Nayla keluar dari rumah sakit, tapi mereka nggak ada yang mengetahuinya.”
“Barang kali istrimu masih dikamar mandi, Yud?”
“Nggak Rangga, aku udah periksa semuanya.”
“Benar kalian nggak ada yang melihat Bu Nayla keluar dari ruangannya?”
“Benar dok, kami nggak melihatnya sama sekali,” jawab semua perawat.
Lalu Yuda langsung saja pergi meninggalkan Rangga dan perawat lainnya. Dia bergegas mencari Nayla disekitar rumah sakit itu, sementara Yoga sudah terlebih dahulu mencari keberadaan Nayla.
Bersambung...
*Selamat membaca*
__ADS_1