Dibalik Kesetiaan Nayla

Dibalik Kesetiaan Nayla
Part 38 Mutia mengalami kecelakaan


__ADS_3

“Jangan terlalu banyak mikir Pak Yoga!” tegur seorang guru seni budaya.


“Eh, Bu lesti.”


“Lagi mikirin apa sih, Pak?” tanya Lesti ingin tau.


“Lagi mikirin Mutia, udah tiga hari anak itu nggak sekolah, nggak ada kabar tentang keberadaannya.”


“Pak Yoga udah rindu ya?” tanya Lesti yang bertubuh tambun itu.


“Aah, Bu Lesti. Kamu tau aja, kalau orang lagi rindu,” ledek Bu Surya.


Karena semua pada meledeki dirinya, Yoga pun memutuskan untuk meninggalkan semua guru yang ada didalam kantor itu. Akan tetapi Bu Lesti, yang melihat pria incarannya pergi, hatinya menjadi sedih.


“Kalian siih! Suka cari gara-gara. Tuh lihat Pak Yoga nya jadi kabur, gagal dong rencana mau mepet dia.”


“Bu Lesti tenang aja, nanti untuk mepetin Pak Yoga nya, biar kami yang bantuin.”


“Kalau kalian yang bantuin, saya ogah!”


“Kenapa?” tanya para semua guru heran.


“Pokoknya ogah!”


“Iya, tapi kenapa lesti?”


“Pak Yoga itu kan orangnya ganteng, sedangkan kalian semua! kan pada cantik, nanti kalau Pak Yoga nya kesemsem, gimana?” kata Lesti terkulai tak berdaya.


“Aaaah, Lesti!” teriak semua guru seraya menghampiri, Bu Lesti.


“Canda kaliiii!”


“Aaaahh! Lesti!” teriak semua guru, kesal karena merasa dikerjain sama temannya sendiri


Lesti pun mereka pukuli hingga menjerit-jerit kesakitan.


“Udah-udah, jangan dipukulin terus, nanti aku bisa kurus tauu!” kata Lesti disaat semuanya berhenti memukulinya.


Mendengar bualan Lesti, yang seakan-akan menjebak mereka semua, para guru itupun kembali memukuli Lesti.


Dari luar tiba-tiba Yoga masuk, dan dia melihat Lesti dipukul beramai-ramai oleh semua guru.


“Heeee,heh! ada apa ini? kenapa Bu Lesti dipukulin gitu!” teriak Yoga seraya menghampiri Bu Lesti.


Lesti yang merasa dibela oleh pria idamannya, mencoba menghampiri Yoga dan memeluk tubuh pria itu erat-erat. Sementara guru yang lainnya terpana menyaksikan hal konyol itu.


“Agar kalian semua tau ya, kalau Bu Lesti kita pukulin terus, nanti dia bisa kurus, dan nggak ada yang bisa kita korbankan di lebaran haji bulan depan.”


Mendengar penjelasan dari Yoga, semuanya tampak bersorak riuh, Lesti yang merasa dibela oleh Yoga, akhirnya pergi keluar dengan wajah cemberut.


Suasanapun tampak hening seketika saat Lesti keluar kantor, semua mata seperti saling bertatap pandang, seolah-olah sedang memberi tanda diantara mereka.


“Kenapa?” tanya Yoga heran.


Tak seorangpun yang mau menanggapi pertanyaan yang diajukan Yoga pada mereka, disaat semuanya pada diam, lalu Bu Surya memberanikan diri buka mulut.


“Pak Yoga tau nggak, kalau Bu Lesti itu sangat mencintai Bapak!”


“Oops..! kata siapa? saya nggak melihat tuh dari gelagatnya dia,” jawab Yoga sembari mengernyitkan keningnya.

__ADS_1


“Itu semua, lantaran Bapak nggak memperhatikannya?”


“Kan Ibu tau sendiri, kalau saya sedang menjalin hubungan dengan Mutia, nggak mungkin kan, saya harus menduakannya dengan Bu Lesti.”


“Iya juga sih! tapi Bu Lestinya ngotot banget tuh!”


“Semestinya, Bu Lesti sedikit bijak dong, dia harus memikirkan perasaan Mutia juga kan.”


Mendengar jawaban dari Yoga, Bu Surya dan yang lainnya tampak terdiam, dan mereka


kembali kekursinya masing-masing. Suasana yang tadinya cair dan penuh gelak tawa, akhirnya berubah menegangkan.


Tampa bicara apa-apa lagi, Yoga langsung mengemasi buku panduannya dan keluar meninggalkan semua guru yang ada diruangan itu. Sementara itu diluar kantor, tampak Bu Lesti sedang duduk menyendiri.


Dengan pelan Yoga datang menghampirinya, dan menepuk pundak Lesti dari belakang, merasa seseorang menepuknya, Lesti langsung memalingkan wajahnya kearah Yoga.


“Ada apa? kenapa melamun sendirian?”


“Eh! Pak Yoga,” jawab Lesti seraya tersenyum manis.


“Ternyata susah, kalau kita memiliki wajah tampan ya.”


“Maksud Bapak apa?” tanya Lesti tak mengerti.


“Tuh! buktinya, setiap hari ada saja wanita cantik yang menggandrungi.”


“Lho, lho, lhoo! aku semakin nggak ngerti deh.”


“Di dalam, Bu Surya ngomong, katanya Lesti suka pada si ganteng ini,” ucap Yoga seraya menunjuk dirinya sendiri.


“Ah masa sih? Lesti nggak merasa kok!”


“Iya, itu kan, bisanya Bu Surya aja.”


“Ooo, baguslah kalau begitu, karena Lesti nggak suka, berarti aku bisa mencari perempuan lain.”


Mendengar, Yoga mau mencari perempuan lain, Lesti merasa menyesal dengan jawabannya itu. Ingin sekali dia memanggil Yoga, tapi takut kalau yang lain bisa tau isi hatinya.


Yoga yang merasa senang dengan jawaban Lesti, dia pun langsung melenggang meninggalkan si tubuh tambun itu.


“Alhamdulillah! syukur, syukur,” kata Yoga sembari sembunyi dibalik tembok sekolah.


Sementara Lesti duduk sendiri, Yoga terus saja menjauh darinya.


Di kantin sekolah, Yoga mencoba meminjam ponsel milik Ardi, guru biologi.


“Mau menelfon siapa Yog?” tanya Ardi ingin tau.


“Ponsel ku hilang, aku ingin menghubunginya, siapa tau ada yang mengangkat, jadi aku bisa melacak keberadaannya.”


“Ooo, bisa rupanya dilacak?”


“Bisalah, kalau yang memegangnya kekasih kita sendiri,” jawab Yoga bercanda.


“Ah! kamu ini, Yog!”


“Sory, sory! canda kali!”


“Ya udah, lima menit ya.”

__ADS_1


“Kalau lima menit, itu mah Cuma dapat nelpon Mamanya doang, lalu gimana untuk merayu putrinya!”


“Ya udah terserah kamulah Yog.”


“Gitu dong,” jawab Yoga sembari mengambil ponsel itu dari tangan Ardi.


Ketika handphone milik Yoga dihubungi, ternyata seseorang mengangkatnya, dan Yoga sangat kenal dengan suara yang ada handphone itu.


“Hallo, assalamu’alaikum!”


“Wa’alaikum salam.”


“Rika, ya?”


“Iya Bang, ini aku Rika, kenapa Abang nggak pernah datang? kak Mutia kan masuk rumah sakit.”


“Apa! Kak Mutia masuk rumah sakit?”


“Iya Bang, udah dua hari.”


“Astagfirullah, kenapa Rika nggak ngasih tau Abang sayang.”


“Gimana mau ngasih tau, tapi ponsel Abang sama kak Mutia!"


“O Iya, Abang lupa, jadi gimana kabarnya kak Mutia, saat ini Rika?”


“kata dokter, Kakak masih koma.”


“Koma? maksud mu apa Rika?”


“Kak Mutia jatuh dari tangga, Bang. Kepalanya terbentur dan banyak mengeluarkan darah, hidung dan telinganya, juga banyak mengeluarkan darah. Sampai saat ini, Kakak belum sadarkan diri.”


Mendengarkan penjelasan dari Rika, Yoga pun menangis, sungguh dia menyesal meninggalkan Mutia di restoran waktu itu.


Kemudian setelah Yoga mendapatkan informasi yang pasti, barulah berita itu disampaikan ke kepala sekolah.


“Kapan kejadiannya Pak yoga?”


“Dengar informasi dari adiknya, kejadiannya sudah dua hari yang lewat Pak.”


“Lalu kenapa baru hari ini, Bapak sampaikan informasinya kesekolah.”


“Saya juga baru mendapatkan informasi itu, Pak.”


“Ooo, Baiklah.”


“Kalau begitu, saya minta izin hari ini pak, saya ingin memastikan langsung kerumah sakit.”


“Baiklah, saya izinkan,” jawab Kepsek.


Dengan senang hati, Yoga berangkat kerumah sakit, untuk menjenguk Mutia. Gadis yang sangat dia cintai. Setibanya di pelataran rumah sakit, Yoga melihat banyak keluarga dan tamu hadir di ruangan rawat Mutia.


Dengan langkah tenang dan hati-hati, Yoga terus merangsak masuk, Yoga takut kalau Mutia melihat dirinya, Mutia langsung menyemburnya dengan kata-kata pedas.


Akan tetapi saat kaki Yoga memasuki Lorong rumah sakit, Yoga mendengar suara tangisan.


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2