Dibalik Kesetiaan Nayla

Dibalik Kesetiaan Nayla
Part 32 Bertamasya


__ADS_3

“Apa, tamasya?” tanya Nayla tak percaya.


“Iya, sayang. Kita pergi tamasya, kemana saja yang Nayla suka ”


“Abang serius?” lanjut Nayla belum percaya.


“Iya, sayang. Abang serius, kenapa Nay nggak percaya sih?”


“Gimana Nay, percaya Bang! kalau setiap hari Abang selalu sibuk dan nggak punya waktu buat kami berdua.”


“Mulai hari ini, Abang janji akan membagi waktu Abang untuk kalian berdua.”


“Nah, yang kayak gitu, baru Nay suka !” jawab Nayla seraya memeluk tubuh Yuda semakin erat.


“Nah, sekarang Abang mau tanya, kita tamasya dimana? kali ini semuanya Abang serahkan sama Nay.”


“Di butik, Nay punya pelanggan, dia sangat baik sekali, katanya dia berasal dari Pasaman.”


“O ya!”


“Kakak itu bernama Tika, dia juga mengajak Nay untuk main kerumahnya, kalau Nay nanti berkunjung ke Pasaman.”


“Apa Nay tau, teman Nay itu tinggalnya dimana?”


“Kata Kak Tika, dia tinggal di daerah Sasak.”


“Kalau Abang perkirakan untuk kesana, kita butuh waktu lima jam lebih. Sekarang Abang mau tanya sama Nay, apa Nay sanggup berjalan jauh?”


“Nay sanggup, Bang,” jawab Nayla bersemangat.


“Serius?”


“Iya, Bang. Nay serius,” jawab Nayla menyakini dirinya.


"Baiklah, kalau Nay merasa sanggup menempuh perjalanan jauh, kita akan berangkat.”


“Oh, terimakasih sayang,” jawab Nayla begitu senangnya.


Melihat istrinya begitu senang, Yuda langsung memeluk tubuh Nayla dengan lembut. Hatinya terasa begitu bersemangat ketika melihat senyum kebahagiaan diwajah istrinya.


Setelah kesepakatan mereka dapatkan, Yuda pun mulai mempersiapkan segala sesuatunya. Yuda juga membawa tenda untuk berkemah, karena berkemah di tepi pantai pasti sangat menyenangkan.


“Nah sekarang semua sudah siap ! kita hanya tinggal berangkat!” seru Yuda dengan senyum manis di bibirnya.


Andika yang merasa akan diajak pergi tamasya, dia langsung melompat dan berlari kian kemari kegirangan.


“Sekarang Andika mandi dulu, biar kita segera berangkat,” kata Yuda pada anaknya.


“Ok, Pa. Horeee, aku senang! kita main bersama!” seru Andika kegirangan.


melihat semangat Andika yang luar biasa itu, Yuda dan Nayla hanya bisa tersenyum geli. Karena semuanya merasa senang, lalu Yuda mempersiapkan peralatan untuk pergi tamasya.


Arena yang dituju saat itu sangat jauh sekali, Yuda butuh waktu lima jam untuk sampai ditempat tujuan, tapi demi kesenangan keluarganya, Yuda pun langsung mengambil cuti.


“Kita berangkat, sayang?” tanya Yuda pada Nayla.

__ADS_1


“Iya Bang, kata teman Nay, disana ada sebuah pantai yang cukup indah.


“Di Pasaman, ada pantai, pantai apa itu?” tanya Yuda ingin tau.


“Nay kurang tau, nanti biar Nay tanyakan pada teman Nay itu!”


“Baiklah, kalau begitu kita berangkat sekarang.”


“Abang nggak tau ya? pantai itu sangat indah sekali.”


“Kata siapa?” Tanya Yuda ingin tau.


“ Kata teman Nay!”


“Ooo, kalau gitu, Nay berarti belum tau dong?”


“Abang, Nay jadi malu deh!”


“Canda kali!” jawab Yuda seraya mencolek hidung istrinya yang mancung.


Karena merasa diperhatikan suaminya, Nayla pun tampak begitu manja sekali. Hati Yuda sangat senang melihat istri dan anaknya bahagia.


“Kalau aku tau dari dulu hal ini akan membuat mereka bahagia, pasti sudah aku lakukan sedari dulu.” kata Yuda pada dirinya sendiri.


Sambil memutar lagu-lagu dangdut, mobilpun melaju dengan kecepatan sedang, tampak Nayla tersenyum-senyum sendiri, dan sesekali diapun mengiringi lagu itu dengan suara kecil.


“Suaramu sangat merdu Nay.”


“Ah Abang, bisanya hanya muji aja.”


Tak terasa hampir setengah hari perjalanan mereka tempuh, Yuda melihat Nayla dan Andika tertidur dengan pulas sekali. Lalu mobilpun berhenti disebuah rumah makan.


“Kita makan dulu Nay, perut Abang terasa lapar sekali,” kata Yuda seraya membangunkan istrinya.


“Abang aja yang makan, Nay masih ngantuk,” jawab Nayla sembari melanjutkan tidurnya.


Lalu Yuda memasuki rumah makan itu sendiri, terasa begitu canggung makan sendiri, diapun kembali kemobil, dan mengajak istrinya makan bersama.


“Ayolah Nay, Abang malas makan sendiri.”


“Tapi Nay masih ngantuk bang.”


“Tidurnya nanti aja dilanjutkan,” paksa Yuda.


“Baiklah! biar Nay temani Abang makan.”


Lalu Nayla turun dari mobil dengan bermalas-malasan. Yuda pun menggandeng tangan istrinya memasuki rumah makan itu.


Sementara kebahagian sedang melanda rumah tangga Nayla, Yoga pun tampak begitu bahagia bersama Mutia, kekasih yang dicintainya.


Dengan santai Yoga mengendarai sepeda motornya itu, diantara hiruk pikuk kota.


Suara derunya memekakkan telinga, membuyarkan lamunan orang yang sedang berkhayal, asap tebal mengepul diantara pengendara yang lain.


Terlihat ada Mutia yang tampak duduk santai berboncengan di belakang, kedua tangannya yang halus dan lembut, melingkar di pinggang Yoga yang ramping.

__ADS_1


“Kita mau kemana, Bang?” tanya Mutia ingin tau.


“Lihat aja nanti,” jawab Yoga singkat.


Mendengar perkataan Yoga, Mutia pun diam saja, walau dalam hati kecilnya dia ingin tau, namun dia tak mau dianggap banyak komentar.


Setelah menempuh perjalanan selama satu jam, sampailah Yoga ditempat yang dia tuju. Sebuah restauran yang cukup bergengsi. Yoga pun memarkir sepeda motornya dan dia turun seraya menggandeng tangan Mutia.


Gadis cantik itu tampak begitu malu, saat semua orang memandangi wajahnya.


Seraya menunduk, Mutia terus saja menggantungkan tangannya pada tangan Yoga.


Lalu Yoga duduk disudut ruangan, yang bisa melepaskan pandangan mata kemana saja yang disukainya.


“Gimana sayang, kamu menyukainya?” tanya Yoga pada Mutia.


Dengan malu Mutia pun menganggukkan kepalanya, senyum manisnya menyeruak diantara giginya berbaris putih.


Yoga memandanginya, dengan penuh kebahagiaan, serasa lengkap segala yang dia impikan selama ini.


“Kamu pesan apa sayang?” tanya Yoga pada Mutia.


“Terserah Abang aja,” jawab Mutia pelan.


“Nanti, Mutia nggak suka dengan selera Abang?”


“Aku pasti suka,” tegas Mutia seraya tersenyum.


“Baiklah,” jawab Yoga seraya memesan menu yang ada direstoran itu.


Sedang asik menikmati hidangan yang ada di restauran itu, tiba-tiba saja, Yoga merogoh kantong celananya, dan mengeluarkan sebuah bingkisan kecil.


“Nah, ini untukmu sayang!” kata Yoga seraya menyerahkannya pada Mutia.


“Apa ini Bang?” tanya Mutia saat menerima bingkisan itu dari tangan Yoga.


“Bukalah, nanti kamu akan tau, apa isinya.”


Seraya membuka bungkusan itu, Yoga menggeser tempat duduknya kesamping Mutia, lalu dia memeluk tubuh Mutia, ditengah keramaian restauran.


“Apa-apaan ini Bang!” kata Mutia seraya mengelak malu.


“Selamat ulang tahun, buat gadis yang sangat Abang cintai!” kata Yoga seraya memeluk Mutia dan mengecup kening gadis yang dicintainya.


Merasakan kejadian yang tidak disangka-sangka itu, air mata Mutia mengalir tak terasa, dia pun langsung membalas pelukan Yoga dengan begitu mesra.


“Terimakasih sayang,” bisik Mutia ditelinga Yoga.


Bisikan kata-kata mesra itu, terasa menyeruak, didalam hatinya yang paling dalam,membuat bulu roma merinding.


menghentikan jantung yang sedang berdetak, mengalihkan darah yang sedang mengalir.hingga terasa mendidih di kepala.


Bersambung...


*selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2