Dibalik Kesetiaan Nayla

Dibalik Kesetiaan Nayla
Part 45 Membesuk Nayla


__ADS_3

“Kamu ngomong apa barusan?” tanya Yoga pada pria yang saat itu berhenti ditengah trotoar jalan.


“Lihat itu! gara-gara kau mengendarai sepeda motor bututmu itu, aku hampir saja kehilangan nyawa.”


“Kehilangan nyawa kata mu, tapi apa kau sudah patuh hukum, belum?” tanya Yoga seraya mengernyitkan alisnya.


“Ohooi! udah salah, nggak mau ngaku pula!” seru pria itu seraya melayangkan tamparannya kearah wajah Yoga.


“Ahaa! mau cari gara-gara, boleh juga! Kata Yoga seraya menyambut tangan pria itu dan memelintirnya kebelakang.”


“Aduuuh, sakit tau. Kurang ajar!” teriak pria itu, seraya mencoba melepaskan tangannya dari cengkraman Yoga yang begitu kuat.


Lalu disaat itu, beberapa orang datang melerai keduanya yang sedang berseteru, sehingga hal itu membuat keadaan jalan menjadi macet.


“Udah, udah! lihat tuh, gara-gara kalian bertengkar, semua kendaraan jadi antri, udah! bubar sana!” perintah seorang pemuda pada mereka berdua.


“Gara-gara dia tuh! aku hampir saja kehilangan nyawa.”


“Salahmu lah, kenapa kau menyeberang disini? kan diatas sana ada jembatan penyeberangan ! kau tau tujuannya apa? agar kau nggak mati konyol saat menyeberang. Lain kali kalau kau nggak tau cara menyeberang, kau panggil saja aku,” jawab Yoga sembari menyalakan sepeda motornya.


Saat sepeda motor itu sudah menyala dan berlalu dari mereka semua, tinggallah asap tebal yang mengepul di udara, yang menutupi semua yang ada disekitar tempat itu.


Ada yang menggelengkan kepala, dan ada juga yang terbatuk-batuk karena semprotan asapnya.


“Dasar nggak punya etika,” seru pria yang hampir diserempet itu.


Sementara itu, orang yang dimakinya sudah jauh meninggalkan dirinya. Sedangkan Yoga dia terus berlalu dengan kecepatan tinggi. Dan hanya hitung beberapa jam saja, tibalah Yoga dirumah sakit Yos Sudarso tempat Nayla dirawat.


Setelah memarkir sepeda motornya, Yoga langsung masuk kedalam, dan mencari keberadaan Yuda diruang tunggu. Benar saja, hanya beberapa langkah kemudian Yoga menemukan saudara kembarnya itu.


Tampak Nayla dirawat diruangan VIP, Yoga mencoba menoleh kedalam. Dikamar yang berukuran sempit itu, Yoga melihat Nayla terbaring tak berdaya. Wajahnya terlihat sangat pucat sekali.


Diruang tunggu, Yoga juga melihat Yuda sedang duduk sendiri, hatinya begitu terluka menyaksikan saudaranya termenung sedih, Yoga mengurungkan niatnya untuk masuk kedalam, dia pun pergi ke kedai yang ada disekitar rumah sakit itu, dan memesan kopi hangat dan makanan ringan lainnya.


“Hai, Yud!” sapanya dengan senyuman.


“Heh, kapan kamu nyampenya?”


“Barusan,” jawab Yoga singkat.


“Gimana kabarnya Mutia Yog?”


“Dia sekarang sudah mulai membaik kok, ada Mama dan Papanya yang merawatnya disana.”


“Ooo, semoga saja kekasihmu itu cepat sembuh ya Yog.”


“Amin, semoga begitu.”


Disaat mereka sedang berbincang-bincang, tiba-tiba seorang pria menghampirinya dengan membawa dua gelas kopi hangat dan sepiring roti basah.


“Kamu yang pesan, Yog?”


“iya,” jawab Yoga seraya menganggukkan kepalanya.


“Terimakasih ya dek,” ujar Yuda pada pria itu.


“Ya, sama-sama Bang,” jawab pria itu sembari meninggalkan mereka berdua.


“Gimana kabar istri mu, Yud?”


“Yaaa! gitulah Yog. Saat ini Nayla masih dalam masa pemulihan, untuk paska operasi. Lebih kurang seminggu yang lewat, Nayla hendak menjalani operasi, tapi tiba-tiba saja, kondisi fisiknya menurun, sehingga operasi gagal dilaksanakan.”

__ADS_1


“Udah tau siapa dokter yang akan menangani operasinya Yud?”


“Udah sih, tapi belum dihubungi.”


“Kenapa terlambat, nanti pas saat dibutuhkan ternyata dia tugas diluar kota, gimana?”


“Iya juga, Yog. Baiklah, besok akan kuhubungi dia.”


“Kenapa mesti besok Yud, kan nggak baik menunda-nundanya.”


“Baiklah, Yog, akan kuhubungi dia sekarang.”


Lalu Yuda merogoh kantong celananya, dan mengambil ponsel genggam yang ada didalam kantong itu. Yoga hanya memperhatikannya saja, sesekali dia melirik kedalam ruangan Nayla.


Seperti sakit separoh tubuh Yoga rasanya, saat melihat orang yang paling dia sayangi, terbaring tak berdaya.


Setelah nomor yang dihubungi Yuda tersambung, tampak cahaya kemerahan menyelimuti wajah Yuda, yang menandakan perasaan senang sedang menghiasi relung hatinya.


“Hallo! Assalamu’alaikum,” sapa Yuda seraya tersenyum.


“Wa’alaikum salam,” jawab seseorang didalam ponsel itu.


“Dengan dr. Rangga kan?”


“Benar, dengan siapa ini?”


“Aku, Yuda!”


“Ooo, Yuda! kamu apa kabar?”


“Baik Rangga, alhamdulillah, sehat selalu.”


“Ya, tentu.”


“Tentang apa itu Yud?”


“Tentang operasi istri ku, Nayla.”


“Ya ampun! jadi istrimu belum dioperasi, ya Yud?”


“Belum, dia hanya mau dioperasi hanya dengan kamu Rangga.”


“Lho, lho! kenapa harus ditunda-tunda Yud?”


“Seminggu yang lewat kami berencana untuk melaksanakan operasi pengangkatan kangker itu, tapi sayang, kondisi istriku kembali memburuk, sehingga operasinya ditunda.”


“Baiklah kalau begitu, besok aku akan kerumah sakit tempat kau bertugas.”


“Ya, kutunggu kedatangan mu.”


Seperti satu pendapat, Rangga dan Yuda saling berbagi pengalaman berdua, mereka bercerita dan bercengkerama lewat ponsel mereka masing-masing.


“Baiklah, Yud! besok kita lanjutkan kembali perbincangan kita.”


“Ya, baik.”


“Assalamu’alikum.”


“Wa’alaikum salam,” ujar Yuda sembari menyimpan telfon genggamnya.


“Gimana, Yud? kapan operasi istrimu dilaksanakan?”

__ADS_1


“Besok dr. Rangga akan datang, memeriksa kondisi Nayla dulu, kalau fisiknya sudah stabil, maka operasi akan segera dilaksanakan."


“Ooo, gitu ya.”


“Iya, Yog.”


Selama Nayla sakit, Yuda selalu andil dalam segala bidang, dia tak ingin sakit Nayla bertambah parah, hanya karena beban pikirannya yang menumpuk.


Selain bekerja, Yuda juga menyempatkan diri mengurus Andika yang tumbuh semakin besar, dia juga membersihkan rumah serta merawat tanaman bunga milik Nayla yang saat itu sedang bermekaran.


Seperti yang telah disepakati dengan dr. Rangga, pagi itu dia datang kerumah sakit tempat Yuda bertugas.


“Hei Bro!” sapa dr. Rangga pada dr. Yuda.


“Hei, gimana sehat kan?”


“Alhamdulillah, sehat.”


“Ayo, kita keruangan ku dulu,” ajak Yuda pada Rangga.


“Baiklah,” jawab Rangga seraya mengiringi Yuda dari belakang.


“Yog, tolong jaga Nayla sebentar,” ujar Yuda pada Yoga.


“Oh iya, baiklah!”


Kemudian Yuda pun meninggalkan Yoga sendirian diruang tunggu, yang saat itu sedang asik memainkan ponselnya. Setelah Yuda tampak menjauh, Yoga langsung masuk kedalam ruangan Nayla.


“Kau sudah datang, Bang?” tanya Nayla, yang membuat Yoga kaget.


“Nggak Nay, Abang datang dari kemarin pagi.”


“Kok Nay, Nggak lihat.”


“Abang hanya diluar saja, segan dengan Yuda.”


“Kenapa mesti segan! kan kita nggak ngapa-ngapain.”


“Maksud mu apa, Nay.”


“Nay, nggak bermaksud apa-apa kok,” jawab Nayla dengan suara sedikit serak.


“Gimana keadaanmu Nay?”


“Abang lihat sendirikan! Nay saat ini sedang sakit.”


“Ada apa dengan mu Nay, kenapa begitu ketus?” tanya Yoga seraya menggenggam jemari tangan Nayla yang lembut.


“Kau ingin Nay, bicara Bang?”


“Iya, bicaralah, kalau Nay ingin bicara.”


“Jadi gadis yang bernama Mutia itu, yang telah merusak hubungan kita, Bang.”


“Maksud mu, apa Nay?”


“Nggak usah berlagak lupa, Nay udah dengar sendiri dari gadis itu.”


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2