
Suara rintihan itu terdengar begitu jelas, sehingga Yoga memalingkan wajahnya kekiri dan kekanan, untuk memastikan dari mana suara itu berasal.
Tapi setelah diselidiki, Yoga tak menemukan apa-apa, bahkan Yoga kesasar disebuah ruangan kosong.
Merasa aneh dengan kejadian yang baru dihadapinya, Yoga pun kembali ketempat asal suara itu didengarnya. Lalu dari tempat yang semakin dekat, Yoga melihat banyak dokter diruangan ACU rumah sakit.
“Ada apa pak?” tanya Yoga pada salah seorang pria yang berada ditempat itu.
“Gadis itu, sedang meregang nyawa, kasihan sekali dia,” jawab Pria itu dengan tenang.
Sebenarnya, Yoga bingung dengan kata Bapak itu, tapi Yoga merasa penasaran dan dia terus mencoba masuk untuk melihat lebih dekat lagi pada kerumunan itu.
Lalu diantara kerumunan itu, Yoga melihat Yuni dan Rika sedang menangis tersedu-sedu. Dan Yoga mencoba menghampiri keduanya.
“Rika, ada apa?” tanya Yoga heran.
Mendengar Namanya dipanggil, Rika langsung menoleh kearah datangnya suara itu.
“Bang Yoga!” kata Rika seraya memeluk tubuh Yoga.
“Ada apa sayang, kenapa menangis?”
“Kakak, Bang. Kakak!”
“Kenapa dengan kakak?”
“Lihatlah kedalam,” jawab Rika dengan suara lirih.
Mendengar perkataan Rika, Yoga langsung berdiri, dan menoleh kedalam, hatinya yang tadi merasa takut bertemu dengan Mutia, langsung berubah drastis. Melihat Mutia mengalami kejang dan kesakitan.
“Oh tidak, Mutia!” jerit Yoga, seraya mencoba memaksa masuk, dan mendorong pintu dari luar. Akan tetapi petugas rumah sakit itu melarangnya.
“Sabar Bang, dokter sedang berusaha menanganinya.
“Tapi dia butuh aku saat ini.”
“Abang ini siapa ya?”
" Aku kekasihnya.”
“Kekasih Abang, sedang ditangani dokter, sebaiknya Abang berdo’a saja, biar dia selamat."
‘Oh, baiklah,” jawab Yoga mengalah.
Melihat Yoga mencoba berusaha untuk masuk kedalam, Pak Ramon yang melihat hal itu, langsung berlari menghalangi Yoga dan memegang pundaknya.
“Nak Yoga, kamu yang sabar, tahan dirimu, ini rumah sakit nak,” kata Pak Ramon sembari menasehati.
__ADS_1
“Ada apa dengan Mutia Pa?”
“Dia jatuh dari tangga, sekarang dia dalam keadaan kritis.”
“Apa selama tiga hari ini, Mutia juga dalam keadaan kritis, Pa?”
“Nggak, Nak! dalam tiga hari ini, Mutia mengalami koma, tapi sekarang, oh! Papa begitu takut sekali,” sembari menangis Pak Ramon berusaha untuk tetap tegar dan kuat.
“Papa yang sabar, sebaiknya kita berdo’a, semoga, Mutia segera disadarkan kembali oleh Allah.”
“Iya nak, Sakit sekali rasanya!” kata Pak Ramon seraya menepuk-nepuk dadanya.
Sementara itu, di sudut ruangan tampak Bu Sukesih, beserta Fatimah dan Ara sedang duduk lesu. Lalu Yoga menghampiri ketiganya.
“Sayang, ayo ikut Abang!” ajak Yoga pada kedua putri Bu Sukesih itu.
Melihat kedatangan Yoga, Sukesih langsung memeluk tubuh Yoga dan menangis tersedu-sedu, dipundaknya.
“Mama yang sabar, semua ini sudah menjadi suratan Mutia, kita hanya bisa mendo’akan, agar Mutia cepat sadar.”
“Iya Nak, Mama begitu takut sekali,” rintih Sukesih dengan deraian air matanya.
Seraya menarik nahas Panjang, Yoga duduk diantara kedua putri Sukesih, lalu Yoga memeluk Ara yang masih kecil, gadis mungil itu tampak diam saja. Yoga melihat keempat anak-anak itu, turut merasakan takut yang teramat sangat.
“Sayang, kamu mau beli jajan?”
“Ayo, kita cari makanan dulu,” ajak Yoga pada keempat adik Mutia itu.
Dengan lembut dan penuh kasih sayang, Yoga membawa mereka semua pergi ke kantin untuk sarapan dan makan. Tampak Ara dan Fatimah makan begitu lahapnya.
“Ara mau nambah lagi sayang?” tanya Yoga seraya membersihkan makanan Ara yang berserakan dilantai.
“Nggak, Ara udah kenyang, Bang.”
“Gimana kalau yang lain, apa kalian mau nambah lagi?”
“Nggak Bang, kami udah kenyang,” jawab Rika mewakili ketiga adiknya.”
Karena keempatnya sudah merasa kenyang, lalu Yoga memesan tiga bungkus nasi untuk Pak Ramon dan Sukesih. Setelah nasi selesai dibungkus, Yoga langsung mengantarkannya kedalam.
Tampa harus bertanya, Yoga langsung mengajak keempatnya bermain di taman, karena di taman bermain, bisa membuat pikiran mereka menjadi tenang dan tidak tegang.
Dengan duduk santai, Yoga mengawasi keempatnya di taman bermain. Tak begitu lama kemudian, Bi Ijah datang, dan membawa keempatnya pulang kerumah.
“Den, Bibi mau bawa anak-anak pulang dulu.”
“Ooo, silahkan Bi, tapi Bibi udah makan?” tanya Yoga ingin tau.
__ADS_1
“Belum Den, biar Bibi makannya nanti dirumah aja.”
“Emangnya dirumah Bibi udah masak?"
“Belum Den, ini Bibi baru mau pulang untuk masak.”
“Kelamaan itu, Bi! sebaiknya Bibi makan dulu baru pulang, ini ada sedikit uang, belilah nasi untuk kalian berdua, ntar kalau bibi dan pak sopir sakit, lalu siapa yang akan mengurus anak-anak.” Kata Yoga seraya memberikan uang seratus ribuan pada Bi Khodijah.
“Baik Den, terima kasih,” jawab Khodijah sembari mengambil uang yang diberikan Yoga padanya.
Malam itu, Yoga tidak pulang kerumah dinasnya, dia lebih memilih menjaga Mutia dirumah sakit, disamping tubuh kekasihnya itu, Yoga selalu melantunkan ayat-ayat suci Al Qur’an, serta berdoa dekat dengan telinga Mutia.
“Papa dan Mama, pulanglah kerumah, Mutia biar aku yang jaga.”
“Tapi kamu besok kan mengajar, nak?” kata Pak Ramon.
“Aku udah mengambil cuti satu minggu, jadi Papa dan Mama nggak usah khawatir.”
“Ooo, baiklah,” Pak Ramon pun langsung berdiri dan mengemasi pakaiannya.
“Nanti aku akan mengabari perkembangan Mutia lewat telfon.”
“Kamu, benar-benar mau menjaga Mutia Nak?”
“Benar, Ma. Aku nggak apa-apa kok, Mama istirahatlah dirumah.”
“Baiklah, Papa dan Mama pulang dulu.”
“Iya,” jawab Yoga dengan singkat.
Lalu keduanya pun pergi meninggalkan Yoga, begitu juga dengan yang lainnya, mereka pun telah membubarkan diri. Tak ada lagi keluarga dan tetangga yang berada disana saat itu, selain Mutia dan Yoga.
Suasana rumah sakit tampak begitu hening dan mencekam, dengan langkah pelan, Yoga menghampiri kekasihnya itu, di rambut Mutia Yoga masih melihat bercak darah yang sudah mengering.
“Oh ! Maafkan Abang sayang, kalau seandainya Abang nggak egois, pasti bukan seperti ini kejadiannya,” kata Yoga seraya mengecup kening Mutia.
Dengan rasa cinta dan kasih sayang, Yoga pun membersihkan tubuh Mutia dengan pelan, satu persatu anggota tubuh Mutia dibersihkan dengan menggunakan air hangat.
Tubuh itu di bersihinnya hingga tak ada lagi bau darah dan amis.
Pagi hari ketika selesai sholat subuh, Yoga kembali membersihkan tubuh Mutia, dia membersihkannya dengan bersholawat kepada Nabi. Walau terasa begitu menyakitkan melihat kekasihnya seperti mayat hidup, tapi Yoga tetap merawatnya dengan lembut.
Bukan hanya itu saja yang dilakukan Yoga pada Mutia, Yoga juga memijat, tubuh Mutia dengan lembut, agar urat tubuh itu tetap rileks dan tidak tegang.
Hingga, bila Mutia sadar nanti, dia tidak sulit untuk menggerakkan anggota tubuhnya. Begitu lembut dan perhatiannya Yoga pada gadis pujaannya itu, sehingga dia lupa pada Nayla yang pernah mengisi hatinya.
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*