Dibalik Kesetiaan Nayla

Dibalik Kesetiaan Nayla
Part 93 Kelembutan Yoga


__ADS_3

Melihat Siska menangis hati Yoga menjadi sedih, dengan lembut Yoga terus saja memijit kaki Siska yang terkilir.


Disaat itu, Siska merasakan kelembutan dihati Yoga pada dirinya, sentuhan jemarinya yang lembut membuat hati Siska benar-benar tergoda dibuatnya.


“Gimana udah ada ansuranya?”


“Ya, sedikit! tapi masih terasa begitu sakit sekali.


“Jadi gimana, jadi kita pergi hari ini?”


“Ayolah, kalau dihari lain, mungkin Siska nggak bisa, karena sibuk dirumah sakit.”


“Baiklah, ayo!” ujar Yoga seraya membantu Siska berdiri.


Setelah sepeda motor itu menyala, Yoga membantu Siska naik ke atasnya. Yoga juga menaruh kedua tangan Siska dipinggangnya. Awalnya, Siska menolak untuk melakukan itu, tapi karena Yoga menariknya, Siska pun mengikuti kemauan Yoga.


“Peluklah aku, kalau nggak ingin mati konyol,” ujar Yoga memberi tau Siska yang berada dibelakangnya.


Setelah Siska memeluk tubuhnya, tercium aroma sangat wangi dari tubuh Yoga. Sepertinya Yoga menggunakan parfum berkelas yang dapat membuat Siska melayang ke angkasa.


Sehingga tampa diperintah lagi, Siska langsung memeluk tubuh Yoga dengan pelukan yang sangat lembut. Yoga yang merasa dipeluk oleh Siska hanya tersenyum manis.


Merasa Siska aman berada dibelakangnya, maka sepeda motor itupun langsung melaju di jalanan dengan kecepatan penuh. Siska yang merasa takut karena Yoga mengendarai sepeda motornya dengan kencang, memeluk Yoga lebih erat lagi.


“Kalau kamu takut, rebahkan kepalamu dipundak ku!” Kata Yoga memberi perintah.


Mendengar arahan Yoga, Siska langsung melaksanakan perintah tersebut, dan sepeda motor pun melaju dengan tenang, mesti demikian, suara raungannya dapat memekakkan telinga.


Setelah sekian lama berkendaraan, maka tibalah mereka berdua di desa Sekar, tempat Siska disiksa oleh sekawanan penjahat malam itu.


“Ini kan, tempatnya Sis?” tanya Yoga setelah mereka tiba di tempat yang dituju.


Siska pun langsung turun dari sepeda motor yang dinaikinya, dia menoleh kearah kanan dan kiri, melihat tempat dimana dia disekap malam itu.


“Siska kok jadi nggak ingat ya Yog. Soalnya malam itu sangat gelap, ditambah lagi mereka melakban mata dan mulut Siska, jadi saat Siska membukanya, Siska seperti orang yang sedang linglung waktu itu.”


“Jadi kamu nggak ingat apa-apa ya, sayang.”


“Gimana kalau kita agak kedepan sana sedikit, Yog! siapa tau Siska dapat mengingat sesuatu.”


“Baiklah, ayo naik lagi,” ajak Yoga sembari melajukan sepeda motornya seraya melihat-lihat disekitar tempat dia disekap waktu itu.


“Gimana sayang, apa kau ingat sesuatu?”


Mendengar kata-kata sayang yang selalu diucapkan Yoga pada dirinya, Siska merasa semakin akrab saja dengan Yoga. Melebihi kedekatannya pada Rangga selama ini. Apa lagi tutur kata Yoga sangat lembut, membuat hati Siska seperti hanyut dibuatnya.


“Hei, hallo!”


“Eh, ah! kamu ini Yog, ngagetin tau!”

__ADS_1


“Habis! kamu kelihatannya kayak orang kebingungan, mau ku cium lagi rencananya, tapi takut.”


“katanya tadi Siska disuruh ngingetin! jadi, jangan keburu-buru dong.”


“Ooo, baiklah,” jawab Yoga seraya menunggu diam diatas sepeda motornya.


Karena tak juga ingat apa-apa, Yoga terpaksa membawa Siska mengelilingi desa itu, sebenarnya banyak pasang mata yang memandangi mereka saat itu. Tapi Yoga terlihat sedikit acuh, sehingga tak ada orang yang berani menegurnya.


Karena terlalu lama berfikir dan terlalu lama mengelilingi desa itu, perut merekapun terasa lapar, Yoga melihat Siska sedikit lesu sore itu.


-


“Kamu lapar Sayang?” tanya Yoga pada Siska.


“Sepertinya begitu,” jawab Siska dengan rasa malu.


Kemudian Yoga mengajak Siska makan bakso dipinggiran jalan desa itu. Sambil menikmati bakso pesanannya, Siska pun mengingat sesuatu.


“O iya, Yog! kayaknya Siska ingat sesuatu deh.”


“Ingat apa?”


“Malam itu sepertinya, rambut dan wajah Siska penuh dengan arang pembakaran, sehingga ibu pemilik rumah yang menampung Siska malam itu. Menyarankan Siska untuk mencuci muka Siska dengan menggunakan sabun, agar semua arang itu hilang dari wajah Siska.”


“Kalau begitu, berarti Siska diculik di rumah yang ada pembakarannya.”


“Iya, Siska merasakan hawa panas ditempat itu.”


“Ya, ada apa nak?”


“Di desa ini, rumah yang ada pembakarannya dimana ya, pak?”


“Maksud kamu, rumah yang ada dapurnya.”


“Iya, yang ada dapurnya,” jawab Yoga tak mengerti.


“Kalau rumah yang ada dapurnya mah, itu sangat banyak nak, hampir setiap rumah malah,” jawab Pedagang bakso tersebut.


Mendengar penjelasan dari pedagang bakso itu, Yoga jadi memutar otaknya, dan pendapat kedua pun kemudian muncul dari kepalanya.


“kalau tempat pembakarannya besar dan bisa masuk seseorang kedalamnya, apa di desa ini ada pak?”


“Ooo! kalau itu, namanya tempat pembakaran batu bata.”


“Ya, itu dia yang saya maksud, Pak!”


“kalau itu sih ada, tapi tempatnya agak sedikit jauh dari sini?”


“Butuh berapa jam ke sananya, Pak?”

__ADS_1


“Nggak butuh berjam-jam nak, hanya lima belas menit saja.”


“Ooo, baiklah.Kalau begitu terimakasih ya, pak.”


“Tapi apa kamu tau kemana arahnya?”


“Nggak!”


“Arahnya kesebelah kanan sana, nak.”


“Ooo, baiklah,” jawab Yoga secara terburu-buru.


Setelah mendapat informasi yang pas, Yoga langsung meluncur kearah tempat penyekapan yang mereka lakukan pada Siska dimalam itu.


Siska pun tak banyak komentar, dia hanya mengikuti apa yang dikerjakan Yoga, walau rasa letih telah mendera sekujur tubuhnya, namun Siska tetap diam.


“Benar disini tempatnya, Sayang?"


“Sepertinya benar, Yog.”


“Ayo kita masuk kedalam!” ajak Yoga seraya menggandeng tangan Siska.


“Tapi Siska takut, Yog! Siska nggak berani, gimana kalau nanti ada orang yang menangkap kita berdua disana?”


“Aduh, sayang! kok kamu seperti anak ABG aja, takut ketangkap segala lagi.”


“Siska serius, Yog!”


“Nanti kalau kita ketangkap, aku yang akan menikahi kamu!”


“Nggak, kamu pasti bohong!”


“Kok bohong, sih!”


“Kan kayak gitu laki-laki kalau bicara, sulit untuk dipercaya.”


Yoga yang melihat Siska tak mempercayai dirinya, dengan cepat menarik tangan Siska untuk masuk kedalam.”


“Aduh! sakit tau!” teriak Siska sembari melepaskan tangannya dari genggaman Yoga.


Baru saja dia masuk kedalam, tiba-tiba saja hujan turun begitu deras, angin kencang berhembus mengusik ketenangan hati Siska. Ditambah lagi kilat yang menyambar dan suara petir yang menggelegar membuat Siska hanya terduduk pasrah diatas tumpukan tanah.


Yoga yang melihat Siska ketakutan, dia langsung menghampiri Siska dan memeluk tubuh Siska untuk bersembunyi didalam dekapannya yang begitu hangat. Akan tetapi disaat hal itu dilakukan Yoga, Siska mencoba untuk menolak dengan mendorong tubuh Yoga kebelakang.


Yoga yang menerima hal yang tak enak itu, dia tak langsung marah pada Siska, dia begitu paham sekali, karena tak semua orang yang bisa diperlakukan seperti itu.


Namun Yoga tak tega melihat Siska gemetaran karena kedinginan, dia berusaha mencari apa pun yang bisa memanaskan tubuh Siska. Akan tetapi, Yoga tak membawa korek api untuk menyalakan api.


Lalu Yoga mencoba menarik paksa tubuh Siska hingga dia terjatuh dalam pelukan Yoga, Siska pun meronta karena malu. Akan tetapi, Yoga tetap menahan tubuh Siska agar dia tetap hangat dalam dekapan yang lembut.

__ADS_1


Bersambung...


*Selamat membaca*


__ADS_2