
“Aku nggak apa-apa, kok Yog, pergilah hadiri undangan yang telah kau sepakati, kalau tidak, nanti keluarga Mutia akan kecewa pada mu.”
“Tapi malam udah larut, Yud ! untuk kesana aku butuh waktu dua jam, dan berarti aku tiba disana pukul sebelas, mustahil mereka menanti ku hingga selarut itu.”
“kenapa kau nggak memberi alasan mu untuk itu Yog.”
“Aku segan pada Papa nya Mutia.”
“Sini henfon mu,” pinta Yuda pada Yoga.
Dengan senang hati, Yoga menyerahkan ponselnya ke tangan Yuda. Lalu Yuda mengutak atik henfon itu, dan dia pun menghubungi seseorang.
“Halo, assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam, Bang Yoga!”
“Dengan siapa ini?”
“Aku Bang, Mutia!”
“Ini Bang Yuda, Tia. Bang Yoga sedang tidur, kami berdua sedang dirumah sakit, karena kak Nayla sedang menjalani operasi. Jadi kami berdua menjaganya secara bergantian.
“Ooo, gitu ya. Tapi Kak Nayla nya sakit apa sih,Bang?”
“Kak Nayla mengidap penyakit kangker Tia, dan dia baru menjalani operasi pengangkatan nya.”
“Operasinya berhasilkan, Bang?”
“Alhamdulillah, operasinya berhasil Tia, tapi kak Nayla nya belum sadarkan diri, kata dokter besok pagi baru siuman.”
“Waaah, kalau begitu, Tia ikut do’a, agar kak Nayla segera pulih dari sakitnya ya, Bang.”
“Amin! semoga do’a, Tia dikabulkan oleh Allah.”
“Insya Allah, Bang. Insya Allah.”
“Terimakasih Do’a nya ya, Tia.”
“Iya sama-sama, Bang ! Nanti kalau kak Nayla nya udah bangun, sampaikan kirim salam ku untuknya ya Bang.”
“Iya ! nanti biar Abang sampaikan.”
“Ya udah, assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam.”
Saat Yuda mengucapkan salam, mata Yoga langsung menoleh kearah Yuda, hatinya sedikit lega, saat Yuda mengabari keberadaannya saat itu pada Mutia.
Akan tetapi, lain halnya dengan Mutia, Alfa nya Yoga dihari pertama memenuhi undangan orang tuanya, merupakan pertanda tak baik untuk hari-hari berikutnya.
“Gimana sayang, apa Yoga datang?” tanya Sukesih penasaran.
“Nggak Ma, dia sudah berkhianat.”
“Maksudmu apa sih sayang, Mama jadi nggak mengerti?”
“Bang Yoga lebih memilih menemani saudara kembarnya dirumah sakit, dari pada harus memenuhi undangan kekasihnya.”
“Rumah sakit? siapa yang sakit, sayang?” tanya Pak Ramon ingin tau.”
“Istri Bang Yuda, Nayla Namanya, saat ini dia menderita penyakit kangker, dan sedang menjalani operasi pengangkatan kangker itu.”
__ADS_1
“Lalu, Yoga ada bersama saudaranya itu?”
“Iya, Pa!”
“Berarti, Yoga menemani saudara kembarnya itu, dalam menjaga istrinya dirumah sakit.”
“Iya, Pa!”
“Bagus itu, Papa sangat suka dengan pria yang cepat tanggap dan berbudi tulus, serta ikhlas dalam berbuat.”
“Lalu gimana dengan makanan sebanyak ini, Pa?” tanya Rika ingin tau.
“Ya kita makan!”
“Sebanyak ini? apa Papa nggak salah.”
“kalau kalian mau, gimana kalau makanan ini kita bagikan saja ke panti yang ada diseberang sana, pasti bagi mereka sangat bermanfaat sekali.”
“Mau Pa, mau! ayo kita hantarkan kesana malam ini juga.”
“Baiklah, kalian bersiap-siap dulu, nanti biar sopir yang akan mengantar kita kesana."
“Baik, Pa,” jawab mereka semua serentak.
Melihat ketulusan hati Papanya, kelima anak-anak itu, ikut bersemangat untuk mengantarkan makanan itu ke panti asuhan, yang terletak tak begitu jauh dari rumah Mutia.
Sehingga malam yang begitu mengecewakan, berubah menjadi yang paling bahagia.
Karena sepulang mengantar makanan itu, Pak Ramon mengajak keluarganya makan direstoran.
Padahal selama anak-anaknya tumbuh menjadi gadis dewasa, pak Ramon tak sekali pun pernah mengajak keluarganya makan direstoran mewah seperti saat itu.
Seraya menikmati makan malam bersama, mereka semua tampak begitu senang dan bahagia.
“Bukan hanya untuk kali ini saja sayang, tapi untuk seterusnya, setiap dihari libur, Papa akan mengajak kalian semua makan enak direstoran, dan jalan-jalan kemana yang kalian mau, gimana! kalian suka?”
“Horeee! aku suka! aku suka!” seru Fatimah kegirangan.
“Aku juga senang mendengarnya,” jawab Rika dengan raut wajah yang kurang menyenangkan.
“Kamu kenapa sayang? kok bonyok gitu wajahnya?” tanya Sukesih pada Rika.
“Aku kesal, Ma!”
“Kesal kenapa?”
“Tuh! Bang Yoga, udah ditungguin! bela-belain kita semua berdandan cantik, eh, nggak taunya dia nggak datang.”
Mendengar komentar dari Rika semuanya jadi terheran-heran, pandangan mata mereka semua mengisyaratkan tanda tanya.
“Lho, lho! Mama kok jadi heran, yang punya kekasih siapa? yang marah juga siapa?”
“Mama jangan ngeledek gitu dong!”
“Kenapa emangnya, sayang.”
“Aku sakit hati tau.”
“Eee! ini perlu diluruskan, Pa! kalau nggak bisa gawat atuh.”
“Bukan hanya Mama aja kali yang heran, Papa juga heran?” tanya Pak Ramon semakin tak mengerti.
__ADS_1
“Heran apanya sih,Pa?”
“Ya, heran! sebenarnya Bang Yoga ini, pacarnya siapa sih? Mutia atau Rika?”
“Kalau secara garis besarnya sih, Bang Yoga itu memang milik kak Mutia, tapi kan kita belum tau, kalau nanti Rika udah dewasa.”
“Ya ampun! Adek kakak yang paling cantik ini, ternyata suka ya, sama Bang Yoga.”
“Belum tau juga sih!” jawab Rika sedikit bertahan dengan keangkuhan nya.
Mendengar jawaban Rika itu, semuanya jadi tertawa kesenangan, akan tetapi Rika justru marah pada mereka semua, karena Rika menganggap keluarganya telah melecehkan dirinya.
“Huuuh! Gerutunya kesal.
Disaat Rika marah, Mutia memandangi wajah Rika yang penuh dendam pada mereka semua. Hati Mutia merasa heran dengan sikap Rika yang terlihat aneh itu."
“Hmm, diam-diam! ternyata Rika menyukai Bang Yoga!” kata Mutia pada dirinya sendiri.
Akan tetapi hal itu, tidak diungkapkan Mutia pada Papa dan Mamanya. Mutia hanya mencoba untuk menasehatinya saja.
“Rika, kamu itu kan masih kecil sayang! kamu belum boleh bicara masaalah laki-laki dalam keluarga kita,” kata Mutia menasehati Rika dengan lembut.
“Kakak takut ya, kalau Rika bisa menjadi saingan kakak nanti!” jawab Rika dengan polos.
Mendengar jawaban dari Rika, Mutia bukannya marah dia justru tersenyum menanggapinya.
“Ayo kita lanjuti makannya, nanti keburu malam lhoh!” ajak Mutia,menengahi pembicaraan mereka semua.
“Mutia benar, tuh. Dia kan belum boleh kena angin malam," timpal Sukesih.
“kalau begitu baiklah, ayo segera habiskan makanan kalian, biar kita segera pulang,” ajak Pak Ramon pada kelima orang putrinya.
“Tapi, nanti kita masih makan disini lagi kan, Pa?” kata Fatimah pada Pak Ramon.
Mendengar pertanyaan dari putrinya, hati Pak Ramon sedikit tersentuh, batinnya terasa terpukul sekali, untuk apa punya harta yang banyak kalau selama ini, putrinya tak pernah bahagia.
Seraya menarik nafas Panjang, Pak Ramon terhenyak di bangku tepat duduknya. Betapa meruginya dia yang selama ini selalu sibuk dengan pekerjaan sehingga melalaikan keluarganya.
“Sayang, mulai hari ini, Papa janji pada kalian semua, untuk selalu mengajak kalian kemana saja yang kalian inginkan.”
“Benar itu, Pa?”
“Iya, itu benar!” potong Rika dengan wajah suram.
Semuanya pun menoleh kearah Rika yang bicara seakan-akan berlagak acuh tak acuh.
Melihat Rika bersikap seperti itu, Sukesih langsung memarahinya.
“Rika, kau itu masih kecil, Nak! jangan pernah bersikap seolah-olah kau itu sudah dewasa, Mama nggak suka dengan sikap mu itu. Kau dengar, apa kata Mama?”
“Iya, Ma,” jawab Rika cuek. Akan tetapi dia langsung berlari menuju mobil, yang membuktikan kalau Rika tak menerima sama sekali apa yang dikatakan Sukesih padanya.
“Udahlah, Ma! malu dilihat orang.”
“Mama kesal deh, melihat sikapnya, Pa.”
“Papa tau itu, Ma! tapi ingat, kita dalam masa bergembira, jadi jangan terlalu dibawa serius.”
“Baik, Pa,” jawab Sukesih seraya menggendong Ara dan membawanya kemobil.
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*